Sukses

Kupas Tuntas tentang Peremajaan Vagina

Apa itu peremajaan vagina? Siapa saja yang bisa melakukan? Dan apa efek sampingnya? Ketahui semuanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Satu dekade silam, pusat perhatian wanita mungkin masih seputar wajah, payudara, dan bokong. Tapi lihatlah kini, tren mempercantik vagina tak kalah tinggi peminatnya, datang dari berbagai usia dan latar belakang. Untuk sebagian wanita, membincangkan vaginal rejuvenation, atau peremajaan vagina, setelah makan siang mungkin bukan hal yang aneh lagi. 

Istilah “peremajaan vagina” digunakan untuk mendeskripsikan sejumlah prosedur perawatan yang dilakukan di area kewanitaan. Beberapa prosedur menggunakan karbondioksida laser untuk merangsang aliran darah dan pembentukan kolagen dalam jaringan vagina. Yang lain melibatkan suntikan plasma kaya trombosit atau asam hialuronat, yang dikenal masing-masing sebagai O-shot dan G-shot.

Walau disebut sebagai peremajaan vagina, sebenarnya prosedur ini tidak hanya untuk area internal vagina, tetapi juga area eksternal meliputi labia mayora, labia minora, dan klitoris. Peremajaan vagina dapat ditujukan untuk wanita yang mengalami masalah-masalah, seperti berkurangnya elastisitas mukosa vagina, sulit menahan buang air kecil, vagina sering terasa kering dan gatal, serta infeksi saluran kencing berulang.

“Tidak ada batasan usia untuk peremajaan vagina. Selama ada indikasi dan tidak ada kontra indikasi, siapa saja boleh melakukan. Tapi, prosedur ini tidak boleh dilakukan saat hamil,” kata dr. Ni Komang Yeni Dhanasari, SpOG, dari BAMED Women’s Clinic, ketika ditemui di Jakarta.

Jenis-jenis prosedur peremajaan vagina

Ada tiga jenis prosedur peremajaan vagina, yakni prosedur non-invasif, semi-invasif, dan invasif (bedah/operasi).

Contoh prosedur non-invasif adalah labia remodelling, labia majora tightening, dan labia majora brightening. “Setelah perawatan ini, pasien bisa melakukan aktivitas apa pun seperti biasa, seperti gym, berenang, dan aktivitas seksual. Pengerjaannya juga mudah, cepat, tanpa rasa nyeri, tidak perlu anestesi,” kata dr. Ni Komang.

Kendati demikian, menurut dr. Ni Komang, prosedur non-invasif sebaiknya tidak dilakukan saat masa PMS karena biasanya tubuh akan lebih sensitif. Ini akan membuat perawatan akan terasa kurang nyaman. 

Selain itu, prosedur non-invasif bersifat tidak permanen tetapi dapat dilakukan retouch secara berkala. “Ada yang antara 6 bulan sampai 2 tahun. Tapi ini kembali lagi tergantung dari gaya hidup dan nutrisi. Tidak olahraga, merokok, dan alkohol mempercepat penurunan kualitas jaringan.”

Prosedur semi-invasif dapat digunakan pada kasus stres inkontinensia urine, berkurangnya elastisitas pada vagina, kekeringan pada vagina, dan infeksi vagina berulang. “Ini cocok bagi wanita yang menginginkan solusi masalah kesehatan kewanitaan tanpa operasi,” tutur dr. Komang.

Sementara itu, peremajaan vagina dengan prosedur invasif terdiri atas clitoralhood reduction, labia majora plasty, labia minora plasty, hymenoplasty, dan vaginoplasty. Untuk persiapannya sama dengan persiapan operasi pada umumnya, seperti pemeriksaan darah lengkap dan konsultasi dengan dokter anestesi. Sesudah menjalani prosedur operasi, pasien biasanya harus menyediakan jeda setidaknya 6-8 minggu untuk bisa kembali olaharga dan berhubungan intim.

Seperti semua operasi pada umumnya, peremajaan vagina bisa saja memiliki risiko perdarahan atau infeksi, kata dr. Ni Komang. Karena itu, konsultasi menyeluruh sebelum perawatan dengan dokter yang akan menangani Anda sangatlah penting. Anda juga harus memastikan dokter atau klinik yang Anda pilih benar-benar tepercaya, berpengalaman, dan sudah ada sertifikasi.

Hal yang harus diperhatikan juga, semua prosedur peremajaan vagina tidak diperuntukkan bagi wanita hamil. Tapi boleh dilakukan tiga bulan pasca melahirkan maupun ibu menyusui. Jadi pastikan Anda berdiskusi dulu dengan dokter umum dan ahli ginekologi, untuk menunjukkan bahwa vagina Anda memang memiliki indikasi untuk dilakukan peremajaan vagina.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar