Sukses

Agar Anak Tak Latah Belanja di Harbolnas 12.12

Momen Harbolnas 12.12 banyak dinantikan, terutama para pecinta belanja online. Berikut ini cara agar anak tidak latah ikutan “lapar mata”.

Klikdokter.com, Jakarta Hari Belanja Online Nasional atau disingkat Harbolnas kembali diadakan hari ini, Rabu (12/12). Hari yang kini akrab disebut sebagai Harbolnas 12.12 ini menghadirkan banyak diskon jika Anda belanja online. Akan tetapi, Anda harus tetap waspada agar anak Anda – terutama remaja – tak latah terpancing berbelanja hal-hal yang tidak dibutuhkan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kini semua serba mudah, termasuk dengan berbelanja yang bisa dilakukan dengan sekali tekan. Sambil duduk atau minum kopi, barang yang Anda inginkan bisa langsung didapatkan.

Harga-harga produk dari berbagai e-commerce juga semakin bersaing dengan adanya Harbolnas. Diskon yang gila-gilaan pun sangat diminati banyak orang, tak terkecuali anak Anda yang sudah berada di usia remaja.

Anak masa kini cenderung mengikuti tren dimana mereka berbelanja menggunakan ponsel atau laptop. Coba perhatikan, mungkin saja anak Anda juga mulai keranjingan berbelanja dari toko virtual. Tak jadi masalah jika memang anak Anda memerlukannya.

Akan tetapi, jika mereka belanja hanya untuk ikut-ikutan momen Harbolnas dan membeli barang yang tidak diperlukan, kebiasaan tersebut tentunya tidak baik jika dibiarkan. Apalagi, jika hal tersebut tanpa sepengetahuan Anda sebagai orang tua.

Hal ini sebenarnya bisa dicegah, apalagi anak-anak belum memiliki penghasilan sendiri dan belum tahu memilah antara keinginan dan kebutuhan, yang ujung-ujungnya hanya ikut-ikutan tren saja.

Cegah anak latah berbelanja saat Harbolnas

Menurut dr. Bambang Hady dari KlikDokter, agar anak-anak tidak latah ikut-ikutan momen Harbolnas, orang tua harus mengingatkan, agar nantinya mereka tidak tumbuh menjadi generasi yang konsumtif.

"Pertama, harus ada yang mengingatkan supaya anak-anak tidak ikut-ikutan momen ini secara sembarangan. Selain itu, tanamkan pada anak-anak untuk tidak menggunakan kata ‘mumpung’ yang akan menjadi pembenaran," ujar pria yang akrab disapa dr. Bambang ini.

Selain itu, dr. Bambang mengungkapkan bahwa orang tua juga harus mengingatkan pada anak untuk tidak mengabaikan rasa sesal. Misalnya saja anak Anda belanja di Harbolnas dan menyesal telah membelinya karena tidak terlalu butuh.

Hal-hal tersebut sebenarnya bisa Anda gunakan sebagai pengingat agar anak mengerem keinginannya untuk belanja online, terutama untuk barang-barang yang tidak dibutuhkan.

Dengan menanamkan hal tersebut, berikutnya anak-anak akan memperingatkan diri mereka sendiri agar tak latah bila ada diskon besar-besaran. Ingatkan pada anak untuk membicarakan kepada orang tua tentang apa yang ingin mereka beli dan jangan asal belanja sendiri.

Tanamkan bahwa berbelanja bersama orang tua akan lebih aman, dan tentunya barang yang diperoleh juga berkualitas. Dengan demikian, anak Anda akan selalu mengajak Anda saat menginginkan suatu barang.

Setidaknya, walaupun di kemudian hari ia berbelanja di toko virtual, ia akan terbiasa meminta pendapat kepada Anda mengenai barang yang akan dibelinya. Biasakan pola asuh ini sejak anak mulai mengenal belanja online, agar anak terhindar dari bahaya yang mungkin terjadi, misalnya penipuan.

1 dari 2 halaman

Bahaya sering belanja online sejak masih anak-anak

Anak yang sering belanja online dikhawatirkan akan tumbuh sebagai pribadi yang konsumtif. Oleh sebab itu, sejak masih anak-anak harus diajarkan sikap bertanggung jawab untuk setiap keputusan apa yang mereka ambil.

Sebab menjadi pribadi yang konsumtif atau terobesi dengan belanja adalah hal yang buruk. Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, itu bisa jadi pertanda Compulsive Buying Disorder (CBD).

"Orang yang terobsesi belanja bisa jadi mengalami Compulsive Buying Disorder (CBD), yaitu perilaku belanja berlebihan yang dapat menyebabkan stres atau gangguan mental," ujar wanita yang sehari-harinya dipanggil dr. Nadia ini.

Sementara itu, menurut jurnal World Psychiatry, CBD hampir sama dengan perilaku ketergantungan tertentu, seperti berjudi, makan berlebihan, dan narkoba. Akan tetapi, penelitian lain juga menyebutkan kalau CBD berkaitan dengan gangguan mental Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). 

Tidak seperti ketergantungan lainnya, yang pada umumnya terjadi pada saat remaja, CBD lebih sering terjadi wanita terutama di usia 30 tahunan, dimana seseorang sudah memiliki keuangan yang stabil dan mandiri. Biasanya tanda–tandanya antara lain:

  • Belanja secara impulsif. Selain belanja berlebihan secara impulsif, mereka juga biasanya menutupi kebiasaan tersebut. Bahkan banyak belanjaannya yang belum dibuka dari kardusnya.
  • Perasaan euforia saat membeli barang belanjaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perasaan bahagia bukan karena memiliki barang tersebut, tapi karena menikmati proses membelinya.
  • Belanja untuk menutupi emosi yang tidak menyenangkan. Orang-orang yang menderita CBD biasanya berbelanja untuk menutupi perasaan kesepian, kesal, atau kurang percaya diri.
  • Muncul perasaan bersalah setelah berbelanja. Hal ini merupakan tanda yang mungkin sering terjadi, tetapi Anda tak menyadarinya. Rasa bersalah ini muncul ketika menyadari bahwa barang yang telah dibeli ternyata tak bisa digunakan atau tak dibutuhkan.

Harbolnas 12.12 yang diadakan tepat hari ini memang menyita perhatian dan menggoda untuk diikuti. Nah, jangan-jangan anak Anda pun mengikuti tren berbelanja ini. Tapi hati-hati, agar anak Anda tak terjebak dalam budaya konsumtif, ajarkan agar ia lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Berbelanja boleh saja, namun tetap dalam sepengetahuan Anda dan terapkan cara-cara di atas untuk menghindari anak tumbuh dengan gangguan mental CBD.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar