Sukses

Waspadai Dampak Asma yang Tidak Terkontrol

Penyakit asma tidak hanya mengganggu sistem pernapasan, namun asma yang tidak terkontrol juga bisa berdampak lain pada penderitanya.

Klikdokter.com, Jakarta Penyebab kematian Eril Dardak di usia yang sangat muda, 21 tahun, masih belum dipastikan dan diumumkan secara resmi oleh keluarga. Namun berbagai sumber menyebutkan bahwa adik Wakil Gubernur Jawa Timur Terpilih, Emil Dardak diketahui memiliki riwayat asma. Saat pihak kepolisian melakukan olah TKP, polisi menemukan plastik yang menutupi wajah Eril Dardak, meski tidak dalam keadaan tertutup rapat. Penyakit asma memang tidak bisa disepelekan. Jika tidak terkontrol, asma dapat berbahaya.

Asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara permanen, tapi dapat dikontrol dengan tata laksana yang tepat. Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) saluran pernapasan. Asma sangat terkait dengan alergi, yang dapat memperparah asma. Selain dengan obat-obatan, sangat penting untuk mengetahui penyebab kekambuhan asma. Misalnya debu, bulu binatang, polusi, asap rokok, udara dingin, stres, dan aktivitas fisik berlebihan. 

Jika tidak terkontrol, asma dapat menyebabkan berbagai dampak berikut.

  • Aktivitas sehari-hari terganggu

Penderita asma sering kali mengalami serangan asma saat malam hari. Jika hal ini terjadi terus-menerus (semisal Anda terus terpapar dengan pencetus asma), maka dapat menyebabkan kualitas tidur menurun. Anda pun akan mengantuk di siang hari sehingga dapat berdampak pada performa Anda di kantor, kampus, ataupun sekolah. Selain itu dapat berbahaya apabila pekerjaan Anda adalah mengoperasikan alat berat atau mengemudi.

  • Meningkatkan risiko obesitas

Pada beberapa penderita asma, sering kali serangan asma dicetuskan saat berolahraga. Aktivitas olahraga intensitas tinggi dengan durasi yang lama seperti bermain sepak bola, futsal, lari maraton, basket, termasuk juga olahraga musim dingin seperti ice skating atau hoki, bisa mencetuskan serangan asma. Akibatnya, penderita asma jadi takut untuk berolahraga.

Namun kurangnya aktivitas fisik malah justru bisa meningkatkan risiko obesitas dan meningkatkan risiko penyakit lainnya, seperti penyakit jantung. Jika Anda menderita asma, Anda bisa memilih olahraga jalan santai, yoga, golf, atau berenang sebagai alternatif.

  • Gangguan cemas dan stres

Penderita asma yang sering mengalami serangan asma, atau asma yang tidak terkontrol dapat  mengakibatkan penderitanya mengalami stres karena penyakitnya. Tentu saja stres ini dapat memperburuk situasi dan semakin sulit untuk mengobati asma. Selain itu, stres dan gangguan cemas yang tidak ditangani bisa berujung pada depresi bahkan percobaan bunuh diri.

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

PPOK terjadi ketika saluran udara dan kantong udara di paru-paru menjadi meradang atau rusak. Pada PPOK, terjadi kerusakan permanen di paru-paru dan saluran napas. Asma yang tidak terdiagnosis atau tidak tertangani dengan obat-obatan dapat meningkatkan risiko terjadinya PPOK.

Pada penderita PPOK, paru-paru menghasilkan lendir berlebih, yang kemudian tubuh akan secara refleks mencoba untuk membersihkannya dengan batuk. Gejala lainnya berupa sesak napas, napas cepat dan pendek, mudah lelah dengan aktivitas biasa. Gejala-gejala ini akan semakin bertambah parah seiring progresivitas penyakit.

  • Kematian

Pada serangan asma yang parah dapat menyebabkan gagal napas. Saluran napas dapat menutup sepenuhnya dan pengobatan tidak lagi dapat berpengaruh. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera tertangani.

Untuk itu penting bagi penderita asma agar mengetahui serta menghindari faktor-faktor pencetus serangan. Penderita asma juga harus membawa obat-obatan yang biasa digunakan saat bepergian ke mana pun agar tidak terjadi dampak asma yang tidak terkontrol di atas.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar