Sukses

Tips Mengajari Anak Menghargai Makanan

Jangan biarkan anak tumbuh menjadi pribadi yang suka membuang-buang makanan. Ajari mereka menghargai makanan dengan cara ini.

Klikdokter.com, Jakarta Dilansir dari laman Huffington Post, kini sebagian besar masyarakat, terutama yang hidup di perkotaan, telah melupakan konsep menghargai makanan. Terlalu lama tinggal di kota yang apa-apa serba praktis dan cepat, membuat Anda menyepelekan dan kurang mengapresiasi makanan dan berbagai sumbernya. Sebagai contoh, tak jarang makanan yang disajikan terlalu berlimpah, tak habis dimakan, lalu terbuang percuma. Sungguh mubazir, padahal ada banyak orang di luar sana yang sulit mencari makan dan kelaparan.

Tak hanya itu, zaman sekarang tak sedikit orang yang lebih mementingkan rasa ketimbang nutrisi. Hasilnya, kalau makanan rasanya tak enak, langsung dibuang dan lebih memilih makanan yang dianggap lebih menggugah selera. Padahal, di balik setiap makanan yang tersaji, ada jerih payah yang mesti dihargai.

Nah, untuk mengajarkan kepada anak untuk lebih bisa menghargai makanan sejak dini.

1. Terapkan pola pikir: “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengubah pola pikir bahwa Anda dan keluarga makan untuk hidup. Bukan sebaliknya yaitu hidup untuk makan. Ketika anak memahami prinsip Anda tentang makan untuk hidup, niscaya prioritasnya pun ikut beralih menjadi mengonsumsi makanan yang bergizi demi kesehatan tubuh. Pada dasarnya, manusia makan demi memenuhi kebutuhan nutrisi dan kelangsungan hidup, bukan hanya untuk memanjakan lidah.

2. Konsumsi makanan sehat sambil memberi anak pemahaman yang tepat

Makanan sehat di sini adalah makanan alami, bukan makanan instan atau makanan olahan kemasan. Sebagian anak sering kali mengonsumsi makanan kemasan yang manis dan gurih, sehingga tak lagi tertarik makanan berbahan segar yang lebih sehat.

Untuk mewujudkan hal ini, berikan kepada anak camilan sehat seperti segelas susu atau potongan buah. Temani ia saat ia makan sembari menceritakan nutrisi makanan yang ia makan atau sumber makanan tersebut.

Misalnya, terangkan bahwa susu yang ia minum berasal dari sapi yang dirawat oleh peternak, bagaimana keampuhan apel dalam menjaga kesehatan, dan lain-lain. Ajari juga anak bahwa sesuatu yang alami nutrisinya lebih baik daripada makanan yang melalui banyak proses pengolahan.

3. Belajar bercocok tanam

Daripada selalu mengajaknya makan di restoran di mal, sesekali ajak ia berakhir pekan ke tempat wisata yang menyediakan fasilitas bercocok tanam. Hal ini bertujuan agar anak tahu betapa kompleksnya makanan dibuat dan menghargai prosesnya.

Misalnya, anak Anda kerap kali menolak untuk memakan sayuran karena rasanya yang hambar. Maka ajaklah ia untuk menanam sayuran agar ia pelan-pelan menyukai sayur. Kegiatan ini pun bisa Anda lakukan di rumah.

Pilih bibit sayur dan buah yang mudah dalam perawatannya dan tidak tumbuh terlalu besar. Lalu biarkan si Kecil membantu Anda merawat tanaman tersebut hingga hasilnya bisa dipetik. Anda bisa memilihkan untuknya bibit-bibit sayuran yang nanti bisa diolah menjadi makanan yang sehat dan bernutrisi.

4. Mengajaknya berbelanja bahan makanan

Tujuannya, agar anak memahami bahwa makanan tidak terhidang begitu saja di meja makan. Sebelum dimasak, ajak anak ke pasar atau swalayan untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan sambil memberinya penjelasan. Ajari ia memilih bahan makanan yang diperlukan, bukan cuma memilih bahan makanan yang diinginkan.

Jika anak sudah bisa memahami hal-hal yang sedikit kompleks, ajari anak untuk membaca label makanan atau fakta nutrisi, yang ada di balik kemasan. Ajari ia untuk memilih komposisi nutrisi yang tepat.

5. Ajak anak memasak

Selanjutnya, Anda juga bisa mengajak anak ke dapur untuk membantu Anda memasak. Cara ini bisa membuat anak memahami proses pembuatan makanan yang tidak mudah. Tujuan lain adalah agar anak bisa menghargai usaha orang yang menyiapkan makanan tersebut. Dengan demikian, anak bisa termotivasi untuk mengambil makanan sebatas kebutuhannya, dan menghabiskannya saat makan.

Semakin besar keterlibatan anak dalam kelas memasak mini ini, maka semakin besar kemungkinan ia memahami segala proses yang ditempuh. Meski demikian, Anda tetap harus berhati-hati dan tetap mengawasi anak, karena sejumlah benda di dapur berpotensi menimbulkan kecelakaan, seperti pisau, air panas atau api.

Itulah lima tips yang bisa Anda terapkan untuk mengajari anak menghargai makanan. Semakin rutin Anda melibatkan anak semakin cepat pula ia akan memahami bahwa makanan tak boleh disia-siakan. Kesadaran untuk makan makanan sehat bergizi seimbang juga harus ditanamkan sejak dini.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar