Sukses

Anak Jadi Korban Bullying, Apa Yang Harus Dilakukan?

Saat mengetahui anak menjadi korban bullying, jangan salah ambil sikap. Ini yang sebaiknya Anda lakukan.

Klikdokter.com, Jakarta Perundungan atau bully semakin ramai dibicarakan. Karena kepolosannya, anak sering kali menjadi sasaran empuk untuk dijadikan korban bullying. Di Indonesia, kejadian bullying pada anak sangat memprihatikan jumlahnya. Data UNICEF menyebutkan setidaknya satu dari empat anak di Indonesia pernah menjadi korban bullying.

Dilakukan dalam berbagai cara

Di Indonesia, kekerasan pada anak paling sering terjadi di rumah dan di sekolah. UNICEF menemukan bahwa 50 persen anak usia sekolah pernah menjadi korban bullying di sekolahnya. Selain itu, dilaporkan juga bahwa lebih dari 25 persen anak pernah mendapatkan hukuman fisik dari orang tua atau pengasuhnya di rumah.

Bullying pada anak tidak hanya berupa kekerasan fisik seperti memukul atau mencubit saja, melainkan bisa berupa kekerasan emosional dan cyberbullying. Kekerasan emosional pun sangat mudah dijumpai di rumah dan di sekolah, berupa mengucapkan sesuatu yang meremehkan, merendahkan, atau menghina si Kecil.

Misalnya saja dengan membanding-bandingkan si Kecil dengan kakaknya yang dianggap lebih hebat, mengomentari bentuk fisik anak dengan memanggilnya “si Gendut”, dan tindakan lainnya yang berpotensi menyebabkan anak menjadi rendah diri atau merasa tidak percaya diri.

Sementara itu, cyberbullying juga sangat rentan dialami oleh anak yang memiliki akun media sosial atau anak yang sudah memiliki gawai pribadi. Kasus yang paling sering terjadi adalah ujaran kebencian dan tindakan body shaming (menghina bentuk tubuh) melalui pesan di gawai atau komentar di media sosial.

1 dari 2 halaman

Tanda anak menjadi korban bullying

Sayangnya, tak semua anak menyadari dirinya mengalami bullying. Selain itu, anak yang menyadarinya juga tak selalu berani menceritakannya pada orang tua. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui beberapa sinyal yang menandakan si Kecil menjadi korban bully, yaitu:

  • Terdapat luka-luka di badan anak, di lokasi yang tidak wajar (misalnya di dada, perut, punggung, bokong) yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
  • Anak enggan untuk masuk sekolah.
  • Anak terlihat lebih takut jika bertemu orang asing dibandingkan sebelumnya.
  • Nafsu makan anak turun drastis.
  • Anak susah tidur di malam hari atau sering terbangun saat tidur.
  • Anak sering mengeluh sakit perut, sakit kepala, atau mual tanpa sebab yang jelas.
  • Anak kembali mengompol padahal sebelumnya sudah tidak mengompol.
  • Barang-barangnya rusak tanpa sebab yang jelas.

Mencegah bullying pada anak terulang kembali

Bullying bisa berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak, bahkan hingga ia dewasa. Oleh karena itu, jika anak menjadi korban perundungan, Anda harus mengambil sikap yang tepat, agar bullying tak terjadi lagi memberi dampak jangka panjang untuk si Kecil. Berikut ini lima hal yang sebaiknya Anda lakukan:

  1. Tenangkan diri Anda dan bicara perlahan pada anak

Sebagian orang tua bersikap reaktif ketika mengetahui anaknya menjadi korban bullying. Sikap seperti ini sebaiknya dihindari karena bisa menyebabkan si Kecil takut untuk menceritakan segala sesuatunya.

Tenangkan diri Anda dulu, lalu berikan pertanyaan-pertanyaan sehari-hari pada si Kecil yang bisa menuntun Anda secara tak langsung pada informasi mengenai kejadian bullying. Misalnya saja dengan menanyakan kesehariannya di sekolah, apa yang disukai dan tak disukainya di sekolah, meminta si Kecil menyebutkan siapa saja yang ia sukai di sekolah, dan sebagainya.

  1. Jadikan diri Anda sebagai sahabat dan orang kepercayaan si Kecil

Ini bukanlah hal yang instan, melainkan membutuhkan waktu dan proses. Sesibuk apapun Anda, sediakan waktu berkualitas setiap harinya bersama si Kecil. Buat ia merasa nyaman untuk bercerita pada Anda dengan mengajaknya bermain, menemaninya belajar, atau pergi “kencan” berdua dengan Anda.

  1. Jika bullying terjadi di sekolah, bicarakan dengan guru atau kepala sekolah

Bicarakan situasi yang dialami oleh anak Anda dengan guru dan kepala sekolah. Tentunya dengan kepala dingin dan tanpa suasana menghakimi. Lakukan konfirmasi kepada pihak sekolah mengenai apa yang Anda ketahui. Kemudian, bersama guru atau kepala sekolah, diskusikan jalan keluar yang terbaik.

  1. Libatkan si Kecil pada aktivitas di luar rumah

Pada umumnya, anak yang menjadi korban bullying adalah anak-anak yang kurang percaya diri. Dan tindakan bullying berpotensi membuat si Kecil jadi makin kehilangan rasa percaya dirinya. Tumbuhkan rasa percaya diri buah hati Anda dengan mengikutsertakannya pada aktivitas yang bisa mengasah minat atau bakatnya.  Misalnya jika si Kecil suka berenang, Anda bisa mendaftarkannya di sebuah klub renang anak. Atau jika ia tertarik dengan musik, ia bisa mengikuti kursus piano, drum, dan sebagainya.

  1. Biasakan si Kecil untuk bergaul dengan anak sebayanya melalui playdate

Terkadang bullying terjadi karena si Kecil canggung untuk bergaul dengan lingkungannya. Kejadian bullying pun menyebabkan ia semakin enggan bergaul dengan orang lain. Jika dibiarkan, si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan mengisolasi diri saat dewasa.

Latih dan dampingi si Kecil dalam bergaul dengan teman seusianya dengan mengadakan playdate. Anda bisa membuat janji dengan beberapa orang tua lainnya untuk membawa masing-masing anak ke tempat yang sudah disepakati bersama-sama.

Mulailah percakapan dengan anak-anak lainnya untuk memancing si Kecil berinteraksi dengan teman-teman barunya, dan buat anak Anda nyaman bermain bersama mereka.

Saat masih kecil, anak memang belum mampu membela dan melindungi dirinya sendiri. Oleh karena itu, Anda sebagai orang tua harus peka terhadap kemungkinan si Kecil menjadi korban bullying. Jika memang hal itu terjadi, hadapi dengan cara-cara di atas untuk mencegah bullying berulang kembali.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar