Sukses

Waspadai Gejala Alergi Antibiotik Ini

Tak hanya cuaca atau debu, obat-obatan seperti antibiotik juga dapat sebabkan alergi. Apa saja gejala dari alergi antibiotik?

Klikdokter.com, Jakarta Dewasa ini, banyak orang mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dari dokter. Tak terhitung pula apotek yang menjual bebas antibiotik. Hal ini sering kali membuat penggunaan antibiotik luput dari pengawasan medis. Padahal, mengonsumsi antibiotik secara sembarangan bisa menimbulkan reaksi alergi antibiotik, dari yang ringan sampai berat dan mengancam nyawa. 

Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam menyembuhkan penyakit tertentu, khususnya yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Cara kerja dari obat ini adalah dengan membunuh atau dengan menjaga bakteri tersebut dari bereproduksi sehingga tidak berkembag semakin banyak. Karena itu, antibiotik tidak efektif untuk melawan penyakit yang diakibatkan oleh virus.

Penggunaan antibiotik perlu pengawasan khusus dari dokter. Mengonsumsi antibiotik secara sembarangan dapat menimbulkan komplikasi berupa resistansi antibiotik. Pada kondisi tersebut, bakteri-bakteri yang menginfeksi tubuh telah kebal dan justru bertambah banyak.

Golongan-golongan tertentu perlu lebih cermat saat mengonsumsi antibiotik. Misalnya pada anak, orang tua, orang dengan penyakit ginjal atau hati, serta wanita hamil atau menyusui. Selain membutuhkan penyesuaian dosis, ada pula antibiotik tertentu yang sama sekali tidak boleh dikonsumsi oleh mereka. Interaksi obat antara antibiotik dengan obat lainnya juga dapat terjadi, sehingga harus diperhatikan dengan benar.

Efek samping dan alergi antibiotik

Ada sejumlah efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi antibiotik. Efek samping tersebut, antara lain mual, muntah, diare, rasa tidak nyaman pada perut, dan sakit perut. Namun, perlu diperhatikan bahwa efek samping ini berbeda dengan reaksi alergi akibat konsumsi antibiotik.

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap zat yang biasanya tidak berbahaya. Perlu diketahui bahwa alergi tidak selalu muncul saat pertama kali konsumsi antibiotik, dikarenakan tubuh baru mengenal zat yang terkandung dalam antibiotik tersebut. Saat paparan selanjutnya, barulah akan muncul respons alergi.

Kebanyakan alergi antibiotik disebabkan oleh golongan penisilin atau antibiotik yang berhubungan erat dengan penisilin. Bisa juga dipicu oleh golongan lain, yaitu sulfonamid.

Tanda dan gejala alergi antibiotik kurang lebih sama dengan respons alergi lainnya, yaitu:

  • Ruam
  • Gatal-gatal
  • Mengi atau gangguan pernapasan lainnya
  • Bengkak
  • Anafilaksis (reaksi yang berpotensi mengancam nyawa)

Anafilaksis termasuk reaksi alergi yang berat. Biasanya anafilaksis terjadi dalam satu jam setelah mengonsumsi antibiotik. Jika terjadi anafilaksis, penderita harus segera dibawa ke dokter karena ini merupakan kondisi gawat darurat. Tanda dan gejala dari anafilaksis, antara lain:

  • Sulit bernapas atau napas menjadi berisik
  • Pembengkakan pada lidah
  • Tenggorokan bengkak
  • Kesulitan berbicara atau suara serak
  • Mengi
  • Batuk
  • Pusing
  • Pingsan
  • Pucat dan terkulai (terutama pada orang yang lebih muda)

Terkadang sebelum anafilaksis terjadi, penderita dapat mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Pembengkakan pada wajah, bibir, dan/atau mata
  • Gatal atau bilur
  • Sakit perut
  • Muntah

Dengan mengenali tanda dan gejala alergi antibiotik, diharapkan Anda dapat terhindar dari hal-hal yang mengancam nyawa. Ingat, tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Selalu konsumsi antibiotik Anda sesuai dengan anjuran dokter, perhatikan dosis dan waktunya. Anda juga harus kritis, jika mendapat resep antibiotik, tanyakan kepada dokter apakah Anda benar-benar membutuhkannya. Terakhir, informasikan kepada tenaga medis bila Anda memiliki riwayat alergi antibiotik sebelumnya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar