Sukses

Nonton Televisi Terlalu Lama, Ini Efeknya Bagi Kesehatan

Hati-hati, nonton televisi terlalu lama bisa memengaruhi kesuburan sperma hingga meningkatkan risiko serangan jantung. Cek fakta medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Memang ada banyak sekali informasi, pengetahuan, dan hiburan yang bisa diperoleh dari menonton televisi. Penggunaannya pun tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebagian orang menghabiskan waktunya dengan menonton televisi di rumah jika tak ada kesibukan. Namun, jika nonton televisi terlalu lama, ini justru dapat berdampak buruk terhadap kesehatan Anda.

  • Memengaruhi kerja otak

Pada sebuah studi yang melibatkan 3.200 partisipan, terbukti bahwa paparan televisi terlalu lama bisa memengaruhi kerja otak, khususnya dalam aktivitas berpikir. Kelompok yang menonton televisi lebih dari 3 jam sehari diberikan sejumlah tes yang menilai kecepatan dan ketepatan berpikir. Hasilnya, kelompok tersebut memperoleh nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang hanya sesekali atau tidak menonton televisi sama sekali.

Salah satu teori menyebutkan bahwa penyebabnya bisa karena otak terbiasa bekerja lambat dan tanpa imajinasi saat seseorang menonton tayangan di televisi. Selain itu, untuk dapat bekerja dengan baik, otak juga membutuhkan asupan darah cukup, yang hanya bisa diperoleh ketika tubuh aktif bergerak.

  • Meningkatkan risiko obesitas

Karena hanya duduk dan berdiam diri (serta kerap ditemani camilan tak sehat) saat menonton televisi, seseorang tidak akan mendapatkan aktivitas fisik dalam jumlah yang cukup. Padahal, untuk membakar kelebihan kalori dalam makanan, tubuh yang aktif bergerak mutlak diperlukan. Bila terus-menerus berlanjut, kebiasaan menonton televisi terlalu lama akan berdampak buruk pada metabolisme kalori dan lemak tubuh. Obesitas jadi ancamannya.

Dalam sebuah studi, terbukti bahwa setiap 2 jam menonton televisi, risiko obesitas akan meningkat sebanyak 23 persen. Risiko ini tak hanya berlaku pada orang dewasa. Anak-anak yang terlalu banyak terpaku menatap layar televisi di usia mudanya juga berpotensi mengalami obesitas yang dapat berlanjut hingga ia dewasa.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  • Menyebabkan kematian dini

Tak hanya mengorbankan kerja otak dan mengundang obesitas, kematian dini pun menjadi salah satu risiko bila Anda terbiasa menonton televisi terlalu lama.

Dalam sebuah penelitian di Harvard School of Public Health, Amerika Serikat, orang- orang yang menonton televisi lebih dari 3 jam sehari terbukti berisiko mengalami kematian dini. Angka ini terus meningkat sebanyak 13 persen bila durasi menonton 2 jam lebih lama.

Potensi kematian dini ini terbesar dimiliki pada mereka yang menonton televisi lebih dari 7 jam sehari, yang mana risiko ini melonjak menjadi 47 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang hanya menonton televisi kurang dari 1 jam setiap harinya.

Salah satu penyebab terjadinya kematian dini pada kasus ini adalah serangan jantung. Dalam penelitian yang berbeda, terbukti bahwa setiap 2 jam waktu dihabiskan untuk menonton televisi akan meningkatkan risiko serangan jantung di kemudian hari hingga 15 persen.

  • Menurunkan kualitas sperma

Khususnya bagi pria, terlalu banyak menonton televisi bisa menjadi ancaman tersendiri bagi kesuburannya. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 189 partisipan pria, mereka yang menonton televisi lebih dari 20 jam setiap minggu hanya memiliki sperma subur berjumlah setengah dari kelompok yang jarang menonton televisi.

Sebaliknya, semakin banyak aktivitas fisik yang dilakukan pria, maka semakin baik pula kualitas spermanya. Mereka yang terbiasa berolahraga lebih dari 15 jam seminggu memiliki sperma yang jumlahnya 73 persen lebih banyak dari nilai normal.

Ya, itulah efek yang ditimbulkan jika Anda menonton televisi terlalu lama. Daripada lebih banyak duduk dan berdiam diri menatap layar televisi, lebih baik isilah waktu luang dengan aktivitas fisik. Tapi perlu repot ke gym, cukup dengan menjadi lebih aktif di rumah dengan kegiatan seperti menyapu, mengepel, atau bersih-bersih rumah. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memilih naik menggunakan tangga daripada eskalator atau lift. Terlihat sederhana, tapi dapat berpengaruh besar pada kesehatan tubuh Anda.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar