Sukses

Kenali Gangguan Ginjal pada Anak Sejak Dini

Hati-hati, kondisi tertentu ternyata bisa berujung pada gagal ginjal. Berikut ini adalah gejala gangguan ginjal yang bisa muncul pada anak.

Klikdokter.com, Jakarta Viara Hikmatun Nisa (14) hari itu tampak cantik, tampil gaya dengan sepatu berwarna perak yang berkilauan. Ia duduk manis seraya berbincang dengan ayah dan ibunya. Seketika wajahnya tersipu membahas suatu hal yang menggelikan. Siapa sangka, Viara adalah satu dari ratusan anak Indonesia yang mengalami gangguan ginjal. Remaja itu mengidap gagal ginjal kronis.

Sempat koma 50 hari

Semua berawal dari diagnosis dokter yang menyatakan bahwa Viara yang pada saat itu masih berusia 7 tahun, harus dioperasi karena usus buntu. Usai operasi, kondisinya membaik. Namun, enam bulan kemudian Viara harus menjalani operasi kembali karena mengalami perlengketan usus.

Viara ditemani orang tuanya harus berangkat dari rumahnya di Situbondo ke Malang demi mendapatkan pengobatan dengan fasilitas yang memadai. Ironisnya, operasi tersebut tak membuat kondisinya membaik. Jahitan operasi tak mampu menutup bagian perut yang menggembung. Dokter pun menutupnya dengan plastik untuk menghentikan pendarahan.

Gadis kecil itu pun menjalani masa koma hingga 50 hari di ICU. Syaihul Hady dan istrinya pasrah melihat kondisi anaknya itu tergeletak tak berdaya.

Setelah menjalani operasi ketujuh, ternyata dokter menyatakan Viara mengalami gagal ginjal. Gadis kecil itu pun harus menjalani cuci darah di RSCM Jakarta, dimana hanya di situ tersedia alat cuci darah khusus anak.

Dokter spesialis anak RSCM, dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K) yang menangani Viara menjelaskan bahwa selain diagnosis lupus, dehidrasi saat usus terpotong menjadi pemicu Viara mengalami gagal ginjal.

“Penyakit lupus yang menyerang sistem imun diperburuk oleh dehidrasi, sehingga terjadi infeksi berulang, dan menyebabkan gagal ginjal,” paparnya.

1 dari 2 halaman

Tetap bersemangat meski menderita gangguan ginjal

Kini Viara telah menjadi gadis remaja. Meski menderita gagal ginjal ia tetap semangat menjalani hidup. Sembari menjalani cuci darah, ia aktif membuat gelang, tas, atau aksesoris yang dijualnya lewat online shop bernama Viara Shop yang ia buat sendiri.

“Biasanya Viara juga jual ke dokter atau suster yang datang periksa,” ucapnya sambil tertawa.

Menurut Viara, membuat gelang rainbow loom atau tas dari kain flanel bisa membantunya melupakan rasa sakit sekaligus membunuh rasa bosan. Terutama setelah ia harus putus sekolah karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkannya untuk pergi ke sekolah.

Hady dan istrinya cukup terbantu dengan bantuan biaya pengobatan Viara dari BPJS. Namun, untuk menyokong keseharian selama di Jakarta, kini ia berjualan buku yang ditulisnya sendiri dengan judul “Gadis Kecilku”, setiap hari Minggu, di Bundaran HI.

“Dulu saya selalu catat semua yang terjadi pada Viara, karena capek juga kalau ada yang tanya kondisi Viara. Saya tulis tangan sampai berlembar-lembar. Kebetulan ada donatur yang menawarkan bikin buku. Lumayan buat nambah biaya hidup di Jakarta,” kenangnya.

Kasus gangguan ginjal pada anak di Indonesia

Data yang dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2017 menyatakan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan terhadap 14 rumah sakit di Indonesia menunjukkan sekitar 212 anak mengalami gagal ginjal dan tengah menjalani terapi pengganti ginjal. Usia terendah dialami oleh bayi di bawah 1 tahun, dengan jumlah pasien sebanyak 3 anak.

Dari penelitian tersebut, ditemukan fakta bahwa penyebab gagal ginjal pada anak yang paling sering terjadi adalah sindrom nefrotik resisten steroid (16 persen), Glomerulonefritis (14,6 persen), hypoplasia/ dysplasia kongenital (12,3 persen) dan terdapat sebab yang tidak jelas sebanyak 13,2 persen.

Hal ini dipaparkan oleh dr. Eka yang juga bertindak sebagai UKK Nefrologi IDAI, pada acara yang digelar di Kementerian Kesehatan Selasa (13/11) lalu. Menurutnya, risiko kematian pada anak dengan gangguan ginjal kronik stadium akhir (gagal ginjal), bisa 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, orang tua perlu mengetahui tanda-tanda anak mengalami gangguan ginjal.

Deteksi dini dan gejala gangguan ginjal pada anak

Dipaparkan oleh dr. Eka, sekitar 22 persen pasien yang mengalami gangguan ginjal, datang ke RSCM sudah dalam kondisi stadium akhir. Angka ini merupakan data yang dihimpun antara tahun 2007-2009. Melihat dari fenomena tersebut, para orang tua hendaknya mengetahui lebih dalam soal gangguan ginjal pada anak agar dapat melakukan deteksi dini.

Dijelaskan oleh dr. Eka, ada beberapa kondisi anak yang perlu diwaspadai terkena gangguan ginjal. Orang tua sebaiknya melakukan pemeriksaan berkala pada anaknya bila terdapat tanda-tanda sebagai berikut:

  • Bayi lahir dengan berat lahir rendah.
  • Terdapat riwayat gangguan ginjal akut.
  • Anak memiliki hipertensi, obesitas, atau diabetes.
  • Terdapat riwayat gangguan saluran kemih.
  • Adanya kelainan ginjal lainnya.
  • Terdapat riwayat penyakit ginjal pada keluarga

Selain itu, beberapa gejala gangguan ginjal yang harus diwaspadai menurut dr. Eka ada 3, yakni bengkak pada kaki yang simetris antara kiri dan kanan (edema), adanya darah dalam urine (hematuria), serta peningkatan jumlah sel darah putih atau leukosit pada urine (leukosituria).

“Kalau kaki anak sudah terlihat bengkak dan bengkaknya simetris, sebaiknya orang tua segera memeriksakannya ke dokter. Karena gejala fisik itu yang paling sering terlihat,” ucapnya.

Dari berbagai penjelasan di atas, telah banyak ditemukan anak yang menderita gagal ginjal kronik karena diagnosis yang terlambat. Oleh sebab itu, gangguan ginjal pada anak harus diwaspadai sejak dini. Sebagai orang tua, kenali gejala dan tanda-tandanya agar penanganan dini dapat dilakukan, dan anak terhindar dari gagal ginjal.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar