Sukses

Kalbe dan Ristekdikti Kucurkan Dana Penelitian Bidang Kesehatan

Kalbe dan Ristekdikti menggelontorkan dana pengembangan penelitian bidang kesehatan sebesar Rp 1,5 miliar.

Klikdokter.com, Jakarta PT Kalbe Farma Tbk. (Kalbe) bersama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Ristekdikti) kembali menyalurkan bantuan dana penelitian bidang kesehatan di Indonesia. Dana penelitian itu diberikan melalui program pendanaan Ristekdikti-Kalbe Science Awards (RKSA) 2018. Dana penelitian senilai total Rp 1,5 miliar ini diberikan kepada 5 pemenang yang terlebih dahulu mengikuti seleksi proposal.

RKSA 2018 diikuti hampir 445 orang peneliti, praktisi kesehatan, dokter, dan akademisi. Semuanya berlomba mendapatkan dana penelitian lewat proposal yang diajukan. Kemudian, proposal yang masuk untuk RKSA 2018 ini diseleksi oleh dewan juri yang diketuai oleh Prof. Dr. Amin Soebandrio, Ph.D, Sp.MK yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Penelitian diharapkan bisa berguna bagi masyarakat

Pemberian dana penelitian ini didahului dengan diskusi yang bertema Hilirisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat. Diskusi yang berlangsung di Hotel Pullman, Jakarta Pusat itu sebagai pembuka dan pemantik agar dana penelitian yang diberikan bisa dikembangkan, dikomersialisasikan, dan dinikmati oleh masyakarat.

"Sebagai perusahaan yang percaya bahwa inovasi dan penelitan adalah kunci penting bagi kemajuan bangsa, Kalbe terus berkomitmen untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menumbuhkan budaya inovasi di masyarakat, melalui program Ristekdikti-Kalbe Science Awards ini. Kami berharap pemberian dana penelitian ini merupakan implementasi sinergi harmonis antara semua elemen bangsa, khususnya akademisi, industri, dan pemerintah. Nantinya diharapkan kita mampu bersaing sekaligus mewujudkan hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas," ujar Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk.

Meski konsep RKSA agak sedikit berubah, Prea Agusta selaku ketua RKSA 2018, mengatakan itu tak menghentikan antusiasme para akademisi, dokter, dan praktisi kesehatan untuk mengikutinya. Fokus pada RKSA tahun ini adalah pendanaan di bidang kesehatan.

"Penyelenggaraan RKSA 2018 difokuskan pada pendanaan penelitian dalam bidang kesehatan bagi para peneliti Indonesia. Walaupun konsepnya berbeda dengan 2 tahun lalu, ini tidak mengurangi antusiasme peneliti yang mendaftarkan proposalnya. Kami mendapatkan 445 praproposal yang masuk dan dinilai oleh Dewan Juri. Para peneliti yang mendaftarkan proposalnya tersebar di Indonesia dari kampus-kampus ternama hinggan Badan Tenaga Nuklir Nasional," ujar Pre Agusta.

Untuk pendanaan penelitian tahun ini, bidang kesehatan yang dipilih meliputi 3 kategori, yakni Kategori 1 dalam Bidang Farma, Biofarma dan Sel Punca, lalu kategori 2 bidang e-health, alat kesehatan, diagnostik. Serta kategori 3 yakni bidang makanan dan minuman kesehatan, serta produk bahan alam.

Untuk ketiga kategori tersebut, ketua dewan juri RKSA 2018, Prof Amin Soebandrio mengharapkan bisa dikomersialisasikan dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Nantinya, seluruh pemenang dana penelitian ini akan dimonitor per enam bulan sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dengan dewan juri.

"Skema program RKSA 2018 melalui pendanaan penelitian ini, kami harapkan dapat dikomersialisasikan dalam waktu satu tahun. Kami akan memonitor proses penelitian ini setiap enam bulan sekali sesuai dengan waktu yang disepakati antara peneliti dengan dewan juri," ungkap Prof. Amin.

1 dari 2 halaman

Seleksi proposal dan pemenang

Sebagai informasi, seleksi proposal penelitian RKSA 2018 ini dibagi menjadi dua fase. Pertama, yakni praproposal dan kedua adalah presentasi proposal. Untuk fase praproposal, penilaian meliputi tujuan, abstraksi, timeline, dana yang dibutuhan, dan tahapan penelitian. Sedangkan, fase presentasi proposal, peneliti harus mempresentasikan proposalnya meliputi kesesuaian dengan praproposal, detail penelitian yang terdiri dari latar belakang, hipotesa, metode. Lalu, hasil yang diharapkan, detail pendanaan, dan detail timeline penelitian.

Setelah semua tahapan itu dilakukan, dewan juri kemudian memutuskan bahwa ada 5 pemenang dalam RKSA 2018. Jumlah ini bertambah dari yang sebelumnya direncanakan 3 pemenang.

Kelima nama pemenang RKSA 2018 adalah sebagai berikut:

  1. Dr. Anggraini Barlian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan judul penelitian “Aplikasi Micopatterning untuk peningkatan Proliferasi dan Diferensiasi Human Wharton's Jelly Stem Cells”. 
  2. Dessy Natalia, Ph.D dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan judul penelitian “Kinerja Alat Uji Cepat Deteksi Demam Dengue Melalui Variasi Komponen Antigen Dengue”. 
  3. Prof. Endang Sutriswati Rahayu, MS dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan judul penelitian “Pengaruh Konsumsi Probiotik Indegenous Powder dalam Mengatasi Obesitas”. 
  4. Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan judul penelitian “Pemanfaatan Tempe Segar, Semangit, dan Bosok dari Kedelai Tergerminasi sebagai Bahan Pangan Fungsional Hipoglikemik”. 
  5. Dr. dr. Rahyussalim, SpOT(K) dari Universitas Indonesia (UI) dengan judul penelitian “Efektivitas dan Keamanan Terapi Sel Punca Mesenkimal pada Pasien Degerasi Diskus Intervertebralis”. 

Kelima pemenang di atas diharapkan bisa menyelesaikan penelitian mereka dalam waktu satu tahun. Beragamnya tema penelitian pada RKSA tahun ini menunjukkan luasnya cakupan bidang kesehatan di Indonesia. Oleh karena sangat diharapkan  hasil dari kelima penelitian bidang kesehatan tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan demikian cita-cita memajukan bidang kesehatan di Indonesia sekaligus mewujudkan Indonesia yang sehat bisa terwujud.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar