Sukses

Terobsesi Belanja di Harbolnas 12.12, Tanda Gangguan Mental?

Memanfaatkan Harbolnas 12.12 sebagai waktu memborong belanjaan diduga sebagai pertanda dari gangguan mental. Apa kata medis?

Klikdokter.com, Jakarta Hari ini, 12 Desember (12/12), merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pasalnya, tanggal ini diperingati sebagai Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas 12.12. Itu berarti, banyak sekali potongan harga dan berbagai promo yang sangat menggoda. Euforia belanja online di Harbolnas rupanya tidak hanya mengundang respons positif, tetapi juga respons negatif. Sebab, tak sedikit orang yang mengatakan bahwa keinginan belanja yang menggebu-gebu di Harbolnas adalah pertanda dari gangguan mental.

Apa kata medis?

Menurut dr. Bambang Hady dari KlikDokter, pada dasarnya setiap orang memang memiliki kecenderungan untuk menggemari sesuatu secara berlebihan alias obsesi, termasuk soal belanja. Umumnya, orang yang hobi belanja menganggap bahwa berbelanja online merupakan kegiatan menyenangkan yang dapat memuaskan hasrat pribadinya. Hal ini tentu bisa membuatnya ketagihan sehingga sulit untuk mengontrol kebiasaan tersebut.

“Sulit untuk menghentikan keinginan, itulah yang sebenarnya bisa menjadi masalah dan memicu gangguan mental. Yang perlu ditekankan di sini adalah tidak berarti semua orang yang berbelanja saat Harbolnas mengalami gangguan mental,” jelas dr. Bambang.

Pasalnya, lanjut dr. Bambang, banyak juga konsumen yang memang memanfaatkan potongan harga saat Harbolnas sebagai momen yang tepat untuk membeli barang yang dibutuhkan.

“Ketika sedang tidak membutuhkan sesuatu, tidak ada promo ataupun diskon yang besar, orang biasanya tidak akan terlalu sering membuka situs belanja online. Itu karena mereka tidak menjadikan belanja sebagai kegiatan pemuas hasrat,” kata dr. Bambang.

“Sedangkan orang yang  sudah terobsesi belanja alias berisiko tinggi terkena gangguan mental, secara konsisten akan membeli banyak barang meskipun sedang tidak butuh atau tak ada promo menarik. Karena belanja sudah dijadikan pemuas hasrat olehnya.” tambahnya.

Obsesi belanja bisa terjadi akibat adanya masalah

Sementara itu, menurut dr. Nadia Oktavia dari KlikDokter, salah satu gangguan mental yang berkaitan dengan obsesi belanja adalah compulsive buying disorder (CBD). Berdasarkan World Psychiatry, CBD kerap terjadi secara bersamaan dengan gangguan mental lain, seperti depresi, gangguan kecemasan (anxiety), serta gangguan makan.

“Dan biasanya, compulsive buying disorder sering terjadi pada wanita usia 30 tahunan, dimana seseorang sudah memiliki keuangan yang lebih stabil dan mandiri,” jelas dr. Nadia.

Jika Anda merasa berada pada kondisi CBD dan ingin segera terbebas, dr. Nadia mengatakan bahwa Anda harus mencari tahu terlebih dahulu pemicunya.

“Misalnya saja, apakah kebiasaan tersebut disebabkan oleh adanya konflik keluarga dan pasangan ataupun sekadar rasa kesepian,” jelas dr. Nadia.

Dengan kata lain, untuk mengatasi kecanduan belanja, Anda perlu mencari tahu terlebih dahulu akar masalahnya dan berusaha menyelesaikan hal tersebut. Jika sudah, barulah Anda bisa mengatur cara untuk menahan keinginan Anda untuk berbelanja online.

Beberapa cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  • Pertimbangkan dahulu sebelum membeli. Apakah barang tersebut memang Anda butuhkan atau sekadar memenuhi keinginan? Jika barang yang sudah diklik hanya yang diinginkan, sebaiknya tak usah dibeli.
  • Mintalah seseorang yang tegas dan dipercaya untuk menahan jika keinginan belanja Anda mulai tak terkontrol.
  • Untuk sementara waktu, copot mobile banking dan semua aplikasi e-commerce di telepon gengam Anda sampai keadaan sudah kembali “normal” dan akar permasalahan sudah terselesaikan,
  • Bila perlu, titipkan debit atau kartu kredit kepada orang yang dipercaya supaya Anda tidak terburu-buru melakukan pembayaran.
  • Jika keinginan belanja sudah sangat tidak bisa dikontrol, sebaiknya mintalah bantuan kepada psikolog atau psikiater untuk mengembalikan pikiran rasional dan menekan hasrat belanja pada diri Anda.

Kesimpulannya, berpartisipasi dalam hebohnya Harbolnas 12.12 memang bisa meninggikan risiko gangguan mental compulsive buying disorder (CBD). Hal ini khususnya pada seseorang yang sebelumnya memang sudah keseringan belanja, tak peduli di mana pun, kapan pun, serta tingkat kebutuhannya.

Meski demikian, tidak semua orang yang berbelanja di Harbolnas 12.12 berpotensi terkena gangguan mental. Sebab, banyak juga yang hanya membeli apa yang dibutuhkan di kesempatan menarik itu dan tidak menjadikannya ajang pemuas hasrat semata. Jadi, Anda masih boleh berbelanja, asalkan tidak berlebihan, ya!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar