Sukses

Melihat Tren Mukbang dari Kacamata Medis

Suka nonton mukbang di YouTube dan ingin menirunya? Sebaiknya Anda pikir-pikir lagi!

Klikdokter.com, Jakarta Bagi sebagian orang, makan tak hanya kebutuhan primer tetapi juga gaya hidup, bahkan 'pekerjaan'. Seperti halnya para food vlogger Korea Selatan yang mempopulerkan tren mukbang. Mukbang merupakan tayangan orang makan dalam porsi jumbo. Pada tahun 2019, pemerintah Korea Selatan rencananya akan membatasi siaran mukbang atas alasan kesehatan masyarakat.

Hal itu dikarenakan obesitas di negara Korea Selatan terus meningkat secara cepat. Pemerintah Korea menyebutkan bahwa naiknya obesitas ini salah satunya bisa berasal dari tren mukbang. Mukbang dianggap membuat masyarakat yang menonton menerapkan gaya hidup yang tidak sehat, yaitu makan dalam jumlah banyak dan malas untuk bergerak.

Menanggapi rencana pemerintah, banyak pelakon mukbang yang merasa keberatan dan menganggap bahwa aturan yang nanti diterapkan tidak akan berpengaruh terhadap tingkat obesitas negara.

Kim Jungbum, seorang bintang mukbang YouTube berusia 16 yang memiliki 320.000 subscriber, mengatakan kepada Telegraph, “Teman-teman saya mengatakan bahwa mereka melihat acara makan saya karena mereka bisa makan makanan tersebut lewat saya, sehingga memuaskan keinginan mereka untuk makan ketika sedang diet.” Ia melanjutkan bahwa setiap orang punya kapasitas yang berbeda soal makanan, dan harus mengontrol sendiri kesehatan mereka.

Risiko obesitas hingga gangguan makan

Ketika sang host melakukan mukbang, sering kali makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang tinggi kalori dan lemak trans seperti junk food. Sebut saja kentang goreng, hamburger, nugget, ayam goreng, ramen, dan sebagainya. Terlebih lagi, mereka biasa menyantap itu semua dalam porsi jumbo untuk lima orang bahkan lebih!

Selain itu, makanan cepat saji juga tinggi akan kandungan lemak jenuh dan tinggi sodium. Jika dikonsumsi berlebihan, jenis makanan seperti itu dapat meningkatkan risiko obesitas yang berujung pada peningkatan risiko diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

Tak hanya membuat seseorang berpotensi mengalami gangguan makan (yakni makan berlebihan), tren mukbang juga dapat membuat orang yang menonton berisiko terkena gangguan makan bulimia.

Trik yang paling sering dilakukan oleh orang dengan bulimia adalah membuat dirinya muntah secara sengaja, seperti memasukkan jari-jemari ke dalam mulut atau menggunakan pencahar. Umumnya, orang dengan bulimia takut berat badannya meningkat meski sebenarnya ia sudah dalam rentang ideal. Mengingat siaran mukbang senantiasa menampilkan host bertubuh ideal walau makan dalam jumlah yang sangat banyak, tentunya ini turut andil dalam meningkatkan risiko bulimia.

Selain makan dalam porsi yang sangat banyak, host mukbang juga biasanya menayangkan kegiatan makan tersebut dalam waktu yang lama (bahkan sering kali berjam-jam). Hal ini dapat membuat orang yang menonton pun akan menjadi malas bergerak dan duduk terus-menerus dalam jangka waktu lama. Padahal, aktivitas fisik yang rutin minimal 30 menit setiap harinya atau 2-3 kali seminggu sangat penting untuk menghindarkan dari risiko obesitas dan penyakit lainnya.

Kendati menonton mukbang dipandang sebagai suatu kegiatan yang menghibur, tapi pertimbangkanlah secara bijak sebelum mengikuti tren tersebut. Sebab dari kacamata medis, melakukan mukbang justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan Anda. Alih-alih mengikuti tren mukbang untuk tujuan kesenangan, malah bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar