Sukses

Suksma Ratri, ODHA dan Petarung Sejati

Dua belas tahun lalu, Suksma Ratri divonis mengidap HIV/AIDS. Sebagai ODHA ia tidak membiarkan dunianya runtuh oleh vonis itu.

Klikdokter.com, Jakarta Sosok mungilnya yang riang dan lincah tidak menunjukkan bahwa ia berstatus ODHA.  Ditemui KlikDokter saat acara kampanye #UbahHidupLo yang digelar DKT Internasional menyambut Hari AIDS Sedunia di kawasan Car Free Day, 25 November lalu, Suksma Ratri lebih mirip seorang avonturir.

Tubuhnya dibalut T-shirt warna merah dan celana denim biru ketat yang digulung sebatas betis. Rambut pendeknya diwarnai cokelat.  Sepatu warrior hitam yang ia kenakan dan ransel yang disandangnya semakin menambah kesan sporty wanita energik ini.

Ratri menunjukkan bahwa menjadi ODHA tidak lantas membuat dirinya menjadi loyo dan tanpa gairah. Ia bahkan menampik soal diskriminasi karena statusnya itu.

“Saya belum pernah mengalaminya. Entah ya, kalau ada orang yang membicarakan saya di belakang saya, tapi saya tidak pernah menemui sikap-sikap seperti itu,” tutur Ratri tentang sikap-sikap diskriminatif yang mungkin pernah diterimanya.

1 dari 4 halaman

Vonis itu datang tiba-tiba

Mata elok Ratri melebar ketika ia mulai bercerita tentang kapan vonis dari dokter itu datang, dan mulai mengubah hidupnya.

“Suami saya dulu seorang pecandu NAPZA suntik. Ia memakai jarum yang sama ramai-ramai dengan teman-temannya, “ Ratri mengisahkan.

Pernikahan Ratri akhirnya kandas karena sebuah alasan yang enggan untuk diceritakannya. Pada suatu ketika, sang mantan suami jatuh sakit. Saat menjalani pemeriksaan, dokter mencurigai kondisi suami Ratri kala itu. Setelah serangkaian tes, dokter menemukan infeksi HIV sudah mulai menggerogoti kesehatan pria itu.

“Saat itu dokter bertanya pada suami saya, apakah ia menikah, karena dokter perlu memeriksa apakah si istri juga tertular HIV,” tutur Ratri.

Ketika dokter menghubungi Ratri untuk dilakukan pengecekan, kekhawatiran dokter terbukti. Ratri memang tertular HIV dari suaminya itu. Lalu, bagaimana Ratri menghadapi vonis tersebut?

Ratri tersenyum. Ia mengaku tidak terkejut.

“Saya biasa saja. Mungkin karena saya sebelumnya sudah memiliki cukup pemahaman tentang HIV/AIDS, jadi saya menanggapi kondisi itu dengan tenang. Vonis itu bukan vonis mati. Saya tahu bahwa dengan menjalankan pengobatan yang benar dan pola hidup yang lebih sehat, penderita bisa punya harapan hidup yang tinggi,” kata Ratri.

Ia mengaku sangat bersyukur bahwa putri satu-satunya yang saat itu masih berusia dua tahun tidak tertular HIV.

“Saya tidak tahu harus bagaimana kalau anak saya juga tertular,” kata Ratri. Ia seakan mengenang situasi yang juga harus dihadapi putrinya yang masih balita kala itu.

2 dari 4 halaman

Mengedukasi masyarakat sambil berjuang untuk sehat

Ratri yang saat itu bekerja sebagai public relations sebuah hotel, kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia memilih fokus untuk bekerja di LSM yang bergerak dalam edukasi HIV/AIDS, Rumah Cemara. Di yayasan yang berlokasi di kawasan Gegerkalong Bandung itu, Ratri berperan sebagai manajer kasus.

Berbekal pengetahuan tentang HIV/AIDS yang sudah dimilikinya, sekaligus menjalani hidup sebagai ODHA, Ratri seperti menemukan dunianya. Hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan kampanye HIV/AIDS ke banyak tempat di seluruh Indonesia, untuk mengedukasi masyarakat.

“Setidaknya sebulan sekali saya harus traveling untuk menjalankan tugas-tugas saya sebagai manajer kasus,” tutur Ratri. Aktivitas Ratri yang padat, ternyata memancing tanda tanya di benak kawan-kawannya.

“Teman-teman saya sampai heran dan bertanya, kamu tuh sebenarnya positif HIV atau nggak sih?” kata Ratri, menirukan pertanyaan tema-temannya.  

Kawan-kawan Ratri lah yang justru mengkhawatirkan kondisi Ratri, yang menurut mereka perlu lebih banyak istirahat.

“Saya tidak merasa ada penurunan pada daya tahan tubuh saya. Saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya selalu bersemangat dan berpikir positif, saya jadi tidak mudah lelah,” kata Ratri. Ia merasa bahwa akar dari semua masalah adalah stres.

“Saya bukannya tidak pernah stres, ya. Tapi saya selalu mencoba mengelola stres yang saya alami. Saya tahu bahwa saya positif HIV, tetapi saya tidak mau menjadikan status saya sebagai beban,”  kata Ratri yang hingga kini masih menjalani pengobatan.

3 dari 4 halaman

Efek samping dari pengobatan

Namun pengobatan yang dijalani Ratri juga tidak selamanya berjalan mulus. Pada 2012, Ratri sempat mengalami masalah dengan pengobatan yang dijalaninya. Salah satu obat memberinya efek ruam pada kulit tubuhnya, dari kaki hingga leher.

Selain itu, kadar HB Ratri juga sempat terjun bebas hingga di angka 7. Ratri yang juga memiliki anemia pun berkonsultasi dengan seorang kawannya yang juga dokter WHO, yang biasa menangani kasus-kasus AIDS. Hasilnya, pengobatan Ratri dihentikan sementara waktu. Dan baru pada 2014 pengobatannya berlanjut kembali.

Di lini kedua tersebut, Ratri tidak mengalami efek samping dari pengobatannya, kecuali rasa mual dan pusing yang terjadi dua minggu setelah mengonsumsi obat. Beberapa hari setelahnya, Ratri mulai terbiasa.

Ratri tidak menampik bahwa virus HIV yang ada di dalam tubuhnya turut memperlemah kondisinya. Ia sadar sel-sel kekebalan tubuhnya tengah diserang. Namun uniknya, Ratri tidak melihat situasinya dari perspektif tersebut.

“Kalau kadang saya merasa mudah lelah, saya rasa bukan karena itu, tapi karena pertambahan usia,” kata Ratri, berkelakar.

Ia mengaku selalu menjalankan gaya hidup sehat untuk menjaga kondisinya kini. Meski tidak suka olahraga, Ratri memilih untuk mengikuti kelas dansa secara rutin untuk menjaga kebugarannya. Pola makan pun diperhatikannya dengan saksama, meskipun ia mengaku tidak berdiet secara ketat.

“Saya mencoba untuk balance,” kata Ratri yang berpantang protein mentah dan setengah matang, Menurutnya, itu pantangan semua ODHA bukan hanya dirinya– karena berpotensi menimbulkan serangan virus toksoplasmosis. Sebagai pelengkap, Ratri juga mengonsumsi suplemen, di antaranya vitamin C dan B Kompleks.

Melihat cara Ratri menjaga kesehatannya, tak heran jika ia tampak energik dan jauh dari kesan stereotip ODHA yang lemah –menurut sebagian masyarakat yang belum teredukasi mengenai HIV/AIDS. Bertemu dengan Ratri, Anda seperti bisa melihat harapan yang masih dikejarnya.

“Saya masih ingin terus sehat dan berkontribusi membantu kawan-kawan yang masih perlu informasi tentang HIV/AIDS. Saya juga masih melakukan pendampingan beberapa teman dari jauh, yang masih memerlukan bantuan saya,” kata Ratri yang kini sudah tidak lagi bekerja untuk Rumah Cemara.

Suksma Ratri hanya salah satu dari sekian banyak ODHA di Indonesia. Kondisi mengidap HIV/AIDS sejak 2006 tidak membuatnya patah semangat. Sebaliknya, ia justru memakai ilmu, pengetahuan dan pengalamannya sebagai ODHA dan manajer kasus, untuk terus mengedukasi masyarakat. Harapan yang tidak muluk-muluk. Realistis sekaligus mulia.

[RH]

0 Komentar

Belum ada komentar