Sukses

Waspadai Peredaran Obat Palsu

Peredaran obat palsu masih marak terjadi. Selain berdampak buruk bagi industrI farmasi, juga mengancam kesehatan penggunanya.

Klikdokter.com, Jakarta Konsumsi obat memang tak boleh sembarang dan sebelumnya harus dikonsultasikan dengan dokter. Tak hanya itu, cara mendapatkan obat pun harus diperhatikan karena peredaran obat palsu masih marak. Kondisi ini tentu saja tak baik bagi industri farmasi, tapi juga bisa mengancam kesehatan orang-orang yang mengonsumsinya.

Pada akhir tahun 2012, 60 orang meninggal di dua kota di Pakistan setelah minum obat batuk sirop. Tes awal di negara tersebut mengungkapkan bahwa obat-obatan tersebut tampaknya mengandung jumlah bahan yang benar, tapi pada tes lebih lanjut terungkap bahwa ada bahan yang tak seharusnya ada di obat batuk sirop tersebut. Bahan tersebut adalah levomethorphan, yakni bahan kimia yang lima kali lebih kuat dari morfin, yang merupakan kontaminan yang menyebabkan kematian.

Lalu pada September 2013, 44 anak di Paraguay harus dirawat di rumah sakit dengan keluhan kesulitan bernapas. Ternyata, semua anak tersebut diberi obat batuk lokal. Peneliti menemukan bahwa pada obat batuk juga terdapat levomethorphan.

Dilansir dari berbagai sumber, di Indonesia, peredaran obat palsu juga masih masif terjadi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan harus mencabut izin 177 penjual. Rinciannya adalah 156 penyalur obat palsu dan 21 penjual NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Penjualan obat palsu terus merangkak naik pada 2018. Sampai pertengahan tahun saja, BPOM sudah mengeluarkan 230 rekomendasi untuk mencabut izin pembuatan obat. Angka ini menunjukkan masih banyaknya obat palsu yang beredar.

Peredaran obat palsu sulit dilakukan pengecekan

Mengecek dan membedakan mana obat palsu dan obat asli memang sulit. Sulitnya mekanisme untuk pengecekan juga berpengaruh. Oleh karena itu, pihak BPOM melalui Direktur Intelijen BPOM Wildan Sagi pada April lalu mengatakan akan terus melakukan pengecekan rutin kepada setiap penjual atau penyalur obat-obatan. Di sisi lain, BPOM juga meminta masyarakat untuk lebih selektif dalam membeli obat.

Banyak juga obat palsu disebut sebagai "obat dengan kualitas rendah". Obat tersebut mungkin tidak dibuat oleh pabrik yang namanya tercantum dalam kemasan obat. Atau bisa jadi, obat tersebut tidak mengandung bahan dan jumlah seperti yang tertera pada kemasan.

Obat-obatan berkualitas rendah memang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Contoh kasus adalah Peter Gillespie yang dipenjara karena memperkenalkan 72.000 paket obat palsu ke dalam sistem distribusi obat Inggris dari tahun 2006-2007. Sebanyak 25.000 paket mencapai apotek dan diberikan kepada pasien. Obat berbentuk tablet digunakan untuk mengobati penyakit jantung, kanker pankreas, dan gangguan mental.

Bahkan, obat-obat berkualitas rendah juga bisa mengakibatkan kematian. Contoh kasus adalah Thomas Rybinski, seorang pekerja berusia 56 tahun dari Tennessee, Amerika Serikat, yang mendapat suntikan untuk sakit punggungnya pada 2012. Dia jatuh sakit dan meninggal karena obat itu memiliki kontaminan yang menyebabkan meningitis jamur.

Perlunya perbaikan regulasi secara global

Memastikan kualitas obat adalah sebuah tantangan global. Sebuah pil mungkin dibuat dari bahan-bahan yang bersumber dari beberapa negara, dikirim melalui beberapa pelabuhan, dikemas, lalu dikemas ulang di berbagai negara, dan akhirnya dijual. Jumlah titik dimana obat-obatan palsu atau yang kualitasnya di bawah standar dapat masuk ke rantai sangat mengejutkan, sehingga koordinasi berskala internasional sangat penting untuk dilakukan.

Elizabeth Pisani, seorang ahli epidemiologi dari King's College London, Inggris, menyarankan agar Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki data terkait produk medis yang tidak memenuhi standar atau palsu di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa alat utama yang penting adalah regulasi ketat agar peredaran obat bisa menjadi lebih baik.

Baik peredaran obat-obatan palsu maupun obat berkualitas rendah masih marak dan ini harus diwaspadai. Bukannya malah mengobati, tapi kesehatan penggunanya bisa terancam, bahkan bisa berujung pada kematian. Sebagai langkah pencegahan penting, belilah obat di tempat yang terpercaya, jangan tergiur dengan obat yang harganya murah, dan jaga selalu kesehatan dengan pola hidup sehat sehingga Anda tidak perlu mengonsumsi obat apa pun.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar