Sukses

Anak Kesulitan Matematika, Mungkin Dyscalculia Penyebabnya

Apakah anak Anda mengalami kesulitan dalam matematika? Bisa jadi penyebabnya adalah dyscalculia.

Klikdokter.com, Jakarta Ketika waktunya bagi rapor anak, nilai matematika anak lagi-lagi menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, sedangkan nilai akademis mata pelajaran lain baik-baik saja. Melihat kondisi ini, banyak orang tua yang bertanya-tanya apa yang menyebabkan kesulitan anak dalam matematika. Apakah anak membenci matematika? Atau tak menyukai guru matematikanya? Memang ada berbagai penyebab yang mendasarinya, tak terkecuali kondisi dyscalculia. Apa ini?

Sebetulnya tak sedikit anak yang menganggap matematika adalah pelajaran favoritnya di sekolah karena dianggap rumit. Faktanya, tidak semua anak mahir dalam berhitung dan mengerjakan soal matematika.

“Predikat sulit yang melekat pada matematika menjadikan sebagian anak cenderung menghindari atau bahkan malas ketika diajak belajar matematika. Sebagai orang tua, sudah seharusnya Anda menyikapinya dengan bijak. Putar otak agar anak menyenangi sekaligus menguasai pelajaran yang penuh angka-angka ini,” kata dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.

Berbagai cara pun ditempuh untuk memperbaiki kemampuan anak dalam matematika. Mulai dari kursus atau mendatangkan guru khusus matematika ke rumah. Namun, jika upaya ini tak kunjung berbuah manis, mungkin Anda patut curiga bahwa anak mengalami dyscalculia.

Mengenal dyscalculia, gangguan berhitung yang misterius

Dyscalculia merupakan sebuah ketidakmampuan belajar menghitung yang dialami anak, kesulitan memahami matematika, dan konsep dasar aritmatika. Hal ini disinyalir terjadi akibat faktor genetika. Meski begitu, penyebab pasti yang mendasari kondisi ini belum diketahui.

Dilansir dari laman WebMD, sebanyak 7 persen siswa sekolah dasar memiliki dyscalculia. Penelitian menunjukkan bahwa dyscalculia sama seperti disleksia (gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, mengeja, dan mengulang kata-kata).

Tak sedikit pakar dan kalangan medis menyebut gangguan berhitung ini sebagai disleksia matematika, meski sebenarnya keduanya berbeda. Pada tahap lanjut, dyscalculia dikaitkan dengan gangguan attention deficit hyperactivity (ADHD), yang mana 60 persen penderitanya juga memiliki dyscalculia.

Anak-anak dengan dyscalculia biasanya mudah kehilangan fokus saat sedang berhitung. Mereka memiliki kemampuan berhitung yang berkembang lebih lambat ketimbang anak-anak biasa, bahkan untuk hal-hal yang mendasar sekalipun.

1 dari 3 halaman

Apa saja gejala dyscalculia?

Anak-anak dengan dyscalculia sering kali “kehilangan jejak” saat berhitung. Mereka mungkin masih mengandalkan jari-jarinya di saat anak-anak lain seusianya sudah tak lagi melakukannya. Mereka juga mungkin tidak mampu secara tepat mengenali dan menyebutkan jumlah dalam objek dalam suatu kelompok kecil (sebuah kemampuan yang dinamakan subitizing), misalnya mampu melihat angka 5 dan 3 pada dadu saat dilempar tanpa menghitungnya.

Tak hanya itu, bahkan pemahaman dasar akan angka juga terganggu. Ini bisa menyulitkan mereka, misalnya menentukan apakah angka 8 lebih besar dari angka 6. Anak-anak dengan dyscalculia juga mungkin memiliki banyak kecemasan terhadap angka. Misalnya, mereka panik saat memikirkan pekerjaan rumah matematika, atau makin panik lagi saat akan ujian matematika.

Biasanya, anak-anak dengan dyscalculia usia sekolah merasa kesulitan dalam:

  • Memperkirakan jarak, waktu, atau apa pun yang berhubungan dengan angka dan penghitungan, misalnya menghitung jarak dari satu tempat ke tempat lain atau mengukur ketinggian tempat.
  • Memahami soal cerita matematika.
  • Mempelajari matematika dasar, seperti penambahan, pembagian, dan perkalian.
  • Mengaitkan angka dengan penulisan katanya, misalnya “1” dengan “satu”.
  • Memahami pecahan.
  • Mengerti grafik atau diagram (konsep visual-spasial).
  • Menghitung uang atau menentukan jumlah kembalian.
  • Mengingat nomor telepon atau kode pos.
  • Menentukan waktu atau membaca jam.

Setiap aktivitas yang berbasis angka atau penghitungan—bahkan di luar sekolah—bisa membuat anak dengan dyscalculia frustasi. Misalnya, seorang anak dengan ketidakmampuan belajar bisa kesal ketika memainkan permainan yang membutuhkan kemampuan berhitung atau adanya penghitungan skor.

2 dari 3 halaman

Cara menangani anak dengan dyscalculia

Jika anak Anda mengalami dyscalculia, ada beberapa hal yang bisa lakukan. Anda bisa berkonsultasi dengan spesialis pembelajaran, psikolog pendidikan, atau neuropsikolog dengan spesialiasi dyscalculia untuk membantu anak memahami matematika, seperti:

  • Merencanakan teknik pembelajaran khusus.
  • Pembelajaran lewat permainan berbasis matematika.
  • Jam belajar yang lebih intens.

Sebagai orang tua, Anda diharapkan bisa membantu anak dalam belajar dan mengerti matematika sekaligus menurunkan rasa cemasnya dengan cara:

  • Biarkan anak menggunakan jemarinya dan kertas saat ia berhitung.
  • Pastikan ia memiliki perlengkapan yang tepat, seperti kalkulator yang mudah dioperasikan atau penghapus.
  • Gunakan buku kotak-kotak (graph paper). Ini membantu menjaga kolom dan angka agar tetap rapi.
  • Mendatangkan guru matematika yang berpengalaman.
  • Menggambar saat anak mencoba memecahkan soal cerita matematika.
  • Gunakan komputer untuk bermain permainan matematika.
  • Beri pujian pada anak yang sudah bekerja keras, bukan dari hasilnya.
  • Bicarakan mengenai ketidakmampuannya dalam belajar matematika dengan anak.
  • Ajari ia cara-cara untuk mengelola rasa cemas.

Jangan langsung patah semangat ketika Anda menemukan bahwa kesulitan dalam matematika yang dialami anak adalah karena kondisi dyscalculia. Dengan metode khusus, dikombinasikan dengan kreativitas pembelajaran yang selalu aktif dan kesabaran penuh, diharapkan perkembangan anak akan optimal seperti anak-anak lainnya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar