Sukses

Kenali Dampak Orang Tua Narsis pada Kesehatan Mental Anak

Orang tua yang narsis berpeluang membuat kesehatan mental anak terganggu. Selain itu, anak juga jadi terganggu kemandiriannya.

Klikdokter.com, Jakarta Narsistik atau mungkin yang lebih populer disebut kebanyakan orang dengan narsis adalah suatu sifat dimana seseorang memiliki minat berlebihan pada dirinya sendiri. Bisa dibilang, orang narsistik memiliki kebutuhan untuk dikagumi. Lalu, jika orang tua narsis, bagaimana dampaknya pada kesehatan mental anak?

Menurut Mayo Clinic, narsistik bisa dibilang sebagai gangguan kepribadian. Orang dengan sifat narsistik yang tinggi biasanya kurang memiliki empati untuk orang lain. Di sisi lain, menurut Psychology Today, orang tua yang memiliki kecenderungan narsistik juga berpengaruh pada pola pengasuhan anak.

Perlakuan orang tua narsis pada anak

Kasus orang tua yang narsis biasanya ditandai dengan selalu memperlakukan anaknya yang sudah dewasa seperti anak kecil. Memperlakukan anak yang sudah beranjak dewasa seperti anak kecil biasa juga disebut dengan infantilisasi. Kondisi ini menciptakan siklus ketergantungan dimana orang dewasa harus selalu diberitahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Efek negatif dari infantilisasi pada anak yang sudah beranjak dewasa adalah akan membuat anak merasa terhina, dianggap selalu tidak bisa, dan bisa membuat kesal. Infantilisasi juga menyebabkan kebencian pada orang tua. Bahkan pada anak-anak, infantilisasi dapat memiliki konsekuensi negatif.

Sebuah contoh,  Anda memiliki seorang anak yang baru saja belajar mengikat tali sepatunya. Dia pasti membutuhkan waktu lebih lama daripada anak lain yang  biasa melakukannya. Ketika  Anda sedang terburu-buru karena ada janji sekaligus harus mengantarnya ke sekolah, Anda memutuskan untuk mengikatkan tali sepatunya, demi menyelamatkan waktu Anda. Dengan mengambil alih sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh anak, Anda sudah mengurangi kemandiriannya.

Sekarang bayangkan apa yang terjadi dengan orang tua yang sangat narsistik. Mereka membutuhkan anak-anak untuk tetap bergantung pada mereka, sehingga mereka dapat terus merasa penting dalam hidup anak-anak mereka.

1 dari 2 halaman

Cenderung menggangu kemandirian anak

Penelitian yang dilakukan Nathan Winner and Bonnie Nicholson dari University of Southern Mississippi mengeksplorasi peran berlebihan orang tua pada anak, yang dikenal sebagai “helicopter parenting”. Menurut Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., ABPP, seorang Profesor Emerita dari Psikologi dan Ilmu Otak di University of Massachusetts Amherst, istilah populer ini sebenarnya agak menyesatkan dan lebih akurat disebut infantilisasi.

Menurut Winner dan Nicholson, ini juga bisa disebut sebagai overparenting yang melibatkan dua hal, yakni berlebihan dalam keterlibatan dan terlalu campur tangan. Orang tua yang overparenting dianggap bisa menghambat pertumbuhan kepribadian anak mereka. Imbasnya, anak-anak generasi milenial ini akan cenderung memiliki sifat narsis di kemudian hari.

Seperti disebutkan di atas, orang yang narsis akan membentuk anaknya di kemudian hari menjadi orang yang sama seperti itu. Karena narsis dianggap sebagai gangguan kepribadian, ini tentu berpotensi mengganggu mental anak mereka.

Dengan kata lain, anak-anak dari orang tua yang narsis lebih mungkin untuk lemah dan sangat rendah diri karena pola asuh orang tua yang terlalu mengendalikan mereka. Nantinya, itu akan berpengaruh pada saat mereka beranjak dewasa.

Meski begitu, Whitbourne menyebut orang tua seperti itu biasanya beralasan bahwa mereka melakukannya atas dasar kehangatan dan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Tapi, dalam prosesnya, anak-anak merasa bahwa mereka akan dicintai jika mereka menyetujui keinginan orangtua mereka. Di sisi lain, itu malah semakin mengikis rasa kemerdekaan mereka.

Setiap orang tua memang memiliki pola asuh yang berbeda-beda, dan sangat dipengaruhi oleh karakter setiap orang tua itu sendiri. Namun demikian, jika orang tua memiliki sifat narsis seperti dijelaskan di atas, sebaiknya segera membenahi diri agar kelak tidak memengaruhi kesehatan mental anak.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar