Sukses

Kepengurusan Baru PB IDI Siap Sambut Tantangan Era Digital 4.0

Dengan pelantikan pengurus baru, PB IDI siap menjawab berbagai tantangan zaman, salah satunya tantangan Era Digital 4.0.

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai satu-satunya organisasi profesi bagi dokter di Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melantik sekitar 250 pengurus baru PB (Pengurus Besar) IDI periode 2018-2021, pada Sabtu (8/12) di Jakarta. Selain pelantikan PB IDI, dilakukan juga pengesahan terhadap PB Ikatan Istri Dokter Indonesia periode 2018-2021. Acara tersebut mengusung tema Menjawab Tantangan Kedokteran di Era Digital 4.0.

Menurut dr. Daeng Mohammad Faqih, SH, MH yang dilantik menjadi Ketua IDI 2018-2021 dalam sambutannya menjelaskan, “Perkembangan zaman ini sedemikian rupa, cepat, tidak menentu. Semua pihak mengalami ambigu untuk menentukan sikap, apakah di pihak pemerintah maupun pihak di luar pemerintah, mauun pihak kita sebagai salah satu pelaku pelayanan kesehatan.”

Namun, bagi dr. Daeng, kunci untuk mengatasi hal itu melakukan komunikasi dan kolaborasi. “Kalau tidak, sebesar apa pun kemampuan dan pontesi kita, akan runtuh ditelan perubahan zaman yang sekarang.”

Tantangan Era Digital 4.0

Sementara itu, seturut perkembangan zaman, dunia kedokteran rupanya memiliki tantangan 4.0 baru berupa artificial intelligence yang dapat menggantikan fungsi dari pelayanan tenaga medis.

“Seperti yang disampaikan Bapak Presiden, yakni tantangan di Era 4.0. Kita tahu di dunia sekarang bisa menciptakan alat-alat yang namanya artificial intelligence (kecerdasan buatan). Ini adalah teknologi fungsi luhur manusia. Dia bisa meng-collect data, kemudian menganalisis, dan memberikan kesimpulan. Bahkan memberikan rekomendasi, seperti saran dan obat,” kata dia.

Menghadapi hal ini, dr. Daeng menegaskan bahwa IDI tidak boleh ketinggalan. “Jadi, pertanyaannya sekarang, apakah perkembangan yang seperti ini kita tinggalkan atau dikuasai? Kalau ditinggalkan, rasanya kita akan tergilas dengan hal ini. Tapi kalau kita kuasai, maka perkembangan ini bisa kendalikan bersama-sama.”

Dia menambahkan, “Oleh karena itu, PB IDI sangat menyambut anjuran Bapak  Presiden Jokowi, bagaimana kita menyambut tantangan era 4.0. Beberapa profesor muda juga sudah banyak yang menyinggung hal ini. Mohon pendapat, masukan, bagaimana PB IDI menghadapi perubahan yang sedemikian cepat ini.”

Sinergi dengan Pemerintah dan Stakeholder

Pada kesempatan yang sama, dr. Daeng berharap kerja sama dan sinergi yang baik antara pemerintah (dalam hal ini Kementerian Kesehatan), BPJS, dan organisasi profesi. “Mudah-mudahan kawan-kawan di Kementerian Kesehatan, dan BPJS menyambut apa yang akan kami lakukan. Pak Jokowi mendambakan agar segitiga emas, yakni Kemenkes, BPJS, dan profesi menjadi tiga pilar untuk pembangunan pelayanan kesehatan ke depan, terutama untuk sistem JKN.”

“Kami yakin kalau tiga pihak ini membahas segala sesuatu secara bersama-sama saya pikir apa masalah yang ada sekarang cepat teratasi dengan baik dengan cara kekeluargaan,” dia menjelaskan.

Menyambut hal tersebut, Oscar Primadi - Sekjen Kementerian Kesehatan yang membacakan kata sambutan Menteri Kesehatan - menjelaskan, “Pelayanan kesehatan di era JKN menjadi lebih terstruktur dan berkembang.”

Oscar Primadi juga mengamini bahwa dokter yang profesional sangat berperan besar untuk menyukseskan program JKN. “Di sini peran dokter sebagai agen perubahan pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan. Dokter di bawah Pembinaan dan Pengawasan IDI diharapkan memiliki komitmen dan kompetensi sebelum pasien dirujuk ke pelayanan kesehatan ke tingkat berikutnya.”

PB IDI dengan kepengurusan baru ini siap menjawab tantangan zaman Era Digital 4.0. Beragam inovasi juga telah disiapkan agar IDI tetap dapat melayani masyarakat secara optimal sekaligus tetap berjalan beriringan dengan teknologi kedokteran terbaru.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar