Sukses

Polusi Udara Bisa Pengaruhi Siklus Menstruasi?

Para peneliti Amerika Serikat menemukan bahwa paparan polusi udara dapat memengaruhi siklus menstruasi remaja.

Klikdokter.com, Jakarta Ketidakteraturan siklus menstruasi seseorang dapat dipicu oleh beragam faktor. Diet ekstrem, stres, dan penggunaan pil kontrasepsi adalah beberapa di antaranya. Namun, ada satu hal lagi yang dianggap sebagai biang keladi, yakni paparan polusi udara.

Dilansir WebMD, para peneliti Amerika Serikat mengatakan bahwa paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko remaja perempuan untuk memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur.

“Polusi udara sudah lama dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular dan paru-paru. Namun, studi yang kami lakukan ini memperlihatkan bahwa mungkin ada sistem lainnya, seperti sistem endokrin reproduksi, yang juga terpengaruh,” kata peneliti utama Dr. Shruthi Mahalingaiah dari Boston University School of Medicine.

Dalam studi tersebut, Mahalingaiah dan tim melaporkan bahwa terkena paparan polusi udara pada usia 14 hingga 18 tahun berhubungan dengan ketidakteraturan menstruasi. Rentannya siklus menstruasi remaja perempuan terhadap polusi udara bukan tanpa alasan.

Menurut Dr. Mary Rausch, seorang ahli endokrinologi dari Northwell Health Fertility di Manhasset NY, sistem reproduksi para wanita di rentang usia tersebut masih sangat sensitif karena baru saja mengalami menstruasi. Itulah mengapa organ kewanitaan mereka lebih rentan terkena gangguan ketimbang wanita dewasa. 

Memicu masalah kesehatan lainnya

Tak cuma memicu ketidakteraturan menstruasi pada remaja perempuan, udara yang kotor dan beracun juga dapat menyebabkan sindrom ovarium polikistik. Sindrom ovarium polikistik merupakan kelainan pada indung telur wanita yang terjadi karena hormon yang tidak seimbang.

Tanda dan gejala yang umumnya muncul, antara lain menstruasi tidak teratur, munculnya jerawat, tumbuhnya rambut-rambut halus berlebihan di wajah tubuh, berat badan meningkat, dan jika diperiksa, ada gangguan pada pematangan sel telur sehingga sel telur yang dihasilkan terlalu kecil.

Tak hanya itu, polusi udara juga bisa memengaruhi plasenta atau ari-ari yang terbentuk di rahim wanita. Jadi, bukan cuma memengaruhi kesehatan wanita yang tidak hamil, polusi udara juga bisa mengganggu kondisi kesehatan ibu yang tengah hamil. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Queen Mary di Inggris, polutan ditemukan bisa sampai ke plasenta melalui paru-paru.

Kesimpulan tersebut didapat peneliti setelah mengamati lima wanita hamil di Inggris yang memiliki zat polutan dari polusi udara pada plasenta mereka. Para peneliti sebenarnya belum mengetahui pasti apakah partikel tersebut bisa bergerak ke janin atau tidak. Tetapi pada dasarnya, tanpa harus bergerak ke janin, partikel karbon yang ada di plasenta sangat bisa membawa dampak buruk bagi bayi di kandungan. Misalnya saja, kelahiran prematur, kematian bayi, dan berat badan bayi rendah.  

Bicara soal dampak polusi udara terhadap berat badan bayi, menurut Dr. Adrian Barnett dari Queensland University of Technology, jangan sampai hal tersebut terjadi. “Ukuran janin terhadap kesehatan bayi sangat penting. Dan bayi yang terlahir lebih berat umumnya memiliki tingkat kesehatan yang jauh lebih baik saat masa pertumbuhan dan masa dewasanya,” katanya.

Oleh sebab itu, penting sekali bagi wanita untuk menghindari lingkungan yang terlalu berpolusi. Karena bukan kesehatan paru-paru saja yang bisa terganggu, tetapi kesehatan sistem reproduksi – termasuk siklus menstruasi -- juga bisa terpengaruh. Ingatlah untuk selalu mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama jalan raya besar dan lingkungan industri untuk meminimalkan polusi udara langsung masuk ke dalam tubuh Anda.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar