Sukses

Benarkah Pneumonia Bisa Akibatkan Kanker Paru?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pneumonia bisa akibatkan kanker paru. Benarkah? Mari kenali fakta medis keduanya lebih dalam.

Klikdokter.com, Jakarta Pneumonia (sering disebut dengan istilah paru-paru basah) adalah infeksi salah satu atau kedua lobus paru, tepatnya pada kantong udara (alveolus). Penyebabnya adalah virus, bakteri, jamur, dan parasit. Angka kejadian pneumonia di dunia sendiri cukup tinggi, yaitu sekitar 15-20 persen dan menjadi penyebab kematian tersering kelompok usia lanjut. Ada yang mengatakan bahwa pneumonia bisa sebabkan kanker paru. Agar Anda bisa lebih waspada, ketahui kaitan antara kedua penyakit tersebut di bawah ini.

Sekilas mengenai pneumonia

Secara umum, tubuh manusia – khususnya paru-paru – memiliki mekanisme pertahanan yang dapat mencegah terjadinya infeksi saluran napas. Pada saluran napas atas, terdapat pertahanan dengan adanya rambut-rambut halus dan lendir. Gunanya adalah untuk mendorong kuman keluar dengan cara batuk atau ditelan.

Namun, pada kondisi-kondisi tertentu, seperti pada pasien yang berbaring lama dengan penggunaan alat bantu napas (ventilator), kelemahan struktur organ pernapasan, dan sistem imun rendah (seperti penggunaan obat-obatan steroid jangwa waktu lama dan kemoterapi) dapat mengganggu sistem pertahanan di saluran napas. Kondisi tersebut bisa akibatkan kuman masuk ke paru-paru, sehingga terjadilah infeksi.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya pneumonia antara lain:

  • Usia tua
  • Adanya penyakit jantung
  • Diabetes mellitus
  • Asma
  • HIV/AIDS
  • Kanker

Pneumonia sendiri merupakan penyakit yang bisa sembuh apabila ditangani dengan segera. Namun, jika tidak, pneumonia bisa menimbulkan gagal napas yang bisa berujung pada kematian.

Beberapa gejala yang mengarah pada pneumonia antara lain:

  • Demam tinggi disertai dengan menggigil
  • Batuk dengan dahak berwarna kuning kental
  • Terkadang disertai dengan darah, sesak napas, dan nyeri dada saat bernapas
1 dari 2 halaman

Kaitan antara kanker paru dan pneumonia

Kanker paru juga merupakan penyebab kematian tertinggi pada laki-laki dan sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Meskipun pneumonia dan kanker paru memiliki faktor risiko yang serupa, tapi perlu diketahui bahwa keduanya adalah dua kondisi yang berbeda.

Pada pneumonia, paru-paru tengah mengalami infeksi, sedangkan pada kanker paru terjadi perubahan sel-sel paru yang abnormal, berkembang dengan cepat, dan menjadi ganas.

Apabila seseorang terkena pneumonia, bukan berarti penderitanya lantas akan berisiko lebih tinggi untuk terkena kanker paru. Justru sebaliknya, penderita kanker paru akan lebih tinggi mengalami pneumonia. Ini disebabkan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh pada penderita kanker paru akibat pengobatan kemoterapi yang dijalani.

Terkadang, gejala yang ditunjukkan kanker paru tidaklah khas, bahkan bisa mirip dengan gejala pneumonia. Namun, ada beberapa gejala yang mungkin bisa Anda waspadai antara lain:

  • Batuk dalam jangka waktu lama yang makin memburuk dan disertai darah
  • Suara serak
  • Sulit menelan
  • Sesak napas
  • Nyeri dada saat batuk maupun bernapas
  • Bengkak pada wajah atau leher
  • Mudah lelah
  • Nafsu makan hilang
  • Penurunan berat badan

Pengobatan pneumonia dan kanker paru tentu saja berbeda. Pada pneumonia, pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika disebabkan oleh bakteri, maka akan diberikan antibiotik sesuai dengan jenis bakterinya. Jika sebabnya adalah virus, maka akan diberikan antivirus. Pada pengobatan kanker paru, ini bergantung pada tipe kanker dan kondisi tubuh penderita.

Sama-sama bisa mengancam nyawa, baik pneumonia maupun kanker paru sebenarnya bisa dicegah. Mulailah dari diri sendiri dengan cara menghentikan kebiasaan merokok dan menjauhi asap rokok.  Merokok sama saja dengan menumpuk zat racun yang akan memengaruhi kesehatan sel paru dan dapat merusak sistem pertahanan di saluran napas. Selain itu, Anda bisa mencegah penularan infeksi paru-paru dengan menjaga kesehatan dan kebersihan diri, memakai masker di tengah paparan asap atau polusi, makan sehat bergizi seimbang, dan olahraga secara teratur.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar