Sukses

Pencipta SpongeBob Meninggal Akibat ALS

Dunia berduka. Stephen Hillenburg, pencipta serial animasi “SpongeBob SquarePants”, meninggal dunia akibat penyakit ALS.

Klikdokter.com, Jakarta “I’m ready, I’m ready, I’m ready!” Para penggemar serial animasi “SpongeBob SquarePants”, tentunya tak asing dengan kalimat yang kerap dikatakan salah satu karakter utamanya, SpongeBob dengan penuh semangat. Namun, para penggemar serial kartun ini tengah berduka. Penciptanya, Stephen Hillenburg, meninggal dunia pada hari Senin (26/11) kemarin, waktu setempat. Stephen tutup usia pada usia 57 tahun akibat penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS).

Dilansir Liputan6, kabar duka ini disampaikan oleh Nickelodeon, stasiun televisi yang menayangkan “SpongeBob SquarePants”, lewat akun resmi Twitter mereka.

"Dengan sedih kami mengabarkan berita meninggalnya Stephen, pencipta Spongebob Squarepants. Hari ini, kami mengheningkan cipta untuk menghormati hidup dan karyanya."

Mengidap ALS seperti Stephen Hawking

Stephen diketahui mengidap ALS selama beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut ia ungkap tahun lalu kepada majalah Variety, tepatnya pada bulan Maret 2017. Penyakit ALS beberapa waktu yang lalu juga merenggut nyawa fisikawan ternama dunia, Stephen Hawking.

Pria asal Oklahoma, Amerika Serikat, ini dikenal sebagai seorang animator, kartunis, pengisi suara (voice actor), dan guru biologi kelautan. Kecintaannya pada dunia bawah laut, hobi menyelam, serta kecintaannya terhadap anak-anak membuatnya SpongeBob terlahir.

SpongeBob SquarePants” menceritakan tentang kehidupan SpongeBob, spons laut berwarna kuning dan teman-teman bawah lautnya (Patrick Star, Gary, Squidward Tentacles, Mr. Krabs, dan lain-lain), di Bikini Bottom. Meski diperuntukkan untuk anak-anak, tapi serial ini nyatanya juga dinikmati remaja dan dewasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Meraih dua piala Emmy Awards dan Annie Awards, popularitas serial kartun ini membuatnya bertahan dengan 242 episode, dijadikan film layar lebar, dan pagelaran panggung Broadway. Bahkan, “SpongeBob SquarePants” menduduki peringkat lima daftar serial animasi terpanjang di Amerika Serikat.

1 dari 3 halaman

Mengenai penyakit ALS

Menurut penjelasan dari dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, ALS (juga disebut sebagai Lou Gehrig's disease) tergolong penyakit langka yang disebabkan oleh rusaknya sekumpulan saraf yang berfungsi untuk mengatur gerakan motorik dan menggerakkan otot-otot pada tubuh. Mulai dari kepala hingga kaki.

“ALS umumnya memengaruhi lebih banyak pria dibandingkan wanita. ALS bersifat progresif, yakni akan terus bertambah parah hingga akhirnya penderita akan meninggal karena kelumpuhan otot pernapasan,” kata dr. Karin.

ALS dapat menyebabkan gangguan berbicara, bergerak, makan, dan bernapas. Ini seperti yang dialami Stephen Hawking yang dalam sisa hidupnya hanya duduk di kursi roda. ALS tidak dapat disembuhkan dan dapat menyebabkan kematian.

Sejauh ini, beberapa kemungkinan penyebab ALS diyakini karena mutasi genetik, ketidakseimbangan zat kimia dalam tubuh, dan gangguan respons imun.

“Gejala awal dari penyakit ALS adalah kekakuan atau kelemahan otot. Awalnya penyakit ini hanya menyerang segelintir otot, hingga akhirnya menyebar dan mengenai otot-otot lainnya. Akibatnya, mereka yang mengidap ALS memiliki kesulitan untuk berbicara, makan, berjalan, bergerak, bahkan bernapas,” dr. Karin menjelaskan.

Seiring progresivitas penyakit, penderita ALS dapat mengalami komplikasi, seperti gangguan pernapasan, gangguan berpikir, gangguan berbicara, dan gangguan makan.

Hanya saja, ALS tidak memengaruhi fungsi buang air besar, fungsi sensor atau kemampuan berpikir. Penderita bisa tetap aktif dan berinteraksi dengan orang lain, meski hanya duduk di kursi roda.

Kabar buruknya, hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan atau menahan perjalanan penyakit ALS ini. Pengobatan yang ada saat ini hanya bersifat memperlambat laju keparahan penyakit dan mencegah komplikasi. Terapi yang diberikan dapat berupa pemberian obat-obatan, alat bantu napas, fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi bicara.

Dikatakan oleh dr. Karin, kebanyakan penderita meninggal 3-5 tahun setelah didiagnosis mengidap ALS akibat gagal napas. Meski demikian, segelintir orang—sebanyak 10 persen—berhasil bertahan hidup hingga 10 tahun atau lebih dengan penyakit ini.

2 dari 3 halaman

Pentingnya deteksi dini

Dengan deteksi dini, penyakit ALS dapat diatasi dan diterapi sebaik mungkin. Tujuannya adalah untuk memperlama masa hidup dan meningkatkan kualitas hidup penderita ALS.

“Cara pertama untuk mendeteksi dini penyakit ALS adalah dengan mengenali adanya perubahan pada otot Anda yang tidak biasa, misalnya otot menjadi lebih lemah, lebih kaku, kesulitan bergerak, berbicara, makan, dan lainnya,” jelas dr. Karin.

Jika Anda mendapati gejala-gejala tersebut, jangan tunda untuk berkonsultasi kepada dokter. Banyak keterlambatan penanganan ALS disebabkan karena pasien menunda untuk pergi ke dokter, walaupun mereka telah mengalami gejala yang cukup signifikan.

Karena penyakit ALS terjadi akibat kelainan pada gen, maka ALS dapat dideteksi secara dini—meskipun belum ada gejala yang timbul—dengan pemeriksaan genetik (meskipun hanya sebesar 10 persen penyakit ALS yang merupakan penyakit keturunan dalam keluarga. Sisanya, sebesar 90 persen adalah kasus sporadis).

Selain itu, karena gejala ALS umumnya timbul pada orang dewasa, maka pemeriksaan genetik ini baru disarankan untuk dilakukan setelah seseorang berusia di atas 18 tahun. Walau demikian, keputusan untuk melakukan deteksi dini tersebut berada di tangan pasien.

Meski pencipta serial animasi “SpongeBob SquarePants” meninggal dunia akibat penyakit ALS, tapi semoga karya, gairah, dan semangatnya terhadap tayangan anak-anak yang berkualitas bisa membuat Anda terinspirasi.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar