Sukses

Hati-hati, Ini Dampak Osteoporosis pada Pria Lansia

Osteoporosis bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali pria. Berikut ini adalah dampak yang mungkin terjadi.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit tulang osteoporosis terjadi ketika kepadatan tulang Anda menurun secara keseluruhan. Hal ini terjadi akibat dari ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang yang disertai rusaknya bagian dalam tulang. Sehingga tulang menjadi keropos dan rentan mengalami patah tulang. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita.

Kondisi saat Anda mengalami osteoporosis

Menurut dr. Nitish Basant Adnani, BMedsc dari KlikDokter, dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai tulang menjadi keropos. Sehingga, osteoporosis umumnya baru diketahui setelah pasien mengalami jatuh atau berada dalam situasi yang membuat tulangnya retak.

“Osteoporosis terjadi secara perlahan selama bertahun-tahun. Kondisi ini umumnya baru bisa diketahui setelah seseorang mengalami keretakan tulang. Jika Anda memiliki kondisi osteoporosis, kepadatan tulang akan berkurang dan tulang Anda menjadi mudah retak,” ujar dr. Nitish.

Lebih lanjut, dr. Nitish menjelaskan bahwa cedera yang umum dialami oleh penderita osteoporosis adalah keretakan tulang pada pergelangan tangan, pinggul, dan tulang belakang. Pada kasus osteoporosis yang parah, batuk atau bersin ringan saja bisa menyebabkan keretakan tulang rusuk atau tulang belakang.

“Gejala lain dari osteoporosis bisa dilihat dari postur tubuh yang bungkuk pada manula. Hal ini terjadi karena pengeroposan tulang belakang yang membuat tulang punggung tidak mampu menahan bobot tubuh,” kata dr. Nitish, melanjutkan penjelasan.

Setiap fase usia dan jenis kelamin memiliki kondisi yang berbeda saat terkena osteoporosis. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap pria yang berusia lanjut?

Osteoporosis pada pria lansia

Osteoporosis dikenal rentan menyerang wanita, khususnya yang sudah memasuki masa menopause. Namun tahukah Anda, bahwa pria juga bisa mengalami hal serupa bahkan lebih parah?

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, satu dari tiga kasus patah tulang ternyata dialami pria dan 37 persen kematian pada pria berhubungan dengan patah tulang. Sayangnya, informasi kesehatan terkait osteoporosis saat ini masih terfokus pada wanita.

“Di Amerika Serikat, angka osteoporosis pada pria diperkirakan akan meningkat sebanyak 51,8 persen dari tahun 2010 ke tahun 2030. Sedangkan, osteoporosis pada wanita menurun sebanyak 3,5 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa promosi kesehatan terkait osteoporosis belum menjangkau kalangan pria,” ujarnya.

Berdasarkan pemaparan dr. Mega, faktor risiko yang dapat membuat seorang pria lebih mudah terkena osteoporosis adalah:

  • Rokok
  • Minuman beralkohol
  • Rendahnya kadar vitamin D
  • Riwayat osteoporosis dalam keluarga
  • Obat-obatan tertentu, seperti obat kanker prostat, steroid, obat anti kejang dan obat antidepresan jenis Selective Serotonin-reuptake Inhibitors (SSRIs)

Peter Ebeling, MD, presiden Endocrine Society of Australia, mengatakan bahwa angka kematian akibat patah tulang pada pria lebih besar dari wanita. Angka kematian setelah 12 bulan terjadinya patah tulang panggul pada pria adalah 37 persen, sedangkan pada wanita 20 persen.

Terlebih lagi, sebenarnya patah tulang yang diakibatkan oleh osteoporosis di kalangan pria lebih banyak terjadi dibandingkan dengan kanker prostat yang terkenal rentan menyerang pria.

“Mengapa risiko kematian pria lebih tinggi setelah mengalami patah tulang? Alasannya masih belum jelas. Namun diprediksi hal ini ada hubungannya dengan infeksi dan penyakit jantung dan pembuluh darah yang meningkat setelah terjadinya patah tulang,” tutur dr. Mega.

Pengobatan osteoporosis biasanya disesuaikan dengan beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, risiko keretakan, dan riwayat jatuh sebelumnya.

Jika Anda didiagnosis mengidap osteoporosis karena adanya keretakan tulang, maka Anda memerlukan pengobatan untuk meminimalkan risiko keretakan yang lebih parah pada masa yang akan datang.

Pahami dampak osteoporosis pada pria lansia di atas. Dengan demikian, Anda perlu menjaga agar asupan kalsium dan vitamin D tercukupi. Dokter mungkin akan menyarankan perubahan pola makan dan pemberian suplemen untuk dikonsumsi agar kebutuhan tercukupi. Agar tulang tetap kuat di masa lansia, ayo perbanyak konsumsi makanan yang mengandung kalsium dari sekarang!

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar