Sukses

Menopause pada Pria, Benarkah Ada?

Menopause adalah waktu berakhirnya masa reproduktif wanita. Apakah keadaan ini juga bisa terjadi pada pria? Begini faktanya!

Klikdokter.com, Jakarta Menopause adalah berakhirnya masa reproduktif wanita. Keadaan ini ditandai dengan berhentinya periode menstruasi selama 12 bulan secara berturut-turut tanpa adanya penyebab lain.

Jika wanita mengalami menopause, bagaimana dengan pria? Apakah pria juga akan mengalami kondisi seperti itu?

Dalam dunia medis, menopause pada pria dikenal dengan istilah andropause. Ini adalah kondisi ketika terjadi perubahan kadar hormon testosteron pria seiring bertambahnya usia. Hormon testosteron itu sendiri memiliki fungsi mempertahankan massa otot, kepadatan tulang, produksi sperma, dorongan seksual, dan sebagainya.

Meski dibilang menopause pada pria, andropause sebenarnya memberikan keadaan yang sedikit berbeda. Pada menopause, wanita tak lagi mengalami ovulasi (proses pelepasan sel telur dari indung telur), juga mengalami penurunan produksi hormon esterogen dan progesteron dalam waktu yang singkat.

Sedangkan pada andropause, penurunan produksi hormon testosteron terjadi secara berangsur dalam beberapa tahun. Umumnya, setelah pria berusia di atas 30-an, penurunan testosteron akan terjadi sebanyak 1% per tahun. Pada usia 70 tahun, penurunan kadar hormon testosteron akan mencapai 50%.

Adapun beberapa keadaan yang dialami pria akibat andropause, antara lain:

  • Gairah seksual menurun

Saat kadar testosteron menurun, gairah seksual atau libido juga akan menurun. Keadaan ini menyebabkan fungsi seksual dari seorang pria juga terganggu. Selain itu, saat andropause pria juga bisa mengalami disfungsi ereksi, penurunan ereksi spontan, dan penurunan kesuburan.

  • Energi berkurang

Testosteron membantu dalam mempertahankan energi dalam tubuh. Saat andropause, pria akan merasa kekurangan energi. Selain itu, penurunan massa otot saat andropause juga berkontribusi dalam berkurangnya energi yang dimiliki pria.

  • Sulit tidur

Testosteron berperan penting dalam mengatur tidur. Karenanya, penurunan kadar testosteron dapat menyebabkan gangguan tidur. Tidak hanya insomnia, pria yang andropause juga bisa mengalami perasaan mudah mengantuk.

  • Depresi

Testosteron berperan dalam mengatur mood. Ketika terjadi kadar testosterone mulai menurun, pria juga mengalami penurunan motivasi dan rasa percaya diri. Hal ini bisa berujung pada depresi.

  • Pengeroposan tulang

Penurunan kadar testosteron saat andropause dapat pula menurunkan kepadatan tulang. Akibatnya, pria menjadi lebih rentan mengalami pengeroposan tulang atau osteoporosis. Bukan tidak mungkin patah tulang juga dapat terjadi sebagai konsekuensi dari andropause.

Selain yang telah disebutkan, andropause juga bisa menyebabkan gejala lain seperti bertambahnya berat badan dengan nafsu makan yang kurang, rambut rontok, penurunan daya ingat, hingga pembesaran payudara (ginekomastia).

Solusi untuk andropause

Andropause merupakan proses alami pada tubuh pria yang tidak dapat dicegah. Namun, saat andropause menghampiri, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan kesehatan tubuh Anda, di antaranya:

  • Menjalani pola makan sehat dan bergizi seimbang
  • Olahraga secara rutin dan teratur
  • Istirahat yang cukup
  • Hentikan kebiasaan merokok atau mengonsumsi alkohol berlebihan.

Perlu Anda ingat bahwa masalah yang muncul akibat andropause dapat berbeda-beda pada setiap pria. Dengan demikian, andropause bisa menjadi suatu kondisi yang perlu mendapatkan penanganan khusus.

Berkonsultasilah lebih lanjut dengan dokter jika merasa gejala-gejala yang terjadi selama andropause menganggu kinerja atau menurunkan kualitas hidup Anda sepenuhnya. Selain itu, ada kalanya konseling perlu dilakukan, mengingat andropause juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis pria.

[NB/ RVS]

2 Komentar