Sukses

Upaya Pengendalian Resistensi Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik menyebabkan 700 ribu kematian per tahun di seluruh dunia. Apa yang bisa dilakukan untuk mengendalikan keadaan ini?

Klikdokter.com, Jakarta Sejak ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928, antibiotik merupakan obat yang sejatinya hanya ditujukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun seiring berkembangnya zaman, banyak orang yang mengira bahwa antibiotik adalah obat mujarab untuk segala jenis penyakit.

Kekeliruan tersebut tentu menimbulkan rasa khawatir mendalam. Pasalnya, antibiotik yang digunakan sembarangan dan tidak pada indikasinya dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik terjadi saat bakteri tidak lagi dapat dimatikan dengan antibiotik, sehingga mengancam kemampuan tubuh untuk melawan penyakit terkait. Keadaan ini bisa mengakibatkan kecacatan hingga kematian. Fakta menyebutkan, resistensi antibiotik mengakibatkan 700 ribu kematian per tahun di seluruh dunia dan diperkirakan akan mencapai angka 10 juta kematian pada tahun 2050.

Peristiwa tersebut menggerakkan PT Pfizer Indonesia (Pfizer), Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan RS Universitas Indonesia untuk menegaskan kembali akan komitmen bersama dalam mengimplementasikan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Indonesia.

“Agar PPRA bisa dilaksanakan oleh rumah sakit secara baik, diperlukan komitmen bersama dari tenaga medis maupun non-medis, juga infrastruktur rumah sakit,” kata konsultan penyakit tropik infeksi di RSCM dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga pengurus pusat PETRI (Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi), dr. Erni Juwita Nelwan, Ph.D, Sp.PD-KPTI.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama RS Universitas Indonesia, Dr. dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG (K), MGO., mengatakan bahwa risiko resistensi antibiotik dapat dicegah dengan beberapa cara.

“Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, kewaspadaan dini dan komunikasi aktif dengan pasien, sehingga penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara bijak dan infeksi dapat dikendalikan secara benar,” jelas Dr. dr. Julianto.

Dari sisi produsen obat-obatan terkemuka di dunia, Pfizer turut mendorong implementasi program pengendalian resistensi antibiotik secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Di Pfizer, kami didorong oleh komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat dan untuk menjawab kebutuhan pengobatan para pasien yang menderita akibat penyakit infeksi,” kata Medical Director Pfizer Indonesia, Handoko Santoso.

“Kami berharap untuk dapat terus bekerja sama secara erat dengan pemerintah, pembuat kebijakan dan komunitas kesehatan untuk mengembangkan solusi dan berbagi sumber daya untuk membantu mengurangi dampak global resistensi antibiotik,” tambahnya.

Mengenal bahaya resistensi antibiotik

Antibiotik bekerja dengan membunuh langsung bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan keadaan yang lebih parah. Jadi, saat seseorang yang terinfeksi bakteri mengonsumsi antibiotik, obat ini akan langsung membunuh bakteri yang sensitif terhadap antibiotik terkait.

Namun, ketika resistensi antibiotik terjadi, bakteri yang harusnya mati justru kebal dan malah bertambah banyak. Keadaan ini sangat mungkin terjadi apabila antibiotik digunakan sembarangan atau tidak sesuai dengan indikasi yang diberikan oleh dokter.

Adapun tujuh jenis bakteri dengan ancaman resistensi antibiotik, yaitu:

  1. Clostridium difficile, menyebabkan diare yang bisa berakibat fatal
  2. Carbapenem-resistant Enterobacteriaceae, jenis bakteri yang resisten terhadap hampir semua jenis antibiotik dan mudah menyebar
  3. MDR Neisseria gonorrheae, bakteri penyebab gonorea yang resisten terhadap antibiotik yang biasa digunakan untuk menanganinya
  4. Extended spectrum B-lactamase producing Enterobacteriaceae
  5. MDR Pseudomonas, bakteri yang dikaitkan dengan pneumonia
  6. MDR Salmonella
  7. Methicillin Resistant Staphylococcus aureus(MRSA).

Mulai saat ini, jangan lagi gunakan antibiotik seenak hati. Jadilah orang yang berperan dalam mencegah resistensi antibiotik, dengan menyebarkan informasi bahwa antibiotik hanya dapat digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan harus sesuai dengan resep dokter. Dengan demikian diharapkan kasus resistensi antibiotik tak lagi menelan korban.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar