Sukses

Stroke Bisa Sebabkan Parkinsonisme Vaskular?

Ternyata stroke dan parkinsonisme vaskular memiliki kaitan yang sangat erat. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Klikdokter.com, Jakarta Parkinsonisme merupakan sebuah kumpulan gejala yang ditandai dengan adanya tangan gemetar (tremor) saat istirahat, kesulitan bergerak, kekakuan, dan ketidakstabilan postur tubuh. Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Bila penyebabnya tidak diketahui, sebutannya adalah penyakit Parkinson. Namun, ketika stroke mengawali terjadinya gejala-gejala tersebut, kondisi ini disebut dengan parkinsonisme vaskular.

Parkinsonisme vaskular terjadi akibat kelainan pembuluh darah di otak. Kondisi ini terjadi akibat adanya plak aterosklerosis yang menyumbat pembuluh darah di otak sehingga bisa terjadi stroke. Saat stroke terjadi, banyak jaringan otak yang mengalami kematian hingga tidak dapat berfungsi seperti sediakala. Bila kebetulan area otak yang terkena stroke adalah pusat pengaturan gerak halus (disebut area basal ganglia), penderitanya sangat mungkin mengalami gejala-gejala parkinsonisme.

Gejala parkinsonisme vaskular dapat muncul setelah penderita mengalami beberapa kali stroke ringan. Penderita parkinsonisme vaskular umumnya berusia lanjut, yaitu 60 tahun ke atas.

Angka kejadian kondisi ini diperkirakan berjumlah 3 hingga 6 persen dari seluruh kasus parkinsonisme. Jenis penyakit Parkinson yang paling sering ditemukan adalah yang berkaitan dengan penuaan sel-sel otak.

Gejala-gejala parkinsonisme bukanlah gejala yang ringan. Beberapa di antara gejala tersebut antara lain:

  • Ketidakstabilan postur tubuh
  • Tangan gemetar saat beristirahat
  • Langkah kaki pendek-pendek
  • Gerakan tubuh melambat
  • Ekspresi wajah berkurang
  • Demensia

Adapun parkinsonisme vaskular dominan mengenai anggota tubuh bagian bawah. Akibat mengalami kesulitan gerak seperti di atas, penderita sering mengalami jatuh, dan menyebabkan timbulnya masalah baru (misalnya patah tulang).

Gejala-gejala lain yang bisa menyertai parkinsonisme vaskular misalnya sulit berbicara, sulit menelan, tidak dapat menahan urine, gangguan kognitif, dll. Selain itu, karena berkaitan dengan stroke, sangat mungkin muncul gejala-gejala khas stroke seperti kelemahan tubuh sebelah, rasa kesemutan, dan rasa baal.

Pemeriksaan CT scan dan MRI otak menjadi modal yang sangat penting dalam mendiagnosis parkinsonisme vaskular. Sumbatan pembuluh darah sebagai gambaran khas stroke akan tampak, disertai area-area otak yang mengalami kerusakan.

Karena parkinsonisme vaskular diawali dengan kejadian stroke, langkah-langkah pencegahan harus ditujukan untuk mencegah penyakit tersebut. Untuk itu, cara-cara yang harus diterapkan meliputi hal-hal di bawah ini:

  • Kendalikan hipertensi

Hipertensi atau penyakit darah tinggi menyebabkan pembuluh darah mengeras dan kaku. Pengobatan hipertensi juga harus disertai dengan pembatasan konsumsi garam dan aktivitas fisik yang teratur.

  • Pencegahan dan penanganan diabetes mellitus

Penyakit diabetes mellitus meningkatkan risiko kelainan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Apabila telah terdiagnosis penyakit diabetes, konsumsi obat harus dilakukan secara rutin. Adanya kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan mempercepat timbulnya komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, serta penyakit pembuluh darah tepi.

  • Hindari obesitas

Obesitas berkaitan dengan kadar lemak yang tidak normal dalam darah, dan kondisi obesitas meningkatkan risiko mengalami penyakit diabetes mellitus.

  • Jalankan gaya hidup sehat

Hindari konsumsi makanan berlemak secara berlebihan, kurangi asupan garam, aktivitas fisik yang teratur, serta berhenti merokok adalah bentuk-bentuk gaya hidup yang diperlukan untuk mencegah stroke.

Menurut studi, parkinsonisme vaskular memiliki respons yang kurang bagus terhadap pengobatan Parkinson pada umumnya. Akibatnya, pengobatan parkinsonisme vaskular lebih sulit dibandingkan penyakit Parkinson akibat penuaan. Tidak jarang, penderita mengalami turunnya kondisi  psikologis pascaperawatan. Oleh karena itu, selain obat, dukungan orang terdekat dan keluarga sangat penting untuk mendukung kondisi psikis dan emosional pasien.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar