Sukses

Alergi Antibiotik Bisa Picu Gangguan Kulit?

Antibiotik terkadang bisa memicu timbulnya alergi. Bahayanya, itu bisa mengganggu kulit Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak obat dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, bahkan dapat memicu reaksi alergi. Salah satu yang sering memicu alergi adalah antibiotik. Benarkah antibiotik bisa memicu gangguan kulit?

Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Obat ini bisa menyembuhkan dengan cara membunuh atau dengan menjaga bakteri tersebut dari kemungkinan bereproduksi sehingga tidak berkembang semakin banyak.

Antibiotik lazim diberikan oleh dokter dengan pesan, "jangan lupa habiskan ya". Hal itu bertujuan agar bakteri di dalam tubuh benar-benar mati sehingga Anda tidak sakit semakin parah.

"Lebih tepatnya bukan memicu gangguan kulit, tapi gangguan kulitnya itu muncul sebagai tanda atau gejala dari seseorang mengalami alergi antibiotik," ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter saat dikonfirmasi.

"Kalau orang alergi obat apa pun, tanda pertamanya memang muncul di kulit. Mulai dari kemerahan, biasanya gatal-gatal, bentol-bentol, atau orang awam menyebutnya biduran. Bisa juga nanti muncul seperti bola isi cairan dan mengelupas di seluruh tubuh. Yang paling berat adalah alerginya berat bisa sampai membuat sesak napas, bahkan gagal napas," kata dr. Sepri lagi.

Alergi biasanya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap zat yang biasanya tidak berbahaya. Perlu diketahui bahwa alergi tidak selalu muncul saat pertama kali konsumsi antibiotik. Hal ini karena tubuh baru mengenal zat yang terkandung dalam antibiotik tersebut. Hal itu baru muncul pada saat paparan selanjutnya, dan kemudian menjadi respons alergi.

Menurut dr. Adellin Jaclyn dari KlikDokter, kebanyakan alergi antibiotik disebabkan oleh golongan penisilin atau antibiotik yang berhubungan erat dengan penisilin. Alergi bisa juga dipicu oleh golongan lain, yaitu sulfonamid.

Bisakah alergi obat disembuhkan?

Tujuan utama saat mengobati alergi obat adalah dengan meredakan gejalanya. Menurut WebMD, gejala seperti ruam, gatal-gatal, dan gatal sering dapat dikontrol dengan antihistamin dan kadang-kadang kortikosteroid.

Untuk alergi yang menyebabkan batuk dan paru-paru tersumbat, obat-obatan yang disebut bronkodilator mungkin diresepkan dokter untuk memperlebar saluran udara. Untuk gejala anafilaksis (keadaan lebih serius yang mengancam jiwa, termasuk kesulitan bernapas atau kehilangan kesadaran), epinefrin bisa sebagai penyembuhnya.

Namun terkadang, teknik desensitisasi digunakan untuk alergi penisilin. Teknik ini dilakukan dengan cara menurunkan sensitivitas tubuh Anda terhadap agen penyebab alergi tertentu. Penisilin dalam jumlah kecil disuntikkan secara berkala dalam jumlah yang semakin besar sampai sistem kekebalan Anda belajar untuk menoleransi obat tersebut. Di sisi lain, jika Anda sangat alergi terhadap antibiotik tertentu, biasanya ada antibiotik alternatif akan diresepkan dokter bila diperlukan.

Sekarang Anda sudah tahu betapa berbahayanya alergi antibiotik, termasuk untuk kulit Anda. Anda disarankan untuk tidak mendiamkan setiap gejala yang muncul. Jika Anda mengalami gejala di atas setelah meminum antibiotik, segera periksakan diri ke dokter. Ingat, jangan sampai minum antibiotik sembarangan tanpa resep dokter.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar