Sukses

Pentingnya Mencegah Bullying

Dampak dari perundungan atau bullying bisa sangat berbahaya bagi seseorang. Lakukan pencegahan sejak dini untuk menghindarinya.

Klikdokter.com, Jakarta Tanggal 12-16 November setiap tahunnya dikomemorasikan sebagai Anti-Bullying Week atau Pekan Mencegah Bullying. Tema yang diangkat tahun ini adalah ‘Choose Respect’, yang berarti pilihlah untuk menghormati orang-orang yang ada di sekitar dengan tidak melakukan bullying. Mengapa tema tersebut diangkat?

Pekan Mencegah Bullying

Setelah Anti Bullying Alliance berkonsultasi dengan 800 anak-anak, remaja, dan para anggota aliansi tersebut, terlihat bahwa salah satu prioritas utama menunjukkan bahwa bullying merupakan suatu pilihan perilaku. Artinya, seseorang dapat memilih untuk tidak melakukannya.

Oleh sebab itu, Anti Bullying Alliance mengedukasi anak-anak dan remaja untuk menjadi contoh yang positif dengan memilih untuk saling menghormati di sekolah, di rumah, di lingkungan sekitar, serta di dunia maya.

Tujuan lain dari diselenggarakannya Pekan Mencegah Bullying adalah untuk mendukung sekolah dan lingkungan lainnya untuk membantu anak-anak dan remaja, staf sekolah, orang tua, serta tenaga profesional lainnya yang bekerja bersama anak-anak untuk memahami definisi dari saling menghormati.

Selain itu, kegiatan ini juga menekankan bahwa bullying merupakan suatu pilihan perilaku, dimana orang-orang dapat memiliki perbedaan pendapat namun harus tetap saling menghormati. Di sinilah betapa pentingnya upaya pencegahan terhadap bullying mulai ditanamkan.

Pentingnya pencegahan terhadap bullying

Mengapa sangat penting untuk mencegah bullying? Hal ini sehubungan dengan berbagai dampak negatif yang dapat timbul setelah seseorang menjadi korban perundungan. Sebab, efek yang timbul tidak hanya dirasakan oleh individu yang menjadi korban, namun juga pada komunitas di sekitarnya.

Salah satu dampak yang cukup sering terjadi pada individu yang menjadi korban dari bullying adalah gangguan kesehatan mental, termasuk di antaranya depresi dan kecemasan. Selain itu, rasa sedih dan malu juga bisa memengaruhi kehidupan korban perundungan.

Ironisnya, semakin sering bullying terjadi, komunitas di sekitarnya kerap menganggapnya sebagai suatu hal yang umum dilakukan, dan semakin banyak orang akan meniru perilaku tersebut. Jika dibiarkan, hal ini dapat menjadi kebiasaan buruk di masyarakat.

1 dari 2 halaman

Perundungan di dunia maya

Perlu Anda ketahui, salah satu jenis bullying yang kini semaking sering dibahas adalah cyberbullying. Jenis perundungan yang satu ini merupakan bentuk kekerasan yang diekspresikan melalui media elektronik.

Contoh yang paling umum dari  cyberbullying adalah mencemooh seseorang melalui pesan teks di smartphone, tablet, komputer, atau bahkan melalui media sosial, forum, serta game. Cara-cara bullying semacam itu memungkinkan orang lain dapat melihat, berpartisipasi, atau membagikan konten dengan sebebas-bebasnya.

Faktanya, cyberbullying sering berkaitan dengan timbulnya gejala depresi pada korban. Akibat yang dialami bisa berupa depresi sedang hingga berat, penggunaan zat terlarang, serta ide dan percobaan bunuh diri.  Oleh sebab itu, tenaga profesional kesehatan perlu memahami dampak dari interaksi tidak sehat yang terjadi di lingkungan virtual terhadap kesehatan mental para remaja sebagai pengguna aktif media sosial.

Lakukan ini untuk mencegah bullying

Dengan banyaknya dampak negatif yang dapat timbul sebagai akibat dari bullying, sangat penting bagi setiap komunitas, terutama lingkungan sekolah, tempat bermain, dan keluarga, untuk menerapkan langkah-langkah guna mencegah perilaku tersebut.

Mencegah bullying dapat dilakukan dengan membantu individu yang bekerja erat dengan anak-anak seperti guru, staf sekolah, orang tua, dan sebagainya. Dengan demikian, anak dapat mengenali apa saja yang dimaksud dengan bullying dan pada tahap ini, edukasi mengenai berbagai aspek negatif yang terlibat dan dampak yang akan terjadi juga sebaiknya dilakukan.

Perundungan atau lebih populer disebut bullying dapat sangat berbahaya bagi kelanjutan hidup individu yang menjadi korban. Tak heran, dilansir dari liputan6.com, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa 40 persen kasus bunuh diri anak di Indonesia disebabkan oleh aktivitas bullying.

Agar anak-anak dapat mengembangkan potensinya dengan baik, perlu ditekankan edukasi seputar pentingnya mencegah aktivitas bullying, terutama di sekolah dan rumah. Dengan peran aktif orang tua serta seluruh perangkat sekolah, tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan optimal.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar