Sukses

Kenali 5 Infeksi Mematikan pada Penderita HIV/AIDS

Karena menyerang sistem imun, penderita HIV rentan terkena berbagai infeksi. Apa saja infeksi yang umum menyerang pasien HIV/AIDS?

Klikdokter.com, Jakarta Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika sistem kekebalan tubuh seseorang telah sangat lemah dan dirusak oleh virus ini, kondisi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) akan terjadi. Pada kondisi ini, penderita HIV/AIDS akan sangat rentan terkena infeksi dan penyakit karena tubuh mereka tidak punya pertahanan lagi.

Beberapa infeksi diketahui sering menyerang penyandang HIV/AIDS. Jika tidak ditangani dengan tepat, keadaan ini dapat cepat berkembang ke arah infeksi berat yang mengancam nyawa. Karena itu, pengetahuan tentang infeksi ini perlu diketahui. Apa saja infeksi yang sering dijumpai pada pasien HIV/AIDS?

1. Infeksi toksoplasma. Toxoplasma gondii adalah salah satu parasit yang dapat menyebabkan infeksi sejak awal kelahiran seseorang (penyakit bawaan), sampai usia dewasa. Jutaan orang telah terinfeksi toksoplasma, tapi hanya sedikit yang menunjukkan gejala karena orang yang sehat sering kali memiliki sistem imun yang cukup kuat untuk mengontrol parasit penyebab penyakit.

Namun, pada penderita HIV, sistem imun yang rendah menyebabkan dirinya rentan terinfeksi toksoplasma dan menyebabkan gejala pada berbagai organ yang berbeda. Gejala yang dapat timbul tergantung dari organ yang terlibat, bisa berupa gangguan penglihatan, diare, sampai penurunan kesadaran.

2. Tuberkulosis (TB). Infeksi TB sering menyertai orang yang terinfeksi HIV karena kekebalan tubuhnya menurun. Penderita HIV berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit TB, terutama pada penderita HIV/AIDS yang memiliki sel kekebalan tubuh CD4 di bawah 200.

Kuman ini dapat menyebabkan infeksi pada berbagai organ yang berbeda, seperti infeksi paru kelenjar getah bening atau susunan saraf pusat. Kuman Tuberkulosis memerlukan pengobatan dengan kombinasi obat khusus selama 6-9 bulan. Pengobatan yang tidak teratur menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kegagalan pengobatan, sehingga infeksi tidak teratasi.

3. Kriptokokosis. Kriptokokosis adalah infeksi yang disebabkan jamur Cryptococcus neoformans. Infeksi ini jarang ditemui pada orang dengan sistem imun yang baik, tapi umum ditemui pada penderita HIV. Infeksi ini dapat menyebar ke manusia melalui kontak dengan kotoran hewan atau buah mentah yang tidak dicuci.

Jamur ini dapat menyerang ke berbagai organ, tapi salah satu organ yang cukup dikhawatirkan adalah infeksi pada sistem saraf pusat. Gejalanya antara lain penurunan kesadaran dan kelemahan ekstremitas.

4. Pneumocystis Pneumonia (PCP). Ini adalah infeksi serius yang menyebabkan peradangan pada paru-paru. Terkadang diagnosis dari PCP sulit dilakukan karena gejala yang tidak khas. Penyebab PCP adalah infeksi jamur Pneumocystis jiroveci yang tersebar melalui udara.

Walau jarang terjadi, infeksi PCP patut dicurigai pada orang dengan penurunan sistem imun, seperti penderita HIV AIDS. Penderita HIV/AIDS dengan jumlah CD4 di bawah 200 lebih sering terinfeksi PCP. Pemberian obat pencegahan dapat diberikan, misalnya kotrimoksasol.

5. Cytomegalovirus (CMV). Pada penderita HIV/AIDS, CMV dapat menyebabkan infeksi serius terutama jika jumlah CD4 di bawah 100. Infeksi cytomegalovirus ditularkan melalui cairan tubuh, seperti ludah, darah, ASI, urine, dan semen. Penularan melalui hubungan seksual juga dapat terjadi melalui cairan semen ataupun lendir endoserviks.

Penderita dapat mengalami berbagai gejala yang berbeda karena infeksi ini dapat menyerang berbagai organ yang berbeda. Infeksi mata serius yang disebut retinitis dapat berujung pada kebutaan. Selain menyerang mata, infeksi CMV juga dapat menyebabkan infeksi pada otak dan saluran pencernaan.

HIV/AIDS dapat menyebabkan penurunan sistem imun, dan menyebabkan tubuh rentan terkena berbagai infeksi. Oleh karena itu, penderita HIV/AIDS harus senantiasa menjaga kebersihan diri, lingkungan, serta makanan-makanan yang masuk. Sebagai tindakan pencegahan, hindari perilaku berisiko seperti hubungan seksual bebas dan penggunaan jarum suntik bergantian agar tidak terinfeksi HIV.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar