Sukses

Manfaat Bedong pada Bayi

Bedong pada bayi dianggap dapat memberikan manfaat tertentu. Tapi, bagaimana bila dilihat dari kacamata medis?

Klikdokter.com, Jakarta Anda pastinya sering melihat ibu yang baru melahirkan membedong bayinya dengan kain atau selimut. Bedong atau bedung adalah proses membarut tubuh bayi di dalam selimut atau kain hingga kedua lengan dan kakinya terlindungi.

Bedong yang dilakukan pada bayi biasanya dilakukan secara ketat. Proses ini merupakan kebiasaan turun-temurun di masyarakat dengan tujuan menjaga bayi agar tetap dalam keadaan hangat dan nyaman, sehingga bayi bisa tidur dalam jangka waktu yang lama. Tapi, adakah manfaatnya secara medis?

Membedong bayi dari sisi kedokteran

Manfaat dan kerugian bedong sudah banyak dibahas pada beberapa penelitian di negara maju. Salah satu manfaat yang paling populer di masyarakat adalah bayi yang dibedong mempunyai kulitas tidur dan kemampuan otot serta saraf yang lebih baik.

Namun, studi terbaru di Inggris yang dimuat di dalam majalah kesehatan Drug and Therapeutic, menyebutkan bahwa tindakan bedong pada bayi tidak dapat meringankan nyeri perut bayi. Sumber yang sama juga menyatakan tentang kelainan pinggul yang mungkin terjadi akibat bayi terlalu sering dibedong.

Perlu Anda ketahui, terlalu sering membedong bayi baru lahir dapat memicu terjadinya osteoartritis (radang pinggul) ketika bayi tumbuh dewasa. Namun, radang pinggul yang terjadi akibat bedong merupakan kelainan yang sebenarnya dapat dicegah dan banyak ditemukan di negara sosio-ekonomis rendah.

Pada bayi normal, keadaan pinggul yang menekuk (menyerupai kodok) dan membentuk sudut 28° sebenarnya adalah normal. Pembentukan sudut akan berkurang ke 19° pada usia 6 minggu dan menjadi 7° pada usia 3 bulan.

Dengan kata lain, posisi tungkai bayi akan menjadi lurus secara perlahan seiring berjalannya usia. Proses bedong ini justru akan menyebabkan pinggul “dipaksa” menjadi lurus, sehingga rentan menyebabkan terjadinya kerusakan formasi pinggul si Kecil.

Bedong sebaiknya dihindari?

Para ahli telah menganjurkan bahwa bedong tradisional sebaiknya dihindari untuk menghindari perkembangan pinggul anak yang tidak normal nantinya. Sebab, kelainan bentuk pinggul yang terjadi setelah lahir akan memengaruhi pembentukan pinggul selanjutnya.

Di Jepang, telah dilakukan program yang melarang penggunaan bedong pada bayi dan ternyata menurunkan terjadinya risiko dislokasi pinggul sebanyak 0.2 persen.

Selain itu pada penelitian terbaru, ditunjukkan bahwa proses bedong bayi berkaitan erat dengan Sudden Infant Death Syndrome atau sindrom kematian bayi mendadak.

Bedong yang terlalu ketat dapat membuat bayi menjadi sesak napas, sehingga laju napas bayi menjadi lebih cepat karena kapasitas paru akan semakin tertekan. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka akan memudahkan terjadinya penyakit paru kronis.

Sampai sekarang, bedong masih dipraktekkan dengan alasan menjaga suhu bayi agar tetap hangat, karena rumah sakit cenderung menggunakan pendingin ruangan. Maka bayi dipaksa dibedong untuk menjaga agar tetap hangat. Hal tersebut yang kemudian membuat proses bedong pada bayi selama di rumah sakit memang perlu dilakukan.

Namun, ketika bayi pulang ke rumah, bayi cukup diberikan pakaian yang nyaman dan hangat dan biarkan ia berbaring dalam posisi telentang di tempat tidur. Apabila Anda ingin tetap membedong si Kecil, awasi secara ketat, terutama ketika sudah mampu membalikkan badan. Sebab, bayi berisiko terjebak dan mengalami sesak napas.

Jadi sudah jelas, meskipun bermanfaat untuk menghangatkan tubuh bayi, bedong sebaiknya tidak dilakukan secara terus-menerus. Untuk menggantikan manfaat bedong pada bayi, sebaiknya kenakan si Kecil pakaian bayi yang nyaman dan hangat, sehingga bayi tidak membutuhkan pakaian tambahan lainnya. Terakhir, atur suhu kamar agar tidak terlalu dingin.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar