Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kenali Gejala Hoarding Disorder, Mungkin Anda Mengalaminya

Kenali Gejala Hoarding Disorder, Mungkin Anda Mengalaminya

Hoarding disorder merupakan gangguan serius yang berhubungan dengan kegemaran seseorang menimbun barang. Anda juga mengalaminya?

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda senang mengumpulkan barang-barang dan merasa kesulitan untuk membuang benda-benda karena alasan tertentu? Jika ya, bisa jadi Anda mengalami hoarding disorder. Gangguan ini berhubungan dengan kebiasaan menimbun barang karena kebutuhan yang dirasakan untuk “menyelamatkan” mereka.

Seseorang dengan gangguan ini mengalami kesulitan untuk menyingkirkan barang-barangnya, bahkan sudah tak lagi terpakai. Satu hal yang menjadi dasar dari gangguan ini adalah akumulasi barang yang menjadi berlebihan, terlepas dari apakah barang itu sebenarnya dibutuhkan atau tidak.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, hoarding disorder sering menciptakan kondisi hidup yang sempit dan sumpek karena rumah terisi penuh dengan tumpukan barang-barang. Bagi orang lain, kondisi rumah yang seperti ini tentu tampak kacau!

Tak hanya lemari penyimpanan dan sudut ruangan saja yang dipenuhi barang, tapi termasuk tempat-tempat seperti wastafel dapur, kompor, tangga, dan tempat-tempat lainnya. Ketika tak ada lagi ruang di dalam rumah, kekacauan ini bisa “menyebar” ke garasi, kendaraan, halaman, atau tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk menumpuk barang.

Hoarding disorder bisa dialami dari kadar yang ringan hingga berat. Dalam beberapa kasus, kebiasaan menimbun barang tidak berdampak pada kehidupan Anda. Sementara dalam kasus lain, “hobi” ini bisa memengaruhi kondisi kesehatan hingga hubungan sosial seseorang.

Seseorang dengan hoarding disorder cenderung tidak melihat gangguan ini sebagai masalah. Inilah yang membuat pengobatan menjadi sulit. Akan tetapi, perawatan intensif bisa membantu mereka yang memiliki gangguan ini, sekaligus memahami bagaimana keyakinan dan perilaku mereka bisa diubah agar hidup mereka lebih aman, menyenangkan, dan “tertata rapi”.

Apa saja gejala hoarding disorder?

Gejala hoarding disorder yang paling terlihat adalah ketika ada seseorang menyimpan atau menimbun sejumlah besar barang, dan pada akhirnya yang tampak adalah kondisi yang berantakan dan kacau. Proses penumpukan ini dilakukan secara bertahap di ruang-ruang dalam rumah, hingga orang tersebut kesulitan untuk membuang barang-barang tersebut. Ini sering muncul selama masa remaja hingga awal masa dewasa.

Ketika orang tersebut bertambah tua, ia biasanya mulai sadar bahwa ada beberapa barang yang tidak dibutuhkan lagi dan mulai bisa membuangnya. Akan tetapi, pada usia paruh baya, gejala sering menjadi berat dan mungkin lebih sulit diobati. Hoarding disorder berangsur-angsur berkembang dari waktu ke waktu dan cenderung menjadi perilaku pribadi.

1 dari 2 halaman

Tanda dan gejala lain yang termasuk hoarding disorder:

Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, di bawah ini adalah tanda dan gejala lain yang juga mengindikasikan seseorang mengalami hoarding disorder.

  • Terlalu banyak membeli barang-barang yang tidak diperlukan atau yang sebenarnya sudah tidak ada ruang lagi untuk menaruhnya.
  • Kesulitan untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilai sebenarnya.
  • Merasa perlu menyimpan barang-barang tertentu dan kesal jika berpikir harus membuangnya.
  • Ruangan di rumah menjadi kacau karena tumpukan barang dan ruangan itu menjadi tidak dapat digunakan.
  • Cenderung memiliki sifat peragu, perfeksionis, penyangkalan, penundaan, dan masalah dengan perencanaan dan pengorganisasian.

Hasil dari penolakan untuk membuang barang-barang yang berlebihan akan menghasilkan:

  • Tumpukan barang yang tidak terorganisir, seperti koran, pakaian, dokumen, buku atau barang-barang bersifat sentimentil.
  • Harta benda yang merumitkan, mengacaukan ruang berjalan, membuat sempit area tempat tinggal, dan membuat ruang tidak dapat digunakan untuk tujuan yang sebenarnya. Contohnya adalah dapur yang tak lagi bisa jadi tempat memasak karena sudah dipenuhi tumpukan barang.
  • Penumpukan makanan atau sampah yang menjadi berlebihan dan tidak sehat.
  • Gangguan yang signifikan untuk menjaga diri Anda dan orang lain tetap aman di rumah Anda.
  • Konflik dengan orang lain yang mencoba mengurangi atau menghilangkan tumpukan barang-barang dari rumah.
  • Kesulitan mengatur barang, bahkan terkadang kehilangan barang-barang penting di dalam kekacauan.

Orang dengan hoarding disorder biasanya menyimpan barang dengan alasan:

  • Percaya barang-barang tersebut unik atau kelak akan dibutuhkan.
  • Barang-barang tersebut memiliki nilai emosional yang penting yang berfungsi sebagai pengingat saat-saat bahagia atau mewakili perasaan tertentu.
  • Merasa lebih aman ketika dikelilingi oleh barang-barang yang mereka simpan.
  • Mereka tidak ingin menyia-nyiakan apa pun.

Perlu diingat, hoarding disorder berbeda dengan kolektor. Orang-orang yang memiliki koleksi, seperti prangko atau miniatur mobil, mereka dengan sengaja memburu barang-barang tertentu, menyortirnya, lalu dengan hati-hati menampilkan koleksi mereka. Meski jumlah koleksinya bisa banyak sekali, tapi tidak disimpan secara berantakan.

Selain itu, ada juga orang dengan hoarding disorder yang berhubungan dengan binatang. Dalam kasus ini, seseorang bisa mengumpulkan lusinan, bahkan ratusan hewan peliharaan. Hewan dapat dikurung di dalam atau di luar rumah. Karena cenderung berjumlah banyak, hewan-hewan ini sering tidak dirawat dengan benar. Kesehatan dan keselamatan orang dan hewan pun sama-sama berisiko.

Hingga kini, masih tidak jelas apa yang menjadi penyebab hoarding disorder. Faktor genetik, fungsi otak, dan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan sedang dipelajari sebagai kemungkinan penyebabnya. Meski tampaknya tidak serius, tapi sebetulnya orang dengan hoarding disorder bisa terancam hidupnya.

Walaupun Anda bukanlah seorang penimbun barang atau hoarder, tapi jika ada seseorang yang menunjukkan gejala hoarding disorder, jangan dibiarkan. Jika belum akut, bantulah dengan mengatur dan mengorganisir barang-barang mereka, membantu membuang atau menyumbangkan barang-barang, misalnya barang-barang yang tak pernah dipakai selama 10 tahun terakhir. Namun, bila kondisinya sudah parah, pertimbangkan bantuan dari tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater untuk mengenyahkan gangguan tersebut.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar