Sukses

Ini Dia Terapi yang Tepat untuk Korban Pelecehan Seksual

Mengalami pelecehan seksual dapat memengaruhi korban, mencakup trauma fisik, emosional, dan psikis. Inilah terapi yang tepat untuk mereka.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa waktu belakangan, berbagai media sosial dan media ramai mengangkat kisah seorang penumpang layanan transportasi online Grab yang mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengemudinya. Sebetulnya ini bukanlah kasus yang pertama kali terjadi. Namun, kasus ini kembali menjadi sorotan, khususnya tentang penanganan tindak pelecehan seksual. Bagi korban, ini tentunya bukan hal yang mudah karena pelecehan seksual bisa akibatkan luka begitu dalam, mulai dari trauma fisik, emosional, hingga psikis. Apa terapi yang tepat yang dibutuhkan para korban pelecehan seksual?

Apa yang disebut dengan pelecehan seksual?

Pelecehan seksual adalah semua bentuk kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan dan berbagai bentuk kontak seksual tanpa persetujuan atau dengan pemaksaan lainnya. Dalam kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami penumpang taksi online Grab ini, sopir dikatakan mencium bibir penumpang. Juga viral di media sosial, ditulis juga bahwa akibat rasa takut dicelakai, penumpang tak mampu melawan.

Hal ini lazim ditemui dalam kasus korban pelecehan seksual, dimana korban berada dalam kondisi tak mampu melawan baik karena kelemahan fisik maupun psikis, maka terjadilah peristiwa tersebut. Sayangnya, tak sedikit masyarakat yang justru menyalahkan korban dalam kondisi seperti ini, karena dianggap tidak melawan sehingga “pantas saja” mendapat pelakuan pelecehan tersebut. Atau menyalahkan hal lain misalnya cara berpakaian korban.

Dampak yang bisa dirasakan korban pelecehan seksual

Selain dampak fisik seperti luka pada tubuh, kerusakan organ, kehamilan, bahkan kematian, pelecehan seksual juga dapat memberikan dampak psikis atau mental yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Menurut penelitian, hingga 94 persen wanita korban pelecehan seksual termasuk perkosaan mengalami gangguan stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Tentu, korban pelecehan seksual tak hanya diisi oleh populasi wanita, pria juga bisa mengalaminya.

Kondisi trauma setelah mengalami pelecehan seksual sangat wajar terjadi karena merupakan respons terhadap rasa takut, perasaan kehilangan kendali, dan perasaan tak berdaya dalam sebuah kondisi yang mendadak dan mengejutkan, termasuk adanya ketakutan akan kehilangan nyawa.

Gejala stres pasca trauma ini di antaranya adalah:

  • Terus kembalinya memori tentang kejadian.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial untuk menghindari hal-hal yang bisa mengingatkan korban akan kejadian kelam yang dialaminya.
  • Perubahan mood, hingga timbul kecemasan, stres, dan depresi.
  • Mudah tersinggung.
  • Menjadi sangat impulsif.

Meski sebagian orang yang mengalami PTSD perlahan bisa pulih dan beraktivitas seperti biasa, tapi bukan berarti kondisi ini tak perlu mendapat perhatian dan penanganan. Tak sedikit dari korban pelecehan seksual yang memendam perasaan trauma, dibiarkan begitu saja, sehingga berdampak pada kehidupannya. Jika korban memiliki pasangan, ini bisa memengaruhi kehidupan intimnya.

1 dari 2 halaman

Menangani korban pelecehan seksual

Jika Anda adalah seorang korban pelecehan seksual atau mengenal seseorang yang mengalami pelecehan seksual, melaporkannya adalah hal pertama yang dianjurkan untuk dilakukan. Sayangnya, ini tidak didukung oleh lingkungan sekitarnya, atau dari orang-orang terdekatnya.

Banyak korban yang merasa bahwa dengan melaporkan kejadian tersebut, justru membuat masyarakat menghakimi bahkan mengucilkannya. Belum lagi adanya pandangan sebelah mata oleh pihak berwajib ketika korban melapor.

Meski demikian, langkah ini patut ditempuh dengan menyertakan pihak berwajib dan tenaga profesional seperti tenaga medis. Jika perlu, libatkan komunitas atau organisasi yang berkaitan dengan tindak pelecehan seksual. Ingat, Anda tidak sendirian.

Kadar stres dan penderitaan pasca trauma dapat dikurangi secara signifikan jika korban mendapat pertolongan lebih dini. Dengan bantuan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater, ada berbagai terapi stres pasca trauma yang dapat dilakukan.

Salah satu contoh adalah dengan terapi kognitif. Pada terapi ini, terapis akan membantu mengubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi serta aktivitas korban.

Selain itu, bisa juga diterapkan terapi manajemen ansietas. Pada terapi ini, terapis akan membantu korban dalam mengatasi PTSD dengan cara seperti:

  • Korban akan belajar untuk mengontrol kekuatan dan kecemasan, serta membantu merelaksasi otot-otot tubuh.
  • Terapi mengatur pernapasan. Terapis akan membantu korban untuk melatih pernapasan dengan perut secara perlahan.
  • Belajar berpikir positif. Terapis membantu korban untuk belajar menghilangkan pikiran negatif dan menggantinya dengan pikiran positif ketika menghadapi hal-hal yang membuat korban stres.
  • Terapis akan membantu korban belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika korban sedang memikirkan hal-hal yang membuatnya stres.
  • Korban akan diajari untuk mengekspresikan harapan, pendapat, dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain.

Terapi lain yang juga bisa dilakukan adalah terapi exposure. Pada terapi ini, terapis akan membantu korban mengatasi situasi yang mengingatkannya pada trauma yang dialami dan ketakutan yang tidak realistis dalam kehidupannya.

Jika ada seseorang yang Anda kenal mengalami pelecehan atau kekerasan seksual, berikan dukungan kepadanya untuk bisa bangkit dan kembali semangat menjalani kehidupannya. Bila perlu, anjurkan dan temani ia berkonsultasi lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater agar bisa dilakukan terapi untuk menangani trauma psikis. Jangan ragu untuk segera mencari pertolongan baik ke tenaga profesional. Ada berbagai pilihan terapi psikis untuk korban pelecehan seksual yang dapat dilakukan. Semakin dini terapi diberikan, akan semakin baik hasilnya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar