Sukses

Disfagia, Gangguan Susah Menelan yang Picu Malnutrisi

Tahukah Anda, malnutrisi juga bisa disebabkan oleh gangguan menelan seperti disfagia? Mari kenali kondisi satu ini!

Klikdokter.com, Jakarta Disfagia adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan gangguan menelan. Kondisi ini membuat makanan dan minuman membutuhkan usaha yang lebih lama untuk berjalan dari mulut hingga mencapai lambung. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini nantinya dapat memicu malnutrisi maupun dehidrasi.

Apa saja jenis dan penyebab disfagia?

Disfagia dapat menyerang semua jenis usia, tapi paling sering terjadi pada orang yang lebih tua. Ada tiga jenis disfagia secara umum, yaitu: disfagia oral, disfagia faring, dan disfagia esofagus.

Pada disfagia oral, keluhan disebabkan oleh kelemahan pada lidah (misalnya pasca stroke), kesulitan mengunyah makanan, atau kesulitan memindahkan makanan dari mulut. Sementara pada disfagia faring, sumber masalahnya sering kali terletak pada sistem saraf, misalnya karena stroke, penyakit Parkinson, dan lainnya.

Lalu disfagia esofagus biasanya disebabkan oleh sumbatan atau iritasi pada esofagus. Disfagia esofagus umumnya tidak menimbulkan masalah saat menelan makanan.

Ada sejumlah gangguan kesehatan yang dapat memungkinkan timbulnya disfagia, antara lain sklerosis lateral amiotrofik, stroke, sklerosis ganda, eosinophilic esophagitis, efek samping terapi radiasi, kanker esofagus, penyempitan esofagus, dan lainnya.

Tanda dan gejala disfagia yang perlu Anda tahu

Selain kesulitan menelan, inilah gejala lainnya yang dapat dialami oleh orang dengan disfagia:

  • Merasa tercekik saat makan
  • Batuk atau tersedak saat menelan
  • Meneteskan air liur
  • Makanan atau asam lambung naik kembali ke kerongkongan
  • Suara parau
  • Merasa makanan tersangkut
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Kesulitan mengontrol makanan
  • Kesulitan mengawali proses menelan
  • Pneumonia berulang

Sering kali, keluhan disfagia lebih dirasakan jika mengonsumsi makanan yang padat dibandingkan yang bertekstur cair.

Bagaimana dokter mendiagnosis disfagia?

Jika Anda menduga terkena disfagia, segeralah lakukan konsultasi dengan dokter. Beberapa pemeriksaan akan dilakukan untuk memastikan adanya kondisi ini, seperti

  • Pemeriksaan menelan (untuk melihat kemampuan Anda dalam menelan makanan dan minuman dengan berbagai konsistensi, dari padat hingga cair).
  • Pemeriksaan telan Barium (pemeriksaan dengan sinar-X setelah menelan larutan Barium).
  • Endoskopi.
  • Manometri (menilai perubahan tekanan saat otot di esofagus bekerja).
  • Dan sebagainya.

Penanganan dari disfagia sangat tergantung pada tipe disfagia yang dialami serta penyebabnya. Alternatif penanganan yang dapat disarankan adalah sebagai berikut:

  • Terapi menelan (mempelajari cara menelan yang efektif sesuai dengan kondisinya).
  • Mengganti pola makan dengan jenis makanan dan tekstur yang mudah ditelan.
  • Penggunaan tabung (misalnya, NGT) untuk pemberian makan.
  • Pembedahan.
  • Penggunaan botoks.
  • Dan lain-lain.

Disfagia sering kali tidak disadari penderitanya. Jika dibiarkan saja, akan timbul risiko malnutrisi bagi orang dengan disfagia. Hal ini bisa disebabkan oleh proses menelan yang tidak efektif sehingga tidak semua makanan yang dikonsumsi dapat dicerna.

Orang dengan disfagia juga sering takut dengan keluhan tercekik yang muncul. Akhirnya mereka lebih memilih untuk menghindari makan. Selain malnutrisi, disfagia juga bisa menyebabkan dehidrasi akibat ketidakmampuan seseorang untuk minum dengan tepat. Jadi, jangan sepelekan kondisi disfagia dan segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika merasa mengalami gangguan kesehatan ini.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar