Sukses

Tekad dr. Olivia Ong Mempercantik Wanita Indonesia

Impian dr.Olivia Ong untuk mempercantik wanita Indonesia agar bisa lebih percaya diri, penuh perjuangan. Kunci suksesnya: kerja keras!

Klikdokter.com, Jakarta Siang itu, dr. Olivia Ong tampil anggun dengan dress berwarna kuning pastel, saat menerima KlikDokter di Jakarta Aesthetic Clinic, miliknya. Sembari menyampirkan snelli di kursinya, ia pun memulai perbincangan tentang mimpinya mempercantik wanita Indonesia.

Keinginannya saat menjadi dokter adalah untuk membahagiakan orang lain. Dengan menjadi dokter estetika, ia mampu 'menyulap' penampilan para wanita menjadi lebih menarik, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Kerja keras demi mewujudkan mimpi

Untuk berada di posisi saat ini, perjuangan wanita yang akrab disapa dr. Olivia ini tidaklah mudah. Olivia kecil dan adik laki-lakinya hidup dalam segala keterbatasan. Saat itu, ibunya bekerja sebagai juru ketik dan ayahnya adalah staf biasa di sebuah perusahaan.

Saat Olivia remaja, perekonomian keluarganya kian tak stabil. Usaha ayahnya yang baru dirintis rugi cukup besar. Olivia yang menyukai pelajaran Biologi dan memendam cita-cita menjadi dokter pun harus belajar keras untuk meraih mimpinya itu.

“Hanya itu yang bisa saya lakukan saat itu,” kenang wanita kelahiran Januari 1981 ini.

Usaha keras Olivia berbuah manis. Setelah lulus sekolah menengah atas ia menerima beasiswa jurusan Kedokteran Umum di Universitas Atma Jaya Jakarta pada 1999.

Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Demi memenuhi kebutuhan biaya kuliah dan praktik yang tidak sedikit, sembari kuliah Olivia berjualan kue dan CD. Setiap hari, ia selalu membawa di dalam tasnya CD musik atau film yang sedang tren di kalangan teman-temannya saat itu. Begitu jam kuliah berakhir, ia pun menawarkan dagangannya ke teman-temannya tersebut.

“Saya tetap ingin mengejar mimpi, tapi juga tak ingin menjadi beban keluarga,” tuturnya.

Berkat usaha dan kedisiplinannya yang kuat, beasiswa Olivia pun meningkat dari 50 persen hingga 70 persen. Semangatnya menggenjot masa kuliah pun semakin termotivasi, hingga ia berhasil lulus mendapatkan gelar Cum Laude di 2006.

Namun rencananya menjadi spesialis kulit dan kelamin kandas oleh faktor biaya yang selangit. Olivia pun sempat bekerja di sebuah klinik kesehatan untuk mengumpulkan biaya kuliah.

Tak ingin mimpinya padam, Olivia banting setir memutuskan untuk menekuni bidang estetika yang pada masa itu mulai 'naik daun'. Dalam pikirannya, kalaupun ia tak bisa menjadi dokter spesialis kulit, ia bisa sukses menjadi dokter estetika. Karena untuk menjadi dokter estetika bisa diraih dari bidang kedokteran apa pun. Maka Ia pun menggunakan uang tabungannya untuk aktif mengikuti seminar dan pelatihan.

Setelah mendapatkan sertifikasi, ia bersama teman-temannya patungan membuka klinik kecil-kecilan.  “Ketika alat suntik ada di tangan, berjuta rasanya,” ucap Olivia dengan wajah berbinar-binar.

1 dari 3 halaman

Dari ruang konsultasi ala 'dukun' hingga klinik mewah

Perjalanan karier Olivia, sebagai dokter estetika berawal dari sebuah klinik kecil yang dibukanya pada 2008 di sebuah ruko di daerah Tomang. Dengan ruangan berukuran 60 m² tersebut, ia membuka praktik. Dengan modal kecil, semua kegiatan di klinik pun ia lakukan secara mandiri, termasuk menyapu lantai, membuang sampah hingga membersihkan WC.

“Sampai bikin minum untuk pasien juga saya kerjakan sendiri,” kenang dr. Olivia.

Mengawali praktik estetika dengan modal kecil dan sederhana, tidak lantas membuat pasien menjadi maklum dengan kondisi Olivia saat itu. Kritik pasien pun harus diterimanya. Salah satu kritik pasien yang tak pernah ia lupakan adalah soal ambience klinik pertamanya itu.

“Katanya, klinik saya mirip tempat praktik dukun,” ucapnya sembari tertawa, mengenang kondisi kliniknya kala itu.

Dari kritikan tersebut, Olivia pun semakin giat menabung untuk mencari lokasi yang lebih layak disebut sebagai klinik estetika. Sampai akhirnya, ia pun menemukan ruko lain pada 2013. Ruko tersebut merupakan bekas lokasi spa di bilangan Gunawarman. Meski ruko itu berukuran 100 m², ia hanya menyewa 60 m² untuk menekan biaya sewa.

Seiring berjalannya waktu, pada 2015 papan kliniknya pun berdiri tegak di lokasi baru yang lebih representatif dengan nama Jakarta Aesthetic Clinic. Perawatan non bedah yang diberikannya pun lebih beragam, seiring dengan pengembangan dan sertifikasi yang diperolehnya.

Sebelum menempuh Pendidikan Anti-aging di Universitas Udayana Bali, Olivia pernah mengenyam Ilmu Estetika Kedokteran di The American Academy of Aesthectic Medicine pada 2009. Setelahnya, ia aktif mengikuti pelatihan dan seminar, seperti International Master Course on Aging Science di Paris, Perancis (2013), Anti-Aging Medicine World Congress di Monte-Carlo, Monaco (2014), Australasian Medical Aesthetics Congress di Sydney, Australia (2015), dan masih banyak lagi.

 “Masa muda saya habiskan dengan belajar dan kerja keras. Bahkan, saya pun menikah di usia 33 tahun. Bagi sebagian besar orang, usia itu dianggap terlalu tua untuk menikah. Tapi dengan passion dan niat untuk membuat wanita bahagia, saya kejar terus,” tegasnya. Melihat apa yang diperolehnya saat ini, Olivia tentu merasa sangat bersyukur. Semangat Olivia pun turut didukung oleh suaminya.

Untuk menjaga kualitas perawatan yang dilakukan di kliniknya, Olivia menerapkan sistem kuota. Maksimal ia dan timnya hanya melayani 10 pasien dalam sehari. Dengan demikian, pasien pun merasa nyaman saat dilayani dengan teliti dan penuh perhatian.

“Bidang estetika itu soal seni, bukan seperti cetakan yang bisa dibuat dalam 10 menit,” jelasnya.

2 dari 3 halaman

Gaya hidup sehat sebagai kunci kesuksesan

Menurut Olivia, untuk menunjang kualitas hidup dan performa yang baik saat melayani pasien, perlu komitmen untuk menjalankan gaya hidup sehat. Oleh sebab itu, ia selalu menjaga asupan dan tetap rutin berolahraga di tengah berbagai kesibukannya mengelola klinik estetika.

Di pagi hari sebelum berangkat ke klinik, ia selalu berolahraga joging. Olahraga ini dilakukannya secara rutin 5 kali dalam seminggu. Aktivitas fisik itu lalu disambungnya dengan olahraga pembentukan otot menggunakan dumbbell. Terkadang Oivia juga mengombinasikannya dengan TRX.

Dalam hal nutrisi, Olivia mengombinasikan aneka sayuran dan buah secara seimbang. Begitu pula dengan sumber protein favoritnya seperti ikan, daging sapi tanpa lemak, serta tahu dan tempe. Sebagai selingan atau menu sarapan, ia biasa mencampur pisang, stroberi dan susu almon untuk dibuat smoothies. Satu yang menarik, Olivia punya tips sendiri dalam mengonsumsi buah.

“Pilih buah yang setengah matang dan jangan terlalu manis. Nutrisi buah setengah matang itu lebih tinggi, dan kandungan gulanya lebih rendah. Itulah kenapa orang zaman dahulu sehat dan panjang umur. Karena mereka sering mengonsumsi buah seadanya yang masih setengah matang,” jelasnya.

Menurutnya, menjalankan gaya hidup sehat sangatlah penting untuk menunjang performanya dalam melayani pasien. “Untuk membantu pasien saya harus sigap. Jadi perlu dukungan nutrisi yang cukup dan gaya hidup sehat,” pungkasnya.

Olivia mendapatkan banyak manfaat dari gaya hidup sehat yang dijalankannya secara konsisten. Pikiran lebih fokus, tubuh pun tak mudah sakit.

Perjalanan hidup dr. Olivia Ong dalam menggapai impiannya menjadi dokter memang berliku. Tapi dengan kerja keras dan disiplin, kini ia dapat mewujudkan mimpinya. Baginya, senyum bahagia pasien adalah motivasi baginya untuk mempercantik wanita Indonesia, sehingga dapat tampil lebih percaya diri.

[RVS]

1 Komentar

  • Lia sudirwan

    dok saya mau tanya wajah saya kn sensitif sekali... sekarang wajah saya lg jerawatan..cara ngilangin jerawat sampe tuntas harus pake apa yah?