Sukses

Waspada, Puasa Intermittent Bisa Picu Penyakit Ini

Puasa intermittent dianggap baik untuk menurunkan berat badan dan risiko penyakit. Tapi, adakah efek sampingnya?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu diet yang cukup diminati dan populer adalah intermittent fasting (puasa berselang). Anda mungkin pernah mencobanya dan cocok, atau mungkin gagal sama sekali. Seperti diet lainnya, pola makan ini memang bukan untuk semua orang. 

Puasa intermittent adalah metode pengaturan makan yang memiliki siklus antara periode puasa (tapi boleh minum) dan waktu makan normal. Tidak ada pantangan makanan dalam diet ini karena lebih menekankan pada kebiasaan makan, yakni kapan harus makan dan kapan tidak.

Ada dua bentuk puasa intermittent yang paling banyak diterapkan. Pertama adalah metode 5:2 yang mengharuskan Anda mengonsumsi 500-600 kalori dalam dua hari yang tidak berturut-turut dalam seminggu, tetapi makan seperti biasanya pada 5 hari lainnya.

Kedua adalah metode 16:8, yakni membagi waktu 16 jam berpuasa dan 8 jam untuk makan. Misalnya, jika terakhir makan malam pukul 18.00 maka Anda diperbolehkan makan kembali pada pukul 10.00 keesokan harinya, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa hingga 16 jam ke depan.

Dampak fisiologis puasa intermittent

Tubuh akan mengalami perubahan metabolisme saat menjalani puasa intermittent. Saat memasuki fase pembatasan kalori, pemenuhan kebutuhan gula di tubuh akan minimal. Alhasil tubuh akan menggunakan bahan bakar lain untuk memenuhi kebutuhan basal, yang penting untuk menggerakkan organ-organ vital.

Bahan bakar lain yang digunakan tubuh adalah simpanan lemak tubuh. Hal ini menyebabkan pembakaran lemak di tubuh dan naik turunnya kadar zat metabolik, khususnya asam lemak dan benda keton. Selain itu juga dapat mencetuskan stres metabolik dan hiperfagia saat waktu makan normal. Hiperfagia adalah hasrat untuk makan dalam jumlah yang banyak. 

Puasa intermittent untuk menurunkan berat badan

Menurut beberapa penelitian, puasa intermittent dan diet biasa yang dilakukan secara konsisten sama bagusnya dalam menurunkan berat badan dan lemak tubuh. Namun, pelaku diet intermittent cenderung kesulitan mempertahankan aktivitas harian ketika menjalani fase pembatasan diet. Hal ini menyebabkan diet intermittent lebih sulit dipertahankan untuk gaya hidup jangka panjang.

Jadi, baik atau burukkah puasa intermittent?

Sebuah penelitian mengatakan, puasa intermittent unggul dibandingkan diet biasa (yang membatasi kalori setiap hari). Diet intermittent juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin pada obesitas. Seseorang yang obesitas akan memiliki sensitivitas insulin yang rendah sehingga kemampuan sel menyimpan gula tidak optimal. Sensitivitas insulin yang meningkat sangat baik untuk mencegah diabetes pada orang obesitas.

Sebaliknya, penelitian yang sama mengulas bahwa ada beberapa hal buruk yang bisa terjadi saat melakukan puasa intermittent. Diet ini dianggap dapat menyebabkan kebiasaan pola makan yang berubah-ubah, binge eating atau makan berlebihan pada waktu makan normal, dan penurunan suasana hati. 

Kesimpulannya, puasa intermittent memiliki dampak positif maupun negatif. Boleh saja menerapkan diet ini asalkan pada fase makan normal, Anda tidak lantas “berpesta” atau makan berlebihan. Mengontrol diri saat waktu makan normal tetap penting.

Selain itu, puasa intermittent bukanlah untuk semua orang. Jika Anda sedang hamil atau menyusui, memiliki diabetes, tekanan darah rendah, berat badan kurang, riwayat gangguan makan, sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memulai diet ini.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar