Sukses

Kenali Hak Kesehatan Anak yang Harus Dipenuhi Orang Tua

Ayah dan ibu, sudah tahukah Anda bahwa ada hak kesehatan anak yang harus dipenuhi orang tua?

Klikdokter.com, Jakarta Memiliki anak merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi semua orang tua. Tak cuma itu, sejak masih dalam kandungan, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi semua hak si Kecil, termasuk hak kesehatannya. Sudah tahu hak kesehatan anak yang harus dipenuhi oleh ayah dan ibu?

Berdasarkan the United Nations Convention on the Rights of the Child, terdapat lebih dari 10 hak anak harus dipenuhi oleh pemerintah dan orang tuanya. Berikut ini lima di antaranya.

  1. Hak untuk hidup sehat

Hidup sehat tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan. Agar si Kecil bisa hidup dengan sehat, orang tua harus mengusahakannya. Bukan hanya sejak si Kecil lahir, melainkan sejak dalam kandungan.

Demi mendukung anak memperoleh hidup sehat dengan optimal, ibu harus mengonsumsi beragam makanan selama hamil, serta memeriksakan kehamilan ke dokter minimal empat kali. Selain itu, ibu juga mengonsumsi tablet zat besi saat hamil, si Kecil mendapatkan inisiasi menyusui dini (IMD) segera setelah dilahirkan, si Kecil mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan ASI diteruskan hingga dua tahun. Selanjutnya, anak juga harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, serta mendapatkan MPASI dan makanan beragam setelah berusia 6 bulan ke atas.

  1. Hak untuk berkembang sesuai potensinya

Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua hal yang berbeda. Pertumbuhan menekankan pada penambahan tinggi badan dan berat badan, sedangkan perkembangan anak mencerminkan kemampuan motorik kasar, motorik halus, berbahasa, bersosialisasi, dan sebagainya.

Banyak orang tua yang menaruh perhatian pada pertumbuhan anak, tapi tak terlalu memberikan perhatian khusus pada perkembangannya. Padahal, berkembang optimal sesuai potensi merupakan salah satu hak kesehatan anak yang harus dipenuhi.

Agar anak dapat berkembang sesuai potensinya, kunci utamanya adalah orang tua harus menyediakan waktu berkualitas yang cukup bersama anak.  Dengan waktu berkualitas, orang tua bisa memberikan berbagai stimulasi pada anak, sehingga otaknya bisa berkembang optimal.

Tak perlu hal yang sulit, stimulasi yang baik bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti membacakan cerita untuk si Kecil, mengajaknya bernyanyi, menanyakan pada si Kecil tentang aktivitasnya sepanjang hari, atau mengajaknya bermain. Saat bersama si Kecil, orang tua juga perlahan dapat mengenali minat dan bakat anaknya untuk bisa diasah lebih lanjut.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Hak untuk mendapatkan lingkungan yang aman dan bebas bullying

Lingkungan yang tidak aman berpotensi merusak kesehatan mental si Kecil. Studi menemukan bahwa anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan bullying rentan mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian saat ia beranjak dewasa.

Agar itu tak terjadi, orang tua bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang aman bagi si Kecil, termasuk di rumah dan sekolah. Jika anak harus dititipkan pada orang lain atau harus bersekolah, kenalilah dengan baik siapa saja yang akan merawat anak. Perhatikan juga tingkah laku anak-anak lain yang ada dalam lingkungan tersebut.

Orang tua juga harus mengenali tanda-tanda bullying pada anak, seperti munculnya luka atau lebam yang tak dapat dijelaskan, adanya pakaian atau buku anak yang rusak tanpa alasan yang jelas, anak sering sulit tidur di malam hari, anak enggan bersekolah, anak sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut, atau anak terlihat suka menyakiti diri sendiri. Jika hal ini terjadi, lakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui adanya kemungkinan bullying terhadap si Kecil.

  1. Hak untuk dibesarkan oleh kedua orang tuanya, bukan salah satu saja

UNICEF menekankan bahwa ayah dan ibu harus berbagi tanggung jawab dalam membesarkan anak, dan bersama-sama memberikan perawatan dan kasih sayang bagi si Kecil. Hal ini sering kali terlewatkan di negara yang kental dengan budaya timur, seperti Indonesia. Sebagian orang masih menganut paham bahwa membesarkan anak adalah urusan ibu.

Mulai sekarang, paradigma tersebut harus diubah. Memberikan perhatian pada anak, mengajaknya bermain, menyiapkan makanannya, mengantar atau menjemput anak ke sekolah, dan aktivitas-aktivitas rutin dalam keseharian anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Sesibuk apa pun orang tua, usahakan agar setidaknya saat akhir pekan, anak bisa mendapatkan waktu berkualitas bersama ayah dan ibunya.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Hak untuk bermain dan berkegiatan seni

Bermain adalah kebutuhan bagi anak. Dengan bermain, pancaindra dan berbagai kemampuan anak diasah. Oleh karena itu, berikan waktu yang cukup setiap harinya bagi anak untuk bermain. Sebenarnya tak ada aturan bakunya, tapi sebagian ahli menyarankan agar anak memiliki waktu bermain setidaknya tiga jam dalam sehari.

Selain mengenai waktu, orang tua juga sebaiknya menyediakan permainan yang bervariasi untuk si Kecil. Bukan berarti orang tua harus menyediakan berbagai mainan yang mahal. Bermain di area terbuka dengan alam atau bermain peran (seperti menjadi dokter-pasien, penjual-pembeli, dan sebagainya) tanpa mengeluarkan biaya pun bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Selain itu, UNICEF juga menekankan bahwa anak harus memiliki akses untuk mengikuti kegiatan seni sesuai keinginannya. Jadi jika anak suka bernyanyi, menari, melukis, bermain musik, orang tua harus menghiraukannya serta menyediakan sarana agar si Kecil bisa mengeksplorasi minatnya.

Terjaminnya hak kesehatan sejak anak dalam kandungan, akan memungkinkan terlaksananya hak asasi manusia yang lain. Apalagi, anak merupakan masa depan sebuah bangsa. Jadi, terus dukung anak agar mendapatkan haknya dengan baik ya, demi tumbuh kembang yang optimal dan masa depan yang cerah.

[HNS/RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar