Sukses

Anak Mengorok, Haruskah Orang Tua Khawatir?

Tak hanya orang dewasa, anak pun bisa mengorok. Kenali keluhan-keluhan seputar anak mengorok yang perlu diwaspadai orang tua.

Klikdokter.com, Jakarta Mengorok atau mendengkur biasanya dialami oleh orang dewasa. Namun, saat ini sekitar 7 sampai 10 persen anak mengorok setiap malam saat tertidur. Mengorok memang tak selalu disebabkan oleh sesuatu yang serius. Akan tetapi, Anda perlu waspada bila keluhan ini menetap. Ada baiknya pula Anda mengenali keluhan-keluhan seputar anak mengorok yang perlu diwaspadai.

Penyebab anak mengorok

Secara umum, anak yang mengorok dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni yang sesekali saja dengan frekuensi mengorok kurang dari 3 kali per minggu (occasional snoring) dan yang tergolong sering dengan frekuensi mengorok 3 kali per minggu atau lebih (habitual snoring).

Mengorok yang terjadi sesekali umumnya disebabkan oleh fase tidur dalam atau batuk pilek yang sifatnya sewaktu-waktu dan ringan. Mengorok yang seperti ini akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan membaiknya kondisi tubuh.

Sebaliknya, mengorok yang sering dan cenderung menetap menandakan adanya sumbatan saluran napas, yang bisa terjadi karena berbagai penyebab. Kumpulan gejala akibat adanya sumbatan pada saluran napas ini disebut sebagai obstructive sleep apnea syndrome (OSAS).

Pada OSAS, sumbatan saluran napas dapat menyebabkan anak kekurangan oksigen hingga  mengalami henti napas saat tidur. Obesitas biasanya menjadi faktor risiko utama terjadinya OSAS pada orang dewasa. Namun pada anak, penyebab utamanya adalah pembesaran amandel di belakang tenggorok atau kelenjar adenoid yang terletak di dinding belakang hidung.

Di samping itu, adanya alergi dan penyakit yang berhubungan seperti rinitis alergi, asma, dan sinusitis juga dilaporkan berhubungan dengan OSAS pada anak.

1 dari 2 halaman

Waspadai keluhan penyerta

Anak yang sering mengorok biasanya menunjukkan keluhan penyerta lain. Ini yang perlu Anda amati. Sedikit banyak keluhan ini memberikan kunci apakah penyebab anak mengorok perlu dievaluasi lebih lanjut.

Umumnya, anak tak mampu tidur nyenyak di malam hari. Anak kerap terbangun kala tidur. Sebagai konsekuensi, di siang hari anak akan mengantuk. Sementara itu, anak yang bersekolah kerap dilaporkan sering tertidur di dalam kelas atau sulit menangkap mata pelajaran tertentu. Lebih lanjut lagi, anak dapat mengalami gangguan kognitif dan penurunan prestasi belajar. Kadang-kadang, ditemukan pula adanya perubahan perilaku seperti menjadi hiperaktif atau mudah marah.

Pada anak balita, dampak negatif mengorok bisa berupa gagal tumbuh dan gangguan perkembangan. Selain itu, berat badan anak sulit naik atau bahkan menurun serta perkembangan terlambat atau tidak sesuai usia.

Bagaimana penanganannya?

Penanganan anak mengorok tentu berdasarkan penyebab utamanya. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah adanya pembesaran amandel atau kelenjar adenoid. Kalau ini penyebabnya, diperlukan operasi pengangkatan agar tak lagi menyumbat saluran napas. Adanya penyakit penyerta seperti asma, rinitis alergi, sinusitis maupun obesitas juga harus dikelola agar anak tak lagi mengorok.

Pada dasarnya, waspadalah bila anak mengorok selama tiga malam atau lebih per minggu, saat sedang tidak mengalami batuk pilek atau radang tenggorokan. Amati pula apakah anak berhenti mengorok saat posisi tidur berubah, apakah ada henti napas, apakah tumbuh kembangnya sesuai usia. Selain itu, cek juga apakah terjadi gangguan belajar atau perubahan perilaku pada anak yang lebih besar. Bila Anda menjawab “ya” pada salah satunya, sebaiknya kunjungi dokter anak untuk dievaluasi.

Anda juga tak boleh menunda kunjungan dokter apabila anak sudah menunjukkan gejala sumbatan saluran napas seperti gelagapan (napas terengah-engah) atau mendengus kala anak mengorok. Semakin cepat masalah mengorok pada anak ini ditangani, risiko gangguan tumbuh kembang dan belajar dapat dihindari.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar