Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Ibu Hamil Jatuh Terduduk, Apa Risikonya?

Kejadian ibu hamil jatuh terduduk kadang tak bisa dihindari. Apakah peristiwa ini berbahaya, khususnya bagi janin di dalam kandungannya?

Klikdokter.com, Jakarta Seorang ibu hamil sangat dianjurkan untuk membatasi aktivitas, dan menghindari berbagai hal-hal berat atau berisiko. Itu bukan sekadar untuk membatasi ruang geraknya, melainkan demi menghindari rasa lelah dan stres berlebih, juga mencegah risiko jatuh, termasuk kemungkinan ibu hamil jatuh terduduk.

Bicara soal jatuh pada ibu hamil, Anda mungkin berpikir bahwa posisi jatuh yang paling berbahaya adalah telungkup. Sebab, tekanan keras langsung mengenai perut yang merupakan tempat janin atau bayi berada sehingga bisa memicu keguguran. Di sisi lain, ada pula yang mengatakan bahwa jatuh dalam posisi duduk juga berbahaya. Lantas, benarkah jatuh terduduk justru lebih berbahaya ketimbang jatuh dalam posisi lainnya?

Ibu hamil jatuh, apa risikonya?

Menurut dr. Dewi Rahmita Sari dari KlikDokter, pada dasarnya, apa pun posisi terjatuh pada ibu hamil, asalkan itu terjatuhnya keras, semuanya berisiko menimbulkan bahaya. Namun, ketika si ibu jatuh dalam posisi terduduk, ia lebih berisiko mengalami kerusakan saraf tulang belakang atau tulang ekor.

“Sebenarnya, semua jatuh atau cedera yang dialami ibu hamil dapat menimbulkan risiko. Tapi jatuh dengan posisi menahan perut itulah yang paling berbahaya (perut langsung menerima tekanan atau beban). Sedangkan, jatuh terduduk lebih kepada permasalahan tulang belakang atau tulang ekor. Nah, kalau sudah mengenai tulang ekor, baik itu ibu hamil atau bukan, berpotensi menimbulkan gangguan saraf,” jelas dr. Dewi.

Lebih lanjut, dr. Dewi mengatakan bahwa saraf yang rusak akibat ibu hamil jatuh terduduk akan menimbulkan masalah, salah satunya berupa kesulitan berjalan. Keadaan itu tentu sangat merugikan, karena gangguan saraf dan nyeri tulang belakang akan membuat ibu hamil semakin sulit beraktivitas.

Lantas, apakah tiap terjatuh ibu hamil perlu langsung memeriksakan kondisinya ke rumah sakit? Menurut dr. Dewi, sebaiknya ibu hamil menilai sendiri terlebih dulu apakah benturan yang diterimanya keras atau tidak, dan sakit sekali atau tidak.

“Bila benturan yang diterima terlalu keras, langsung periksakan kondisi ke dokter. Bila ibu hamil terjatuh, tetapi mendarat di alas yang empuk, ibu hamil bisa menjalani observasi terlebih dulu di rumah selama satu sampai dua hari,” katanya.

“Kalau pergerakan janin terlalu signifikan lalu timbul flek, ibu hamil berisiko terkena abortus (keguguran). Tapi kalau jalur lahir tidak sampai membuka, dokter hanya akan menyuruh si ibu untuk beristirahat penuh di rumah. Sedangkan, bila pergerakan janin dan flek telanjur sampai ke proses pembukaan, dokter akan menyarankan si ibu untuk dirawat di rumah sakit karena takut ada kelahiran prematur. Apalagi jika usia kandungannya di bawah empat bulan, ada kemungkinan dokter melakukan tindakan kuretase (operasi rahim),” tambah dr. Dewi, menekankan secara lebih detail.

Pertolongan pada ibu hamil yang terjatuh

Saat ibu hamil terjatuh, biasanya ototnya akan lebih tegang dan terasa nyeri. Oleh sebab itu, pertolongan pertama yang bisa diberikan adalah dengan mengompres bagian yang sakit dengan air hangat. Selain itu, pasien juga dapat mengonsumsi obat-obatan antinyeri.

“Tetapi sebisa mungkin obat antinyeri yang dipakai adalah yang dioles, bukan yang diminum. Bila ingin mengonsumsi obat antinyeri oral (diminum), sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter” tutur dr. Dewi.

Mengetahui adanya fakta ini, ibu hamil dianjurkan untuk selalu waspada dan berhati-hati. Pastikan untuk selalu menjaga diri agar kejadian ibu hamil jatuh terduduk atau hal-hal buruk lainya bisa dihindari. Apabila kesulitan atau menemui kendala saat beraktivitas, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain. Dengan demikian, risiko jatuh atau yang lainnya bisa dihindari.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar