Sukses

Hubungan Antara Gawai dan Perilaku Buruk Anak

Alih-alih membantu perkembangan kecerdasan anak, penggunaan gawai justru sering disalahgunakan, sehingga bisa memicu perilaku buruk anak.

Klikdokter.com, Jakarta Zaman sekarang, banyak anak-anak yang sudah pintar mengoperasikan gawai. Berbagai alasan dipakai orang tua dalam memperkenalkan gawai untuk anak. Padahal, di balik manfaatnya, jika penggunaan gawai pada anak tak dikendalikan, ada banyak ancaman buruk yang mengintai. Salah satunya adalah dapat memicu perilaku buruk pada anak. 

Penggunaan gawai memang tidak selalu memberikan dampak buruk. Namun, jika anak menggunakannya secara berlebihan dan tanpa pengawasan orang tua, tentunya ini bisa berdampak buruk terhadap tumbuh kembangnya.

Penggunaan gawai secara tepat memang bisa mendukung perkembangan kecerdasan dan pendidikan anak. Namun, faktanya banyak orang tua yang memanfaatkannya sebagai “jalan pintas”. Misalnya, berbagai fitur dan aplikasi anak yang bisa dengan mudah diunduh dimanfaatkan orang tua untuk menenangkan anak yang rewel.

Bahaya anak yang kecanduan gawai pada masa golden age

Taman bermain yang seharusnya menjadi salah satu lingkungan pendukung tumbuh kembang anak, menjadi tergantikan oleh berbagai aplikasi atau permainan di gawai. Anak menjadi tak lagi tertarik untuk bergerak aktif dan bermain bersama teman-teman sebayanya di taman bermain. Aktivitas yang terus berulang seperti ini sejak dini tentu akan mengganggu tumbuh kembang anak. Apalagi usia di bawah 5 tahun bagi anak merupakan golden age.

Pada masa golden age ini, seluruh aspek perkembangan kecerdasan yaitu kecerdasan emosi, intelektual, dan spiritual mengalami perkembangan yang sangat pesat jika distimulasi dengan baik oleh orang tua. Ini akan menjadi dasar untuk terbentuknya karakter, kepribadian, dan fungsi kognitif (daya berpikir) anak di masa mendatang.

1 dari 2 halaman

Bukti bahwa gawai bisa memicu perilaku buruk anak

Terdapat penelitian pada bagian otak terkait anak yang sering terpapar gawai dan televisi menunjukkan perubahan pada struktur otak anak. Selain itu, seringnya anak memakai gawai bisa memicu timbulnya gangguan perilaku pada anak, seperti:

  1. Gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) dan gangguan mood (mood disorder)

Penggunaan gawai yang tidak teratur dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan mood sejak dini pada anak. Kondisi ini biasanya karena dipicu oleh beragam gim yang dimainkannya dari gawai tersebut.

  1. Peningkatan agresivitas (anak menjadi lebih agresif)

Anak yang berinteraksi dengan gawai lebih dari 1 jam lebih banyak menunjukkan sifat agresif, yang akan terlihat ketika penggunaan gawainya dihentikan atau pada anak balita menunjukkan sikap tantrum.

  1. Mengurangi kepekaan emosi

Anak yang sering terpapar gawai dan melihat unsur kekerasan pada tontonan yang mereka lihat akan mengurangi kepekaan emosi anak.

  1. Menumbuhkan sifat kurang empati kepada orang lain

Anak yang sejak kecil sering menggunakan gawai akan rentan memiliki sifat kurang empati kepada orang lain. Hal ini bisa membuat anak cenderung menjadi antisosial dan terbiasa untuk tidak peduli pada orang lain.

  1. Anak mudah berbohong

Saat anak sudah mulai kecanduan gawai, bukan tak mungkin ia akan berani berbohong agar bisa terus menggunakan gawai setiap saat.

  1. Anak menjadi introvert

Anak yang mengalami ketergantungan gawai akan menganggap bahwa gawai tersebut adalah segalanya baginya. Saat orang memisahkan gawai dari anak, maka akan muncul rasa gelisah dan anak pun akan menjauh dari lingkungan rumah, termasuk orang tuanya. Dari situ, sifat introvert akan perlahan muncul pada diri anak.

Dalam beberapa hal, penggunaan gawai memang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk keperluan komunikasi atau mendukung perkembangan kecerdasan anak. Meski demikian gawai tidak seharusnya digunakan untuk menenangkan anak yang rewel agar orang tua bisa beraktivitas secara leluasa. Jika orang tua memberikan anak akses terhadap gawai, seharusnya diikuti dengan pengawasan ketat demi menjaga tumbuh kembang anak dan melindunginya dari informasi yang tidak pantas untuk anak.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar