Sukses

Apakah Antibiotik Selalu Efektif Sembuhkan Pneumonia?

Antibiotik kerap diberikan dalam terapi pneumonia. Namun, apakah hasilnya selalu efektif untuk sembuhkan penyakit ini?

Klikdokter.com, Jakarta Meninggalnya Stan Lee, pencipta komik Marvel, akibat pneumonia, menunjukkan bahwa penyakit ini tidak bisa dianggap ringan. Pneumonia adalah infeksi pada salah satu atau kedua lobus paru-paru. Penyebabnya bisa karena infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Mengobati pneumonia bisa dilakukan di rumah maupun di rumah sakit, tergantung kondisi tubuh dan tingkat keparahannya. Dokter pun kerap meresepkan antibiotik. Namun, apakah pemberian antibiotik benar-benar efektif untuk sembuhkan pneumonia?

Pneumonia sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu pneumonia komuniti dan pneumonia nosokomial. Pneumonia komuniti adalah pneumonia yang didapat di masyarakat. Sedangkan pneumonia nosokomial didapat seseorang saat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Misalnya karena penggunaan alat bantu napas (ventilator) yang terlalu lama, berbaring dalam jangka waktu lama (terutama pada pasien koma), setelah menjalani operasi besar, dan pasca stroke.

Penyebab pneumonia yang paling sering disebabkan oleh bakteri. Pneumonia akibat virus, jamur, dan parasit jarang terjadi dan umumnya banyak menyerang seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah (imunokompromise).

Meski penyebab pneumonia bisa bermacam-macam, tapi gejala klinis yang muncul hampir sama pada setiap penderita. Beberapa gejalanya seperti: demam disertai menggigil, batuk berdahak yang kadang disertai darah, sesak napas, dan nyeri dada terutama saat batuk dan bernapas.

Pemeriksaan penunjang yang biasanya disarankan oleh dokter untuk menegakkan diagnosis pneumonia adalah foto rontgen dada dan pemeriksaan darah. Pada foto rontgen dada akan ditemukan gambaran infiltrat pada paru yang menunjukkan adanya infeksi di paru-paru.

Jika dilakukan pemeriksaan darah, maka akan ditemukan jumlah peningkatan sel darah putih sebagai respons tubuh dalam melawan infeksi. Jika diperlukan, pemeriksaan dahak, kultur darah, dan tes serologi juga dapat dilakukan untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang menyebabkan infeksi.

1 dari 2 halaman

Dua jenis pengobatan pneumonia

Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, pengobatan pneumonia terdiri dari pemberian antibiotik dan pengobatan suportif. Sebenarnya sebelum memberikan antibiotik kepada pasien, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kultur untuk memastikan penyebab pneumonia adalah bakteri. Namun, karena beberapa alasan seperti kebutuhan waktu untuk melakukan kultur (paling tidak satu minggu) atau kondisi pasien sudah parah dan dapat mengancam jiwa, pemberian antibiotik boleh diberikan sejak awal.

Pemberian antibiotik menganut terapi empiris, yang mana pemberiannya dilakukan pada suatu kasus infeksi tapi belum diketahui pasti jenis bakterinya apa. Ini diharapkan bisa menghambat perkembangan bakteri yang diduga menjadi penyebab. Pemberian terapi ini harus dievaluasi selama 24-72 jam pertama. Jika kondisi tidak membaik, harus dilakukan pemeriksaan kembali dan melihat faktor-faktor lain.

Selain pengobatan antibiotik, pengobatan suportif juga turut dilakukan. Terapi suportif yang dimaksud adalah istirahat sementara waktu, makan makanan bergizi, minum air putih untuk mencegah dehidrasi, pemberian obat demam dan obat pengencer dahak, dan memberikan terapi oksigen (terutama pada penderita yang sesak). Jika kondisi penderita lemah, bisa dipertimbangkan untuk dirawat inap dan diobservasi secara ketat.

Keefektifan antiobiotik dalam menangani pneumonia

Secara umum, pneumonia bisa sembuh jika ditangani dengan cepat dan tepat. Pemberian antibiotik pada kasus pneumonia pun dianggap efektif, mengingat penyebab pneumonia paling sering adalah karena bakteri.

Penggunaan antibiotik akan efektif dengan melihat beberapa faktor, mulai dari:

  • Faktor penderita: apakah ada komplikasi atau infeksi di luar paru-paru dan apakah respons tubuh penderita adekuat atau tidak.
  • Faktor obat: golongan antibiotik yang dipilih, cara pemberian sudah tepat atau belum, dosisnya sudah benar atau belum, serta reaksi obat.
  • Faktor bakteri: kuman-kuman resisten terhadap antibiotik yang digunakan, serta adanya jenis mikroorganisme lain seperti jamur atau virus sehingga butuh kombinasi obat.

Penyakit pneumonia yang merenggut nyawa Stan Lee pada hari Senin (12/11) waktu setempat, bisa menjadi pelajaran. Pneumonia bukanlah penyakit main-main dan untuk itu harus ditangani secara tepat.

Jika Anda terdiagnosis pneumonia dan dokter Anda meresepkan antiobiotik, janganlah takut. Memperingati Pekan Peduli Antibiotik Sedunia, mari tingkatkan kesadaran dalam penggunaan antibiotik secara tepat. Habiskan antibiotik seperti instruksi dokter Anda, sehingga infeksi yang Anda alami akan teratasi sekaligus mencegah resistensi antibiotik jika tidak dihabiskan.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar