Sukses

Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Bedong Bayi

Ternyata bedong bayi memiliki sejumlah risiko. Pahami kelebihan dan kekurangan bedong bayi sebelum melakukannya pada si Kecil.

Klikdokter.com, Jakarta Bedong bayi merupakan salah satu praktik yang dilakukan pada bayi yang baru lahir. Banyak orang tua yang membedong bayinya dengan alasan untuk mencegah kaki si Kecil bengkok. Ini adalah pemikiran yang harus diubah. Kaki lurus atau bengkok tidak ditentukan oleh bedong bayi. Meski demikian, tak bisa dimungkiri bahwa bedong bayi memang memiliki manfaat baik. Sebelum Anda membedong bayi, mari ketahui apa saja kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihan dari bedong bayi

Pernahkah Anda melihat bayi yang sedang tidur mendadak terlihat kaget, merentangkan tangannya, lalu menangis? Jika pernah, kondisi ini disebut sebagai refleks moro, yaitu suatu refleks alamiah yang dimiliki bayi pada bulan-bulan awal kelahirannya. Biasanya, refleks ini timbul karena adanya suara, sentuhan, atau perubahan cahaya mendadak. Refleks ini kadang membuat bayi kaget dan terbangun dari tidurnya.

Nah, bedong bayi dapat membantu membuat refleks moro ini lebih jarang terjadi, sehingga ia bisa tidur dengan lebih nyenyak tanpa terbangun karena terkejut.

Selain itu, tindakan membedong bayi akan membuat bayi dalam keadaan hangat dan berada dalam ruangan yang sempit, mirip dengan keadaan waktu masih di dalam kandungan ibunya. Sensasi ini akan membuat bayi lebih tenang dan tidak rewel. Terutama pada bayi yang mengalami kolik, bedong bayi bisa membantu mengurangi kerewelan.

Kekurangan dari bedong bayi

Berbagai studi telah membuktikan bahwa bayi yang dibedong memiliki risiko 2-5 kali lipat untuk mengalami displasia pinggul. Kondisi ini merupakan kelainan tulang pinggul yang ditandai dengan tidak pasnya tulang-tulang yang menyusun pinggul, sehingga pinggul menjadi tidak stabil untuk berdiri dan berjalan.

Hal ini bisa terjadi karena teknik bedong bayi yang salah. Banyak orang membedong bayi dalam keadaan tungkai bawah bayi diluruskan semaksimal mungkin. Hal inilah yang memicu terjadinya displasia pinggul pada bayi yang dibedong. Normalnya, tungkai bayi baru lahir memang dalam keadaan agak tertekuk seperti kaki katak. Ini sama sekali bukan kelainan. Saat membedong, tungkai dan kaki harus tetap dibiarkan dalam keadaan agak tertekuk.

Tak hanya risiko displasia pinggul, bayi yang dibedong juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami dehidrasi akibat kepanasan (overheating) dan risiko mengalami kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome atau SIDS). Hal ini terutama rentan terjadi pada bayi yang dibedong dengan terlalu ketat.

1 dari 2 halaman

Jadi, dibedong atau tidak dibedong?

Sebenarnya tidak ada aturan baku apakah perlu bedong bayi atau tidak. Tidak membedong bayi tidak akan mendatangkan kesehatan apa pun bagi si Kecil. Namun, jika Anda memilih untuk membedongnya, ada beberapa aturan yang perlu dipahami agar bayi terhindar dari berbagai risiko yang disebutkan di atas, yaitu:

  • Gunakan kain yang tipis dan menyerap keringat untuk membedong bayi. Selain itu, hindari membedong si Kecil terlalu ketat.
  • Jangan membedong sampai ke kepala bayi. Cukup dari bahu ke bawah. Hal ini akan membantu menurunkan risiko SIDS.
  • Bayi yang dibedong harus selalu tidur dalam posisi telentang, tidak boleh dalam posisi tengkurap atau miring.
  • Biarkan tungkai dan kaki bayi tetap dalam keadaan sedikit tertekuk saat dibedong. Jangan meluruskan tungkai dan kakinya.
  • Batasi penggunaan bedong bayi hingga usia 2-3 bulan saja. Lebih dari usia itu, bedong sudah tidak memberikan manfaat untuk bayi, malahan bisa menyebabkan ketidaknyamanan.

Jadi, pilihan untuk membedong bayi atau tidak kembali pada Anda sebagai orang tua setelah mengenal kelebihan dan kekurangan dari praktik bedong bayi. Jika Anda memutuskan untuk melakukannya, pastikan untuk memperhatikan aturan-aturan di atas agar si Kecil tetap aman dan nyaman.

[RN/ RVS]

1 Komentar