Sukses

Bayi Anda Kuning, Haruskah Khawatir?

Bayi kerap berwarna kuning, terutama saat baru lahir. Apakah kondisi tersebut bisa berbahaya?

Klikdokter.com, Jakarta Dalam dunia kedokteran, kondisi bayi yang berwarna kuning disebut dengan ikterus. Ikterus terjadi akibat penumpukan bilirubin di dalam darah. Bilirubin adalah suatu pigmen berwarna kuning kecokelatan hasil pemecahan sel darah merah.

Bilirubin tersebut dinamakan bilirubin indirek yang larut dalam lemak dan akan dibawa oleh albumin ke liver. Di dalam liver, bilirubin dikonjugasi menjadi enzim direk yang larut dalam air dan akan dibawa ke dalam usus melalui saluran empedu. Pada akhirnya, bilirubin di usus tersebut akan berakhir dalam tinja. Pada bayi yang baru lahir, fungsi liver belum sempurna sehingga pengolahan bilirubin dan pengeluarannya dari tubuh belum maksimal.

Perbedaan ikterus normal dan abnormal

Sebenarnya, ikterus merupakan keadaan yang fisiologis (normal). Namun, pada sebagian bayi dapat mengalami ikterus yang patologis (abnormal). Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan antara ikterus fisiologis dan ikterus patologis, seperti:

Ikterus fisiologis

  • Mulai timbul pada hari ke-2 atau ke-3 setelah bayi lahir
  • Kadar bilirubin indirek tidak melewati 12 mg/dL pada bayi lahir cukup bulan dan 10 mg/dL pada bayi lahir kurang bulan
  • Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5mg/dL per hari
  • Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg/dL
  • Ikterus akan menghilang pada 10 hari pertama kehidupan
  • Terbukti tidak berhubungan dengan kondisi patologis.

Ikterus patologis

  • Terjadi pada 24 jam pertama kehidupan
  • Kadar bilirubin melebihi 12 mg/dL pada bayi lahir cukup bulan dan 10 mg/dL pada bayi lahir kurang bulan
  • Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg/dL per hari
  • Menetap hingga melewati 2 minggu pertama kelahiran
  • Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg/dL.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko  bayi mengalami ikterus, yaitu bayi yang lahir prematur, bayi yang tidak cukup mendapat ASI, dan golongan darah bayi berbeda dengan golongan darah ibunya. Sementara itu, ikterus patologis dapat disebabkan oleh anemia hemolitik, sumbatan saluran cerna, masalah pada liver, infeksi saat lahir, dan kurangnya enzim G6PD. 

1 dari 2 halaman

Bagaimana menangani ikterus?

Pada kondisi ikterus, pemberian ASI sesering mungkin dianjurkan (8 sampai 12 kali per hari). Hal ini bertujuan agar frekuensi buang air besar bayi lebih sering sehingga bilirubin yang dikeluarkan juga lebih besar melalui tinja. Selain itu, protein susu ASI juga berfungsi melapisi mukosa usus dan menurunkan penyerapan kembali bilirubin yang tidak terkonjugasi.

Di samping menyusui, terapi sinar (fototerapi) juga digunakan untuk mengatasi ikterus. Paparan sinar tersebut dipercaya dapat membantu memecah bilirubin dalam tubuh bayi. Biasanya terapi sinar dilakukan di rumah sakit dan dalam pengawasan tim medis.

Bila kasus ikterus terjadi akibat perbedaan golongan darah antara bayi dan ibunya, mungkin bayi memerlukan transfusi imunoglobulin melalui pembuluh venanya. Imunoglobulin tersebut berguna untuk menurunkan kadar antibodi yang berasal dari ibu sang bayi. Antibodi dari ibu adalah zat yang meningkatkan pemecahan dari sel darah merah bayi.

Lebih lanjut, pada kasus ikterus yang parah dan jarang, prosedur transfusi darah mungkin diperlukan. Pada prosedur tersebut, darah pada bayi akan diganti dengan darah dari pendonor. Hal ini dilakukan guna mengencerkan bilirubin dan antibodi ibu dalam aliran darah bayi. Transfusi darah harus dilakukan di ruang intensif rumah sakit yang dikhususkan bagi bayi baru lahir.

Mengingat ikterus dapat berjalan secara normal maupun abnormal, Anda perlu lebih waspada jika bayi Anda mengalami beberapa gejala berikut:

  • Bayi berwarna kuning bertahan setelah 1 minggu
  • Warna kuning pada bayi menyebar ke lengan atau kaki
  • Tampak lemas
  • Demam
  • Kesulitan bernapas
  • Rewel atau terus menangis
  • Tampak membiru
  • Tidak mau makan
  • Kejang

Jika mendapati gejala-gejala tersebut pada bayi kuning, Anda patut khawatir. Segera periksakan bayi Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar