Sukses

Generasi Z Rentan Terserang Gangguan Mental

Generasi Z ternyata adalah generasi yang rentan terhadap gangguan mental. Mengapa demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Generasi Z,  yaitu anak-anak muda yang berusia 15 dan 21 tahun, dilaporkan lebih rentan terkena gangguan mental dari generasi lainnya. Kondisi ini tidak terlepas dari aktivitas politik, kekerasan dan pelecehan seksual, serta perubahan iklim yang terjadi. Dan, survei baru menunjukkan bahwa permasalahan negara dan global berperan atas tingkat stres pada generasi ini.

Seperti di Amerika Serikat, kekerasan dengan senjata, kekerasan seksual, dan isu imigrasi mendominasi siklus berita pada tahun 2018. Masalah-masalah tersebut dinilai sebagai penyebab utama stres di kalangan generasi Z, menurut survei tahunan yang dirilis  American Psychological Association pada Selasa (30/10).

Survei tersebut dilakukan pada 3.459 orang usia 18 dan lebih tua, serta wawancara dengan 300 remaja usia 15 hingga 17 tahun. Mereka mengukur sikap dan persepsi stres untuk mengidentifikasi sumber stres utama di kalangan masyarakat umum.

"Tekanan yang dihadapi Gen Z berbeda dari yang dihadapi generasi yang lebih tua pada usia yang sama," kata Arthur Evans, seorang psikolog dan CEO dari American Psychological Association.

Tertekan karena permasalahan negara

Evans mengatakan, gangguan mental yang terjadi pada Generasi Z tidak hanya karena aktivitas politik. Secara keseluruhan melibatkan masalah imigrasi, perubahan iklim, meningkatnya tingkat bunuh diri, meningkatnya laporan pelecehan seksual, dan ketergantungan obat.

Sebanyak 68 persen Gen Z antara usia 18 sampai 21 menyatakan keprihatinan terhadap keadaan negara, khususnya terkait masalah politik, imigran, dan pelecehan seksual.

Berita-berita mengenai pelecehan seksual juga memainkan peranan besar dalam tingkat stres anak-anak muda. Sebanyak 53% Gen Z menyalahkan masalah ini sebagai pemicu stres mereka. Sementara, hanya 39% orang dewasa yang mengatakan ini sebagai sumber stres.

Adapun terkait perubahan iklim, 58% dari Gen Z mengatakan itu adalah sumber stres yang signifikan, dibandingkan dengan 51% orang dewasa secara keseluruhan.

Evans mengaitkan hasil ini dengan fakta bahwa daerah-daerah tertentu dari otak Gen Z masih belum cukup matang untuk menangani stres dengan cara yang sama seperti orang yang lebih dewasa.

“Mereka menghadapi banyak masalah yang sama seperti yang dihadapi orang yang lebih dewasa, tapi mereka belum memiliki pengalaman hidup yang dimiliki banyak orang dewasa yang lebih tua, seperti berlatih menanggapi dan mengatasi berbagai penyebab stres," ujar Evans.

Lebih sigap dalam melaporkan masalah mental

Meskipun Generasi Z lebih rentan terkena gangguan mental, survei menunjukkan bahwa anak-anak muda ini lebih sigap dalam melaporkan kondisi kesehatan mental mereka daripada generasi lain.  

Sekitar 37% anak muda Gen Z melaporkan rutin menerima perawatan dari profesional kesehatan mental. Mereka juga merasa bahwa itu cukup untuk mengelola stres mereka. Sementara, hanya 35% dari milenial, 26% Gen X, dan 22% baby boomer yang menerima pengobatan untuk kesehatan mental.

"Ini bisa ditafsirkan sebagai hal yang positif. Generasi ini mungkin sadar dengan kesehatan mental mereka dibandingkan generasi yang lebih tua," ujar Evans.

Dilaporkan juga bahwa keterbukaan tokoh masyarakat tentang isu kesehatan mental bisa menjadi alasan mengapa generasi ini bisa lebih terbuka. Selain itu, penggunaan media sosial juga membantu mereka untuk mendapatkan dukungan – walaupun media sosial juga memiliki dampak buruk tersendiri terhadap kesehatan mental.

Satu hasil positif dalam laporan American of Psychological Association adalah, 75% dari keseluruhan peserta penelitian mengatakan mereka yakin akan masa depan yang baik.

Evans juga mengatakan bahwa menyalurkan stres ke sesuatu yang bermakna dan produktif adalah pendekatan yang sehat untuk mengelola gangguan mental. Cara ini bisa dilakukan oleh Generasi Z maupun generasi lainnya. Jadi lakukanlah langkah aktif untuk menangani stres yang Anda alami. Anda bisa mengawalinya dengan mulai menerapkan pola hidup sehat atau berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.  

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar