Sukses

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Tidur Sendiri?

Salah satu cara menanamkan kemandirian pada anak adalah dengan belajar tidur sendiri. Tapi, kapan waktu yang tepat?

Klikdokter.com, Jakarta Membuat anak tidur tepat waktu saja kadang sudah seperti perang, alias susah setengah mati. Dan kini, mengajak anak untuk tidur sendiri di kamarnya? Mungkin akan lebih sulit lagi. Tak semua anak siap untuk “pisah ranjang” dengan orang tuanya, meski sudah memasuki usia TK atau SD. Sebenarnya, sampai usia berapa anak boleh tidur dengan orang tuanya?

Sebelumnya, Anda perlu mengetahui bahwa ada berbagai faktor yang memengaruhi kebiasaan anak tidur dengan orang tuanya, yakni faktor budaya, sosial ekonomi, penghasilan keluarga, dan usia ibu. Faktor budaya tidak bisa dilepaskan, terutama di Indonesia. Sangat tidak umum, bayi dan balita tidur di ranjang dan ruang yang berbeda.

Faktor sosial ekonomi juga sangat berpengaruh. Keluarga dengan ekonomi yang terbatas memiliki ketersediaan ruangan dan tempat tidur yang biasanya juga terbatas. Ini membuat orang tua sulit untuk menerapkan “pisah ranjang” kepada anak.

Ketiga adalah usia ibu. Pada negara dengan angka pernikahan dini tinggi, tingkat kematangan dan pendidikan ibu terkadang juga kurang mumpuni sehingga paparan informasi yang didapat juga terbatas.

Keunggulan dan kekurangan tidur bersama orang tua

Tak bisa dimungkiri bahwa pada usia tertentu, kebiasaan tidur dengan orang tua memiliki keuntungan tersendiri. Sebuah penelitian mengungkapkan hubungan positif antara bed sharing (tidur sekasur dengan anak) dengan peningkatan durasi menyusui. Hal ini mudah dipahami sebab dengan tidur di ranjang yang sama dengan bayi, ibu menjadi lebih mudah menyusui bayi, terlebih pada malam hari.

Namun pada sisi lain, bed sharing ibu dan bayi juga meningkatkan risiko sudden infant death syndrome (kematian mendadak pada bayi), seperti yang diungkapkan dalam sebuah studi di Inggris. Peneliti menambahkan bahwa bed sharing sebaiknya tidak dilakukan jika orang tua mengonsumsi alkohol, narkotika, merokok, atau bila bayi lahir prematur.

Penelitian lain menemukan bahwa bed sharing yang dilakukan sampai dengan usia 6 tahun, meningkatkan risiko anak memiliki masalah psikologis internal seperti ketakutan, takut tidak diterima di lingkungan luar, dan gangguan psikosomatik.

Boleh atau tidak bed sharing diterapkan?

Ini tergantung. Bila alasannya untuk mempermudah menyusui anak, tidur bersama anak boleh dilakukan. Anjuran menyusui adalah sampai anak berusia 2 tahun, jadi setelah itu anak bisa dibiasakan untuk tidur sendiri. 

Di negara Timur seperti Indonesia, kesiapan kemandirian anak untuk tidur terpisah akan berbeda dengan negara berkulit putih, tentunya karena budaya yang berbeda. Hal yang jelas, pada usia 8-9 tahun ketika seorang anak laki-laki dan perempuan mulai pubertas, tidur terpisah dengan orang tua maka sangat baik dilakukan.

Bila alasannya adalah ruangan yang terbatas di rumah, tidak ada cara lain bed sharing harus dilakukan. Namun, Anda tetap harus melatih kemandirian anak sesuai dengan usianya. Misalnya anak sudah berusia 3 tahun, maka Anda bisa mengajarkannya untuk membuka dan memasang celana sendiri meski berada di kamar yang sama dengannya.

Nah, bila alasannya adalah karena orang tua yang tidak mampu berpisah lama-lama dengan anak atau ada kekhawatiran yang tidak beralasan lainnya, maka sudah jelas kan siapa yang harus diperbaiki mindset-nya?

Proses transisi dari tidur bersama orang tua dengan tidur sendiri bisa menyulitkan sebagian anak. Ada anak yang cepat beradaptasi, ada pula yang tidak. Jika anak Anda masih susah tidur sendiri, tetaplah bersabar dan konsisten dalam mengajarkannya. Semoga berhasil, ya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar