Sukses

Pengaruh Obat Tidur pada Ibu Menyusui dan Bayinya

Obat tidur terkadang menjadi pilihan bagi ibu menyusui yang kesulitan tidur. Apakah pengaruh obat tidur aman terhadap ibu dan bayi?

Klikdokter.com, Jakarta Ibu menyusui kerap mengalami kekurangan waktu tidur. Yang lebih buruk, sebagian sulit tertidur lagi saat sudah terbangun di tengah malam. Lantas, apakah obat tidur bisa menjadi solusi yang aman untuk ibu menyusui? Dan adakah pengaruh obat tidur terhadap bayi yang masih ASI?

Insomnia atau gangguan tidur dialami oleh sekitar 25-50 persen wanita yang baru saja menjadi ibu. Kondisi ini dapat terjadi akibat perubahan hormon wanita usai melahirkan, kelelahan, bayi yang kerap terbangun untuk menyusu, dan adanya gangguan emosi seperti baby blues syndrome, gangguan cemas hingga depresi. Tak jarang, kondisi ini membuat sebagian ibu menyusui "menyerah” dengan meminta obat tidur kepada dokter karena dianggap mampu mengatasi insomnia secara instan.

Jenis obat tidur

Dalam dunia medis, ada tiga jenis golongan obat tidur. Tiap golongan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing bila dikonsumsi oleh ibu menyusui. Ketiga golongan itu adalah sebagai berikut.

  1. Golongan antihistamin

Sebagian besar obat tidur yang termasuk golongan antihistamin dapat dibeli bebas. Sebetulnya, obat-obat tidur golongan ini digunakan untuk mengatasi keluhan batuk pilek dan alergi. Namun karena berefek menyebabkan kantuk, obat-obat ini kerap diberikan untuk mengatasi insomnia.

Zat aktif yang dimaksud dalam golongan ini, yaitu klorfeniramin dan difenhidramin. Bila hanya dimaksudkan untuk penggunaan jangka pendek, keduanya masih dianggap aman, baik untuk ibu maupun bayi. Penggunaan jangka panjang tidak dianjurkan karena dapat mengganggu produksi ASI. Bayi juga dapat mengalami efek samping seperti gelisah, sering menangis dan mengantuk hingga gangguan tidur.

  1. Golongan benzodiazepin

Golongan obat ini biasanya digunakan sebagai penenang untuk gangguan cemas atau sebagai obat antiepilepsi. Efek samping yang paling ditakutkan bila dikonsumsi ibu menyusui adalah gejala putus obat pada bayi (withdrawal symptoms), yang mirip seperti gejala seseorang yang baru saja berhenti mengonsumsi narkoba.

Obat-obatan ini juga membuat bayi mengantuk meski angka kejadiannya rendah. Dalam sebuah studi yang melibatkan 124 ibu menyusui yang mengonsumsi benzodiazepin (lorazepam, clonazepam, dan midazolam), hanya dua bayi (1,6 persen) yang mengalami penekanan sistem saraf otak. Ini diartikan sebagai bayi yang mengantuk, perlekatan saat menyusui tidak baik, mengalami kelemahan otot, serta tidak berespons terhadap stimulasi.

  1. Golongan non-benzodiazepin

Golongan obat ini memiliki efek yang mirip dengan golongan benzodiazepin, tapi diklaim lebih aman. Zat aktif yang ditemukan di pasaran adalah zolpidem dan eszopiclone. Hasil kajian berbagai studi menemukan bahwa obat ini hanya sedikit dikeluarkan dalam ASI sehingga efek sampingnya minimal pada bayi. Meski demikian, obat-obatan ini tetap tergolong obat keras sehingga hanya bisa didapat setelah dokter melakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap ibu menyusui.

Jadi, adakah obat tidur yang aman untuk ibu menyusui?

Sesungguhnya, tidak ada satu pun obat tidur yang sepenuhnya aman dikonsumsi oleh ibu menyusui. Selain karena efek-efek yang telah dijelaskan sebelumnya, obat-obatan ini juga memberikan rasa kantuk yang cukup hebat. Sebelum menggunakannya, pertimbangkan apakah betul mampu merawat bayi di bawah pengaruh obat tidur, di saat Anda harus siap siaga pada kebutuhan si kecil.

Jadi, bila memang dinilai perlu mengonsumsi obat tidur, pastikan ada orang lain yang membantu Anda dalam mengasuh bayi. Selama di bawah pengaruh obat tidur, Anda sebaiknya tidak tidur satu ranjang dengan bayi. Ini untuk mengurangi risiko menimpa bayi kala tidur hingga mendorongnya keluar dari tempat tidur. Pelajari pula cara-cara lain yang lebih alami untuk mengatasi susah tidur pada ibu menyusui.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar