Sukses

Puasa Intermittent untuk Turunkan Berat Badan, Efektifkah?

Puasa intermittent dianggap menjanjikan untuk menurunkan berat badan secara sehat. Ketahui faktanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak metode diet yang dianggap menjanjikan untuk menurunkan berat badan dengan cepat. Mulai dari ketogenik, OCD, hingga puasa intermittent. Ya, puasa intermittent kini makin banyak diminati orang. Namun, dibandingkan diet lainnya, seberapa efektifkah puasa intermittent dalam membakar lemak?

Puasa intermittent atau intermittent fasting adalah metode pengaturan makan yang memiliki siklus antara periode puasa (tapi boleh minum) dan makan. Tidak ada aturan mengenai makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, karena diet ini lebih menekankan kepada waktu makan.

Pola makan intermittent menurunkan berat badan dengan cara mengurangi massa lemak tubuh, serta membakar cadangan lemak untuk dijadikan energi. Bonusnya, kesehatan juga dapat meningkat karena terjadi perubahan sel di dalam tubuh saat Anda melakukan puasa ini sehingga stres oksidatif ikut terbuang.

Selain itu, puasa intermittent juga baik untuk meningkatkan sistem imun, menurunkan kadar kolesterol trigliserida dan LDL, serta menstabilkan tekanan darah dan gula darah.

Cara kerja puasa intermittent dalam menurunkan berat badan

Ketika seseorang berpuasa, tubuh akan berupaya menyediakan energi dari cadangan yang ada di dalam tubuh. Cadangan energi ini umumnya tersimpan dalam jaringan otot dan lemak tubuh. Kemudian, cadangan energi ini akan dipecah oleh hormon-hormon yang ada di dalam tubuh untuk dijadikan sumber energi.

Ada hubungan juga antara puasa intermittent dengan insulin (bagian penting dalam sistem metabolisme tubuh). Metode diet ini rupanya berkaitan dengan insulin. Kadar insulin umumnya akan meningkat saat Anda makan. Namun, saat Anda berpuasa, kadar insulin di dalam tubuh akan cenderung rendah, dan pada saat inilah insulin berperan membantu pembakaran lemak tubuh untuk dijadikan energi.

Selain itu, berpuasa akan memicu perubahan di sistem saraf. Otak akan mengirimkan senyawa kimia norepinefrin ke sel untuk membakar lemak tubuh menjadi asam lemak bebas yang dapat digunakan sebagai energi.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di Chicago pada 2014, puasa intermittent dapat mengurangi berat badan 3-8% dalam kurun waktu 3-24 minggu. Selain berat badan turun, 4-7% orang juga mendapatkan hasil lingkar pinggang yang lebih rendah.

Tips sukses puasa intermittent

Pada awalnya, melakukan puasa intermittent mungkin akan terasa berat. Tapi janganlah menyerah. Berikut ini beberapa tips agar diet Anda sukses:

  1. Mencari tahu metode puasa intermittent yang sesuai dengan keadaan tubuh Anda. Ada beberapa bentuk puasa intermittent yang paling populer dan menjadi pedoman banyak orang, seperti metode 16/8, metode eat-stop-eat, atau metode 5:2.
  2. Kualitas dari makanan. Pilihlah makanan yang sudah pasti baik untuk tubuh. Anda dapat memperbanyak konsumsi sayuran, buah, dan tentu saja air putih harus tercukupi. Jangan lupa juga untuk tidak membalas dendam saat Anda berada di periode makan. Makanlah seperti biasa dan secukupnya.
  3. Konsisten dan sabar. Dalam menjalani diet, tidak ada yang instan. Pasti membutuhkan proses untuk mendapatkan berat badan yang diinginkan. Yang pasti harus sabar karena tubuh juga akan beradaptasi dengan metode diet yang sedang Anda lakukan. Untuk mempermudah, Anda dapat membuat jadwal makanan dan jam puasa yang sama setiap hari.

Selain melakukan puasa intermittent efektif dalam menurunkan berat badan, Anda tetap harus menjalankan pola hidup sehat lainnya seperti berolahraga. Selain itu, untuk memulai puasa intermittent ini Anda dapat membicarakannya terlebih dulu kepada dokter karena kondisi kesehatan setiap orang tidaklah sama.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar