Sukses

Ibu Menyusui, Bolehkah Minum Antibiotik?

Meski dinilai sebagai obat serbaguna, konsumsi antibiotik juga harus dipertimbangkan, terutama pada ibu menyusui.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi ibu menyusui, menjaga kesehatan sudah menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Begitu banyak upaya dilakukan untuk memelihara kesehatan, yaitu dengan mencukupi kebutuhan gizi, menjaga pola istirahat, hingga mengonsumsi suplemen. Lalu, bagaimana dengan konsumsi antibiotik?

Terkadang, meski sudah berusaha untuk memelihara kesehatan, ada kalanya tubuh “menyerah” begitu saja dengan penyakit. Sehingga, harapan untuk segera sembuh pun sirna. Jika sudah demikian, pertolongan dari dokter adalah kuncinya.

Dengan mengunjungi dokter, tentunya Anda berharap mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Bila dalam kondisi normal biasanya Anda bisa meminta resep antibiotik, hal yang berbeda akan terjadi bila Anda tengah menyusui si Kecil.

Obat “serbaguna” alias antibiotik tidak bisa dikonsumsi begitu saja. Hanya dokterlah yang mengetahui betul apakah penyakit Anda membutuhkan antibiotik atau tidak. Lagipula, cukup banyak jenis obat-obatan yang dilarang untuk dikonsumsi ibu semasa menyusui.

Bahaya konsumsi antibiotik pada ibu menyusui

Dilansir dari Mom Junction dan Babycenter.com, pada dasarnya, semua antibiotik yang diminum secara oral, aman untuk dikonsumsi dan tidak terlalu memengaruhi kesehatan bayi yang tengah disusui. Asalkan, frekuensi dosis serta konsentrasi senyawa antibiotiknya disesuaikan.

Terlebih lagi, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa antibiotik dapat mengurangi produksi ASI. Namun, akan lebih baik bila konsumsi antibiotik selama menyusui dihindari. Sebab, efeknya bisa berbeda, tergantung kondisi ibu dan bayi.

Jika penyakit yang Anda derita saat menyusui memang membutuhkan antibiotik, sebaiknya katakanlah kepada dokter bahwa Anda sedang menyusui. Biasanya dokter bisa meresepkan antibiotik yang sesuai dengan kondisi Anda tersebut.

Beda halnya apabila resep dokter tidak disesuaikan dengan kondisi menyusui, antibiotik pun bisa memberikan efek kurang baik pada bayi berusia kurang dari 2 bulan. Sebab, ginjal dan hati bayi masih berkembang dan belum bisa mengelola senyawa antibiotik yang berasal dari ASI.

Antibiotik yang secara tidak langsung masuk ke tubuh bayi dari ASI dapat menyebabkan refluks gastrointestinal, saluran pencernaan yang lebih pendek, dan alergi. Di sisi lain, bayi yang terlahir prematur lebih berisiko menerima dampak negatif dari antibiotik.

Hal ini karena beberapa molekul antibiotik memiliki kecenderungan alami untuk larut dalam susu, sehingga menghasilkan tingkat protein yang lebih tinggi (tidak sesuai dengan kebutuhan bayi yang baru lahir).’

Oleh sebab itu, Anda yang memiliki bayi prematur hendaknya lebih berhati-hati dalam mengonsumsi antibiotik, terutama antibiotik yang menggunakan zat radioaktif (radiopharmaceuticals).

1 dari 2 halaman

Meminimalkan risiko antibiotik terhadap bayi

Agar efek negatif dari antibiotik terhadap bayi yang sedang disusui dapat diminimalkan, Anda dapat melakukan beberapa cara berikut ini.

  • Jika bisa, pilih pengobatan dengan salep atau krim antibiotik ketimbang antibiotik oral, untuk mencegah masuknya kandungan obat ke dalam ASI.
  • Minumlah antibiotik tepat setelah Anda selesai menyusui, bukan sebelumnya. Sehingga, rentang waktu antara konsumsi antibiotik dengan menyusui jadi lebih panjang.
  • Pilih jenis antibiotik yang aman terhadap si Kecil dengan mengonsultasikannya secara serius kepada dokter.

Setiap ibu menyusui tentunya ingin memberikan yang terbaik pada buah hatinya. Bila sakit terlalu lama, tentunya ibu akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ASI si Kecil. Namun, bila disembuhkan dengan konsumsi antibiotik, risiko kesehatan bisa mengenai bayi yang disusui. Maka, hindarilah mengonsumsi antibiotik secara sembarangan tanpa resep atau pengawasan dokter hanya karena ingin cepat sembuh. Bisa-bisa, bukannya sembuh, Anda malah terkena resistensi antibiotik dan si Kecil terkena alergi berbahaya.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar