Sukses

Menjadi Hoarder atau Penimbun Barang, Bahayakah bagi Kesehatan?

Anda memiliki kebiasaan menimbun barang meski sudah tak terpakai? Jangan-jangan Anda juga termasuk hoarder.

Klikdokter.com, Jakarta Bila Anda tergolong sulit membuang barang yang sebetulnya sudah tak diperlukan atau digunakan, bisa jadi Anda adalah seorang hoarder. Menumpuknya koran atau majalah bekas, serta benda yang sudah tidak berfungsi bisa jadi tanda bahwa Anda memiliki gejala hoarder. Hal ini bisa berpengaruh terhadap kesehatan Anda.

Kebiasaan seorang hoarder menimbun barang ini sebenarnya kerap terjadi karena adanya pemikiran bahwa barang tersebut sewaktu-waktu akan diperlukan, sehingga sayang untuk dibuang. Padahal, tak tahu juga kapan barang tersebut akan digunakan.

Rentan berkonflik dengan orang lain

Apapun alasannya, hoarder alias penimbun barang merupakan suatu gangguan perilaku yang dapat menimbulkan gangguan emosi, fisik dan sosial. Seorang hoarder biasanya akan mengalami konflik dengan orang yang tinggal bersamanya (seperti dengan suami, istri, orang tua atau anak) karena kebiasaannya tersebut.

Orang-orang yang berada di sekitarnya tentu akan merasa tidak nyaman ketika melihat tumpukan kertas ataupun botol plastik di salah satu sudut ruangan. Apalagi, bila tak pernah dibersihkan, tumpukan barang tersebut juga bisa menjadi sarang serangga.

Selain barang-barang yang telah disebutkan di atas, biasanya seorang hoarder senang menimbun kantung plastik, kardus, peralatan atau furnitur rumah tangga, baju, hingga makanan.

Berkaitan dengan hal ini, hoarder juga biasanya berkaitan dengan kebiasaan belanja yang kompulsif, misalnya mudah tergoda diskon di toko, gemar mengumpulkan barang–barang gratis yang diberikan oleh orang lain, atau senang mengumpulkan barang yang menurutnya unik, padahal terlihat biasa bagi orang lain.

1 dari 4 halaman

Gejala yang dimiliki seorang hoarder

Berikut ini adalah tanda-tanda seseorang memiliki gangguan perilaku hoarder. Perhatikan dengan seksama, jangan-jangan Anda melakukan beberapa di antaranya:

  • Merasa sayang untuk membuang barang, meski sudah tak diperlukan atau digunakan.
  • Timbul rasa cemas jika diminta untuk membuang barang–barang yang ditimbunnya.
  • Sulit mengategorikan atau mengorganisir barang.
  • Merasa bangga atau justru malu dengan kebiasaannya menimbun barang.
  • Merasa curiga jika orang lain menyentuh atau hendak membuang barang miliknya.
  • Memiliki pemikiran yang obsesif, yakni takut jika sewaktu–waktu membutuhkan barang tersebut, sehingga lebih memilih untuk menyimpan daripada membuangnya.
  • Mengalami gangguan fungsional, di mana tempat tinggal menjadi tidak nyaman dan terisolasi secara sosial.

Hal ini pada akhirnya menyebabkan hubungan dengan keluarga atau pernikahan menjadi tidak harmonis, gangguan finansial, hingga gangguan kesehatan karena barang yang menumpuk lama bisa menjadi sarang penyakit.

2 dari 4 halaman

Bahaya menimbun barang

Tumpukan barang–barang di tempat tinggal hoarder sudah tentu berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan bagi dirinya dan orang lain yang tinggal bersamanya.

Sebab, tumpukan barang yang tidak terorganisir dan tidak teratur dapat menjadi sarang nyamuk dan berpotensi menyebabkan demam berdarah, menimbulkan risiko penyakit leptospirosis karena mengundang tikus, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kulit seperti skabies, urtikaria dan dermatitis.

Selain membuat lingkungan tempat tinggal menjadi padat dan tidak nyaman untuk ditinggali, tumpukan barang juga dapat membuat orang yang tinggal di rumah tersebut mengalami gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan dan asma.

Tak hanya itu, kebiasaan menimbun barang ternyata juga berpengaruh terhadap sisi psikis orang yang melakukannya. Karena merasa tidak nyaman, orang yang tinggal bersama hoarder akan mengalami stres, sulit mengendalikan emosi, bahkan depresi.

Pada anak-anak, efek dari orang tua yang memiliki kebiasaan menimbun barang akan menyebabkan gangguan sosial. Sebab, anak akan merasa malu mengajak temannya bermain di rumah yang penuh dengan tumpukan barang, layaknya sebuah gudang penyimpanan.

Jika terus dibiarkan, kondisi ini tentu saja dapat mengancam hubungan personal hoarder dengan anak atau orang terdekatnya. Karena sudah pasti orang tersebut merasa tidak nyaman untuk tinggal bersamanya.

3 dari 4 halaman

Hoarder berbeda dengan kolektor

Hoarder atau penimbun barang tidak sama dengan seorang kolektor yang memiliki perasaan bangga atas koleksi yang dimilikinya, merasa senang melihat barang koleksinya dipajang dan senang membicarakannya dengan orang lain.

Seorang kolektor pun lebih terorganisir dalam menyimpan barang koleksinya, serta akan meluangkan waktu dan biaya khusus untuk mengurus koleksi yang dimilikinya. Hal ini sangat berbeda dengan hoarder yang tak memikirkan barang simpanannya dan cenderung merasa tidak nyaman bila barang simpanannya dipertanyakan.

Belum lagi, barang–barang yang ditimbun biasanya juga dibiarkan berantakan dan tidak tertata dengan baik.

Menjadi hoarder alias penimbun barang tak hanya berbahaya bagi kesehatan pelaku, tetapi juga bagi orang lain yang tinggal bersamanya. Jadi, mulailah kurangi kebiasaan buruk ini. Selagi libur, pilih barang yang sudah tak digunakan untuk dibuang. Jika masih layak pakai, Anda dapat memberikannya ke teman yang membutuhkan atau menyumbangkannya.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar