Sukses

Anak Sering Rewel? Awas, Pertanda Depresi!

Anak sering rewel, bahkan hanya karena hal kecil? Awas, bisa jadi itu pertanda bahwa anak sedang depresi.

Klikdokter.com, Jakarta Rewel merupakan hal yang identik dengan anak-anak. Belum lancarnya komunikasi antara anak dengan orang yang lebih dewasa – misalnya orang tua – membuat anak sering menjadikan kerewelan sebagai “senjata” untuk menyatakan perasaan mereka. Terkadang, rewel juga hanya menjadi aksi manja dari anak supaya orang tua atau orang di sekitarnya memberikan perhatian lebih kepada mereka.

Kendati begitu, sebagian orang tua atau anggota keluarga tidak menggubris kerewelan si Kecil. Perilaku seperti ini memang ada benarnya, supaya anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja dan selalu bergantung pada orang lain.

Namun di sisi lain, terlalu sering mengabaikan kerewelan anak juga sangat tidak dianjurkan. Hal ini karena kerewelan anak dapat menjadi pertanda bahwa dirinya sedang mengalami depresi. Tahukah Anda akan hal ini?

Rewel dan depresi pada anak

Dilansir dari Very Well Mind, rewel memang merupakan salah satu gejala depresi pada anak dan remaja. Seperti diketahui, sebagian orang akan lebih mudah tersinggung saat mereka merasa kelelahan, stres, dan tidak enak badan.

Sebagai contoh, seorang anak yang depresi dapat menjadi sangat mudah marah jika seorang teman membatalkan rencana dengannya. Suasana hatinya yang terganggu dapat berlangsung setidaknya selama dua minggu dan memengaruhi interaksinya dengan keluarga maupun teman-temannya. Sehingga, hal tersebut dapat merusak kemampuannya untuk belajar dan bersosialisasi di sekolah maupun di rumah.

Contoh lain, anak yang depresi cenderung tidak suka dengan suasana ketika adik kecilnya sedang menangis, atau ketika menu makan siang tidak sesuai dengan seleranya. Jika hal-hal tersebut benar-benar dilakukan oleh anak Anda, cobalah temukan penyebabnya.

Menurut dr. Reza Pahlevi dari KlikDokter, berikut adalah hal yang bisa menjadi penyebab depresi pada anak:

  • Faktor genetik

Orang tua yang sebelumnya mengalami depresi memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki anak yang depresi juga. Makin muda dan makin berat depresi yang pernah diderita orang tua, semakin besar kemungkinan si Kecil ikut “tertular”.

  • Faktor neuropsikiatri

Anak dengan kelainan psikologis, seperti autisme ataupun gangguan obsesif kompulsif, lebih berisiko untuk terkena depresi

  • Faktor medis

Anak-anak yang memiliki masalah medis berat, seperti diabetes, asma, dan lain sebagainya berisiko terkena depresi karena gejala penyakit yang menyiksanya.

  • Faktor lingkungan

Kemiskinan, bencana alam, pola asuh yang salah, dan perasaan kehilangan yang besar bisa memicu timbulnya depresi pada anak.

  • Alkohol dan narkoba

Anak-anak yang salah pergaulan lebih rentan “berteman” dengan alkohol dan narkoba dan mengalami depresi, ketimbang anak-anak yang “bersih” dari dua hal tersebut.

Jika tidak ada penyebab yang sesuai, perhatikan apakah anak Anda menunjukkan tanda-tanda depresi lain. Seperti yang dikutip dari buku “Parenting Through The Storm: Find Help, Home, and Strength When Your Child Has Psychological Problem”, yang ditulis oleh seorang parenting expert asal Amerika Serikat, Ann Douglas, berikut tanda-tanda yang dimaksud:

  • Memukul atau menindas murid lain.
  • Sering mencoba melukai dirinya sendiri.
  • Mudah lelah dan kehilangan motivasi.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami insomnia dan sering bermimpi buruk.
  • Mengabaikan penampilan atau sebaliknya, terobsesi dengan penampilannya sendiri.
  • Tidak nafsu makan atau sebaliknya, makan terlalu banyak.

Apabila anak Anda akhir-akhir ini sering rewel dan  menunjukkan gejala atau kondisi yang merujuk pada depresi, segera berikan perhatian lebih. Ajak dirinya untuk bicara dari hati ke hati mengenai apa yang sedang ia rasakan. Jika perlu, mintalah bantuan dokter, psikolog atau psikiater untuk membantu mencari jalan keluar terbaik. Dengan demikian, rewel dan depresi yang mungkin sedang dialami oleh anak bisa teratasi dengan cepat dan tepat.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar