Sukses

Mengapa Konsumsi Antibiotik Bikin Bau Badan Menyengat?

Asupan ke dalam tubuh biasanya berdampak pada bau badan, tak terkecuali saat Anda mengonsumsi antibiotik.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi Anda yang suka makan petai, jengkol, dan hendak buang air kecil, biasanya urine akan langsung berbau menyengat. Hal ini menandakan kalau konsumsi makanan berhubungan dengan bau badan. Hal yang sama pun akan terjadi bila Anda makan obat, misalnya saja antibiotik atau antidepresan. Kenapa ya, hal itu bisa terjadi?

Konsumsi obat dan bau badan

Saat sakit demam, umumnya Anda akan mengeluarkan lebih banyak keringat. Kenaikan volume keringat yang keluar dari kelenjar apokrin di ketiak itulah yang dapat menyebabkan timbulnya bau badan. Terlebih lagi, jika tubuh Anda mengandung banyak bakteri, bau badan pun akan semakin menyengat.

Sementara itu, ada juga yang mengatakan bahwa bau badan bisa terasa lebih menyengat ketika Anda tengah mengonsumsi obat-obatan. Dilansir dari Health How Stuff Works, konsumsi obat memang bisa menjadi sebab perubahan proses metabolisme, sehingga berpengaruh terhadap bau badan.

Dari sekian banyak obat-obatan, antidepresanlah yang dikatakan punya pengaruh besar untuk meningkatkan produksi keringat dan memicu bau badan. Adapun antidepresan yang memiliki efek samping tersebut, salah satunya adalah bupropion hydrochloride.

Selain itu, obat-obatan antiradang yang digunakan untuk mengobati peradangan dan nyeri - seperti ketoprofen dan naproxen - juga dapat menyebabkan keringat berlebih. Bahkan, obat yang digunakan untuk mengurangi jenis lemak tertentu di dalam darah seperti omega-3-acid ethyl esters dan obat untuk mengatasi epilepsi (topiramate) juga punya efek samping yang sama, yaitu memperbanyak produksi keringat dan mengakibatkan bau badan.

Untuk antibiotik, belum banyak penelitian yang secara gamblang mengatakan kalau jenis obat ini bisa menyebabkan bau keringat lebih menyengat. Tetapi, sudah terbukti bahwa antibiotik dapat membuat urine berbau obat dan menimbulkan bau napas yang tidak sedap.

Dikutip dari Men’s Health, antibiotik khususnya yang mengandung penisilin, berasal dari jamur. Sehingga, jamur tersebut dapat berada di urine dan menimbulkan bau yang tidak enak. Nah, ketika Anda sudah tidak lagi mengonsumsi antibiotik, efek samping tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Bau tak sedap karena bakteri di pencernaan

Selain bau badan, pemicu bau tak sedap pada organ tubuh lainnya adalah bakteri yang terdapat dalam sistem pencernaan yang bisa menyebabkan bau mulut. Pasalnya, bakteri pereduksi sulfur dan mikroorganisme lain memanfaatkan senyawa sulfur dalam makanan untuk menghasilkan hidrogen sulfida. Hasilnya? Napas menjadi bau seperti telur busuk!

Bakteri yang menjadi pelakunya adalah H. pylori. Jika terjadi demikian, tentunya antibiotik sangat diperlukan untuk mengobati gangguan kesehatan tersebut. Umumnya, antibiotik diberikan selama 1-2 minggu untuk membunuh bakteri dan menghilangkan gejala.

Saat antibiotik seperti amoxicillin, tetrasiklin, metronidazole atau klaritromisin “menyerang” para bakteri yang ada di organ pencernaan, biasanya bakteri akan bereaksi dan menimbulkan bau busuk. Setelah bakteri mati dan Anda sembuh, biasanya gejala bau busuk itu akan menghilang.

Jadi sederhananya, saat Anda sakit dan mengonsumsi obat-obatan, produksi keringat dari kelenjar memang akan meningkat dan bisa menjadi faktor pemicu bau badan. Tak hanya itu, urine dan napas Anda pun dapat berbau tak sedap. Jika hal ini terjadi pada Anda, berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Dengan demikian, tubuh sehat, Anda pun terbebas dari bau badan tak sedap.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar