Sukses

Bahaya Gangguan Mata ROP pada Anak

Salah satu anak kembar dari Surya Saputra dan Cynthia Lamusu mengalami gangguan mata ROP. Kenali lebih jauh penyakit mata yang satu ini.

Klikdokter.com, Jakarta Atharva Bimasena Saputra, salah satu anak kembar dari pasangan Surya Saputra dan Cynthia Lamusu, dikabarkan mengalami gangguan mata serius. Kondisi yang dialami oleh Bima disebut dengan retinopathy of prematurity (ROP). Gangguan mata ini terkait dengan kondisi Bima yang dulu lahir secara prematur.

Dilansir Liputan6.com, Bima lahir ketika usia kandungan Cynthia masih 33 minggu, padahal normalnya 37 minggu. Saat itu dokter memutuskan operasi caesar, apalagi kondisi tekanan darah sang ibu sangat tinggi. Rupanya hal itulah yang membuat Bima mengalami ROP.

Apa itu ROP?

ROP atau retinopathy of prematurity merupakan suatu kelainan mata akibat pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada bagian mata yang sensitif terhadap cahaya, yaitu retina. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi prematur yang lahir dengan berat badan di bawah rentang normal.

Itu sebabnya bayi prematur, terutama dengan berat badan di bawah 1.500 gram, dianjurkan untuk menjalani skrining ROP setiap 1-2 minggu sekali.

Pada sebagian besar kasus, ROP tidak menimbulkan kerusakan atau kecacatan jangka panjang dan tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, pada ROP lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen dan kebutaan.

1 dari 2 halaman

ROP pada bayi prematur

Mengapa ROP sering terjadi pada bayi prematur? Hal ini berkaitan dengan perkembangan mata pada janin, yang umumnya dimulai dari bulan ke-4 kehamilan. Pada bayi yang lahir lebih cepat, proses ini menjadi lebih pendek. Pembuluh darah pada retina bayi prematur tidak berkembang dengan sempurna seperti yang seharusnya.

Pembuluh darah yang terdapat pada retina berfungsi untuk memasok oksigen ke mata guna menunjang perkembangan mata. Bayi yang lahir secara prematur dapat mengalami hambatan aliran oksigen ke pembuluh darah yang terdapat pada retina, yang kemudian memicu perkembangan ROP.

Mendiagnosis ROP serta komplikasinya

ROP dapat didiagnosis setelah dilakukan pemeriksaan dan evaluasi mata oleh dokter mata. Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan apakah anak mengalami ROP, di mana lokasinya, bagaimana derajat keparahannya, dan bagaimana tampilan pembuluh darah retina tersebut.

Penanganan dari ROP bergantung dari berbagai faktor, salah satunya adalah derajat keparahan dari kondisi yang dialami.

Beberapa pilihan penanganan yang dapat dilakukan adalah

  • Operasi laser. Dapat menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal, dan dibutuhkan sekitar 30-45 menit per mata.
  • Injeksi. Perawatan ini dinilai menjanjikan, tapi butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan tidak ada efek samping jangka panjang.
  • Pengobatan dengan obat-obatan jenis tertentu, atau pengobatan kombinasi.

Apabila terjadi pelepasan retina, dokter dapat merekomendasikan untuk dilakukan teknik pembedahan tertentu, bergantung dari diagnosis.

Kondisi ROP dapat meningkatkan potensi untuk terjadi beberapa komplikasi, di antaranya mata juling, rabun jauh, rabun dekat, atau glaukoma. Umumnya komplikasi baru timbul saat anak mencapai masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa.

Lalu, bagaimana mencegah terjadinya komplikasi tersebut? Salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah skrining untuk ROP pada bayi prematur. Setiap bayi prematur umumnya disarankan untuk menjalani pemeriksaan dan pemantauan terkait ROP.

Apabila terdapat kecenderungan anak mengalami gangguan mata ROP seperti salah satu anak Surya Saputra dan Cynthia Lamusu, segera bawa anak ke dokter. Selanjutnya, dokter mata akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin. Pemantauan tersebut sangat penting untuk dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya berbagai komplikasi.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar