Sukses

Pelari Electric Jakarta Marathon Meninggal, Akibat Gagal Jantung

Kabar duka datang dari ajang Electric Jakarta Marathon. Salah satu pelari kategori 5K meninggal dunia, diduga karena gagal jantung.

Klikdokter.com, Jakarta Perhelatan ajang lomba lari Electric Jakarta Marathon 2018 pada Minggu (28/10) meninggalkan duka. Salah satu peserta pelari bernama Arief Hartani meninggal dunia ketika di perlintasan saat hendak menyelesaikan kategori lomba 5K. Korban tiba-tiba terjatuh dan diduga meninggal akibat gagal jantung.

Dilansir Liputan6.com, kabar meninggalnya Arief Hartani dibenarkan oleh Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Lukman Cahyono. Dia menyebut tidak ada masalah lain, seperti jatuh atau terluka, tapi korban meninggal karena sakit yang diduga gagal jantung. Selepas dievakuasi di lintasan, jenazah Arief langsung dibawa ke RSAL Mintohardjo, Jakarta Pusat.

Pernah ada kejadian serupa

Kejadian peserta lari maraton meninggal di lintasan juga pernah terjadi di ajang Bali Marathon 2018 beberapa waktu lalu. Korban bernama Denny Handoyo, 50 tahun, meninggal dunia 100 meter jelang garis finis. Seketika tubuhnya ambruk setelah hampir berlari sejauh 9 kilometer.

Denny  sempat mendapat pertolongan dari Palang Merah Indonesia (PMI) yang berjaga di sekitar lintasan lari. Tapi, nyawanya tak tertolong saat dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu yang terletak di Saba, Bali.

Dengan dua kali kejadian pelari maraton meninggal di lintasan, menurut running-advice.com, empat kondisi utama yang menyebabkan kematian pada pelari maraton adalah penyakit jantung pada pelari di atas 35 tahun, cacat jantung genetik pada pelari di bawah 35 tahun, hiponatremia atau kadar natrium darah rendah, dan penyakit terkait panas seperti heatstroke.

Gagal jantung menghantui pelari

Fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Jika terjadi gagal jantung, artinya ada kegagalan dalam fungsi pemompaan darah. Menurut dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, tidak terpompanya darah dengan maksimal menyebabkan penumpukan darah pada ekstremitas, misalnya lengan, tungkai dan paru-paru.

Gagal jantung diidentikkan dengan penyakit lain, seperti diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, dan gangguan katup jantung. Tiga riwayat penyakit ini meningkatkan risiko seseorang untuk terkena gagal jantung.

Menurut dokter spesialis jantung dr. Vito A. Damay, Sp.JP., awal mula gagalnya jantung untuk memompa darah biasanya disebabkan oleh pembentukan plak di pembuluh darah. Munculnya plak dalam pembuluh darah dipicu oleh kadar kolesterol yang tinggi. Selain itu, gagal jantung bisa terjadi karena hantaman benda keras.

Melihat bahaya dari gagal jantung, semua orang harus mengetahui gejalanya untuk mencegah terjadinya hal yang lebih fatal. Di bawah ini adalah sejumlah gejala gagal jantung yang harus Anda waspadai:

  • Sesak napas

Seseorang dengan gagal jantung biasanya mengeluhkan soal sesak napas. Hal ini terjadi karena penumpukan cairan pada paru yang menyebabkan jantung tidak mampu meneruskan darah ke seluruh tubuh, sehingga darah akan tertumpuk pada paru dan menyebabkan sesak napas.

  • Bengkak di bagian tertentu

Pembengkakan tubuh pada daerah tertentu merupakan tanda gagal jantung. Darah akan cenderung "diam" pada lokasi tertentu, karena kegagalan jantung memompa darah. Ini bisa terjadi di kaki dan perut, sehingga kaki penderita gagal jantung biasanya akan membesar. Pembesaran ini disebabkan oleh pengumpulan cairan pada kaki.

  • Mudah lelah

Seseorang dengan gagal jantung sulit melakukan aktivitas normal. Pada keadaan gagal jantung yang berat, seseorang akan kesulitan untuk berjalan beberapa meter. Jantungnya begitu lemah, sehingga tidak dapat menoleransi berbagai kegiatan sederhana.

  • Batuk malam hari

Sering batuk pada malam hari juga merupakan gejala yang kerap kali dikeluhkan seorang dengan gagal jantung. Penderita sering terbangun pada malam hari, karena batuk saat tertidur.

Kasus peserta Electric Jakarta Marathon yang meninggal diduga akibat gagal jantung bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak. Jika Anda mengalami beberapa tanda atau gejala di atas, lebih baik hindari melakukan aktivitas berat seperti berlari berkilo-kilo meter. Segera berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat. 

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar