Sukses

Kiat Vagina Bebas Lembap

Lembap pada vagina dan area kemaluan wanita dapat menyebabkan anda merasa kurang nyaman. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Klikdokter.com, Jakarta Vagina yang lembap dan mengeluarkan cairan (keputihan) bisa menjadi pertanda hal normal, atau ada masalah pada organ kewanitaan Anda. Beberapa hal bisa menjadi penyebab vagina terasa lembab, antara lain:

  1. Keputihan normal

Vagina memiliki mekanisme pembersihan secara mandiri yang membutuhkan bantuan keluarnya keputihan normal. Oleh karena itu, penggunaan produk kewanitaan yang bertujuan membersihkan vagina sebetulnya tidak diperlukan.

Menurut para ahli, umumnya setiap wanita akan mengeluarkan keputihan ini sebanyak kurang lebih 1 sdt/hari. Warna dan konsistensi keputihan normal bisa berubah seiring siklus haid, tapi umumnya tidak menyebabkan bau dan keluhan gatal.

  1. Rangsangan seksual

Saat terangsang, wanita akan menghasilkan cairan pelumas. Cairan ini berfungsi penting dalam menjalankan hubungan seksual agar tidak terasa menyakitkan dan bisa dinikmati oleh wanita.

  1. Kehamilan

Perubahan hormonal selama kehamilan sering meningkatkan jumlah cairan yang dikeluarkan vagina. Sering kali kondisi ini ditemukan pada awal kehamilan.

  1. Obat-obatan

Obat-obatan terutama alat kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormonal (umumnya akibat tingginya kadar estrogen) sehingga menyebabkan pengeluaran cairan vagina yang berlebih.

  1. Infeksi

Jamur dan berbagai infeksi menular seksual bisa menyebabkan keputihan yang berlebih dan tidak normal. Tandanya antara lain keputihan berjumlah banyak, berwarna kuning/abu-abu/kehijauan, keputihan bergumpal-gumpal, keputihan berbau, muncul gatal, muncul iritasi pada area kewanitaan.

Jika Anda merasa vagina lembap terus-menerus, ada baiknya mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Misalnya, jika disebabkan keputihan normal, rangsangan seksual, ataupun kehamilan, kondisi tersebut normal sehingga tidak perlu penanganan khusus.

Jika disebabkan kontrasepsi hormonal, Anda bisa mencoba mengganti dengan jenis kontrasepsi hormonal lainnya. Anda dapat juga mencoba metode kontrasepsi non-hormonal, misalnya kondom dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

Jika disebabkan infeksi, maka perlu dievaluasi dokter dan diberi terapi yang sesuai dengan kuman penyebab infeksi. Selain itu, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mencegah area vagina menjadi lembap berlebihan.

  • Setelah buang air, biasakan untuk menyeka area kemaluan dari arah depan ke belakang. Hal ini dapat mencegah bakteri dari area anus masuk ke area vagina. Setelah membersihkan area kemaluan, jangan lupa untuk mengeringkannya.
  • Saat mandi, hindari penggunaan sabun pada area kewanitaan, cukup dibasuh menggunakan air hangat. Jika ingin menggunakan sabun, pilih sabun berbahan lembut. Jangan lupa keringkan secara menyeluruh area kewanitaan menggunakan handuk lembut.
  • Hindari pemakaian berbagai produk kewanitaan yang berpotensi mengganggu keseimbangan bakteri normal pada vagina. Setelah berenang atau berolahraga, segera ganti pakaian yang basah dan mandi.
  • Pilihlah pakaian dalam berbahan katun yang lebih memungkinkan area kewanitaan untuk “bernapas”, hindari pakaian dalam yang terlalu ketat. Hindari memakai pakaian dalam pada malam hari. Untuk pakaian dalam khusus, misalnya lingerie, sebaiknya tidak digunakan sehari-hari dan hanya untuk momen tertentu saja
  • Hindari pemakaian pakaian ketat dalam waktu lama, misalnya legging, yoga pants, stocking, pakaian renang, dan celana bersepeda.

Area kewanitaan yang lembap bisa menjadi lingkungan ideal bagi tumbuhnya jamur. Umumnya, penyebabnya adalah jamur Candida albicans yang secara normal hidup di area kewanitaan beserta bakteri lain, dan dikenal dengan flora normal. Jika terjadi gangguan pada flora normal, dapat terjadi pertumbuhan jamur berlebih sehingga menyebabkan keluhan. Mencegah kelembapan vagina adalah salah satu cara mencegah infeksi jamur pada area kewanitaan.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar